(jadi yang mengajak awalnya si Bima) jarene, onok wedon ayu mlaku mrunu, pas di tut'i, ra onok tibak ne (katanya ada perempuan cantik, pas di ikuti ternyata gak ada)
ia berdiri di depan kendi, bajunya sudah tertanggal, meraih air pertama yang membasuh badanya, Widya merasakan dingin air itu membilas badanya.
sunyi, sepi, Nur tidak bersuara di luar bilik, memberikan sensasi kesendirian yang membuat bulukuduk merinding.
Bengkel yang ternyata adalah teman dekatnya Dimas sudah perlahan aku lalui, apalagi siang ini banyak sekali orang yang sedang berkumpul di bengkel itu, mungkin karena ada acara besar nanti malam.
“Benar-benar mewah…” ucapku ketika pertama kali melihat lapangan sepakbola
wajah yang mungkin tidak akan berani lagi aku lihat untuk kedua kalinya.
“Biarkan Ang! Lepaskan… tidak akan bisa kemana-mana tinggal arwahnya saja yang belum datang” Ucap Ki Dalang.
Ang, kakek tua kusut itu lalu perlahan menuntun Nenek tua dan perempuan yang
suara-suara mereka terdengar sangat marah dan membenci bu Nuri. tapi, mbah Gimah yg duduk diatas tubuhnya tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk rambutnya.