tuhan melindungi setiap langkah mereka yang turun ke jalan hari ini. terima kasih sudah memperjuangkan kepentingan semua orang. doa baik selalu. ✊🇮🇩 tinju ke atas.
Program-program pemerintah ini, tanpa pengawasan dan meritokrasi yang memadai hanya menciptakan segregasi dan konflik-konflik horizontal baru. “Londo ireng” zaman milenium. Apalagi mentalitasnya masih begini:
Ini kerja di SPPG udah berasa aparat kali ya. Arogannya mirip dengan isilop bocil yang suka foto sambil flexing pegang senjata. Sakit men, kita sama-sama rakyat…
Guys kencengin ikat pinggang. Gw sama suami bener2 memutuskan di rumah aja pas liburan nanti. Meskipun ada rejeki lebih baik disimpan or dibagi ke orang tua dan adik2.
Tough time ahead. Tapi semoga semua ini bisa kita lewati sama-sama.
Jangan lupa momen2 ini guys pas pemilu 2029 nanti. Beneran deh, gw pun mengingatkan ke diri gw sendiri. Selalu edukasi diri.
Polesan kamera itu menyakitkan. Uda stop justifikasi2 orang baik, politik itu harus damai, pilih pemimpin yg punya pengalaman. STOP.
Next time, gw cuma mau milih yg mendorong perubahan sistem. Ga ada lagi ngomong2in program kerja. Capek. Banyak banget program kerja, tapi ujung2nya mental juga kondisi ekonomi kita.
Kalo institusi bener2 jalan, at least kita ga ngerasa clueless kaya gini. Kita ga harus saling blaming each other. Kita ga harus dipaksa mikir setiap saat untuk issue yg seharusnya tugas yg menjalankan pemerintah.
Kuat2 semua. Apalagi sandwich generation, I feel you. 🫶🏼
Kalo kamu pinter kenapa kamu ga kaya?
Kita seringkali ketemu sama orang-orang dengan kecerdasan jauh di atas rata-rata, tapi secara finansial, mereka harusnya bisa lebih kaya lagi.
Di Swedia, pernah dilakukan penelitian terhadap 59.000 pria, hasilnya menunjukkan korelasi antara kecerdasan dan pendapatan sangat kuat di level bawah, namun mendatar setelah penghasilan mencapai sekitar €60.000 (Rp1,2 M) per tahun. Menariknya, mereka yang berada di kelompok penghasilan 1% teratas justru memiliki kecerdasan yang sedikit lebih rendah (bukan bodoh) dibandingkan mereka yang memiliki kekayaan tepat di bawahnya. Ini membuktikan bahwa di puncak piramida, faktor yang mempengaruhi kekayaan bergeser dari IQ ke faktor eksternal seperti koneksi atau keberuntungan.
Bahkan, sering terjadi paradoks orang2 terpintar biasanya masuk ke profesi aman. Karena gaji mereka sudah cukup besar, mereka justru kurang terinsentif untuk mengambil risiko besar seperti membangun bisnis sendiri. Orang2 dengan gaji rendah memiliki insentif lebih tinggi untuk meninggalkan pekerjaan dan mulai bisnis, padahal punya bisnis sendiri adalah cara satu-satunya untuk mencapai tingkat kekayaan 1% teratas.
Kita sering mengagumi orang super kaya seolah-olah mereka sangat pintar, padahal simulasi matematis membuktikan kalau keberuntungan memegang peran dominan dalam kekayaan ekstrim. Seringkali, orang bertalenta rata2 dengan keberuntungan sangat bagus bisa mengalahkan orang jenius yang kurang beruntung. Namun, keberuntungan ini ga datang dengan tiba2 ke semua orang, keberuntungan adalah pertemuan antara momentum dan persiapan. Di sinilah literasi keuangan masuk, tidak perlu menjadi jenius, tapi perlu paham cara kerja uang agar saat peluang terbuka, kita punya peluru untuk mengeksekusinya.
Semakin tinggi tingkat keahlian seseorang, semakin besar kecenderungannya terkena imposter syndrome atau perfeksionisme. Para ahli sering menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menganalisis risiko hingga akhirnya tidak bertindak sama sekali. Sebaliknya, orang yang kurang kompeten namun punya kepercayaan diri tinggi seringkali berani mengambil langkah spekulatif yang, kalau beruntung, membuat mereka kaya mendadak. Inilah mengapa terkadang pemula bisa lebih sukses dari para ahli.
Strategi terbaik di saat ini bukanlah jadi ahli di satu bidang aja, keahlian yang kita miliki digabungkan dengan beberapa keahlian lain yang unik (skill stacking). Teori ini udah dipraktekkan sama Charlie Munger, partner Warren Buffet di Berkshire.
Pada akhirnya, jadi kaya berkaitan erat dengan keberanian untuk terus mempelajari hal baru di luar zona nyaman. IQ diimbangi dengan keberanian untuk terus berpikir kritis, mengambil risiko yang terukur, dan tetap berusaha di tengah ketidakpastian.
-Lu miskin karena lu g*bl*k ❌
-Lu miskin karena belum cukup belajar hal baru, belum ngambil risiko, belum nemu kesempatan ✅