Susah Hu, kalau prinsipnya masih “cacing-cacing naga-naga”.
Baru cuan beberapa kali mulai percaya semua analisa pasti benar. Padahal market itu cepat banget ngajarin rendah hati ke orang yang terlalu percaya diri.
Kadang bukan thesisnya yang dipertahankan, tapi egonya. Karena terlalu ingin terlihat benar, akhirnya lupa tujuan awal masuk market itu buat cari uang, bukan cari validasi. Makanya banyak orang lebih rela nyangkut puluhan persen daripada mengakui satu kalimat sederhana: “Kayaknya gw salah”
Tapi ya beda cerita kalau memang dari awal lu udah deep dive. Lu ngerti bisnisnya, ngerti valuasinya, ngerti risknya, dan beli di harga yang menurut lu genuinely undervalued. Kalau memang itu prinsip dan framework yang lu pegang, then go ahead. Sometimes a thesis just needs more time to play out.
Karena market juga sering overreact. Ada bisnis bagus yang dihajar sentiment, ada saham undervalued yang tidur lama sebelum akhirnya dihargai sesuai nilainya. Tidak semua merah berarti thesis gagal, sama seperti tidak semua hijau berarti kita jenius.
Yang penting, you know what you’re doing. Jangan beli cuma karena takut ketinggalan. Jangan hold cuma karena gengsi. Dan jangan memaksakan orang lain ikut keyakinan yang bahkan belum tentu cocok dengan timeline hidup mereka.
Ada orang yang nyaman averaging down bertahun-tahun karena cashflow dan mentalnya kuat. Ada yang memang butuh liquidity dalam waktu dekat. Ada yang main cepat, ada yang main panjang. Semua valid, selama sadar risk masing-masing.
Conviction itu penting. Tapi humility juga penting. Karena di market, kadang kita memang benar… kadang kita cuma belum salah aja.
Izin menambahkan sedikit 🙏
Banyak yang sekarang terlalu fokus ke “bentuk pola”, sampai lupa inti sebenarnya dari VCP.
Sedikit melengkung → dibilang VCP.
Bentuk mangkuk → langsung dianggap setup ala Minervini.
Padahal VCP itu bukan soal gambar.
VCP = Volatility Contraction Pattern.
Intinya adalah:
- range harga makin menyempit
- volatilitas makin mengecil
- volume makin turun
- supply makin tipis
lalu terjadi expansion saat demand masuk
Jadi yang dilihat bukan sekadar “chart cantik”, tapi proses kontraksinya.
Dan menurut saya, ini juga berlaku untuk banyak pendekatan lain di market.
Tidak semua:
- bid offer
- tape reading
- breakout
- support resistance
- moving average
- Wyckoff
- Smart Money Concept
atau indikator teknikal lainnya…bisa diterapkan mentah di semua saham.
Karena tiap saham punya karakter berbeda:
- likuiditas
- market cap
- fase siklus
- volatilitas
- sampai gaya pergerakan bandar
Big caps beda.
Second liner beda.
Saham gorengan beda lagi.
Makanya kadang ada yang bilang: “bid tebal = akumulasi”
Padahal bisa saja layering.
Atau: “breakout valid”
Padahal volume tidak mendukung.
Atau: “VCP cantik”
Padahal distribusi belum selesai dan volatilitas masih liar.
Teknikal itu soal konteks.
Bukan sekadar template.
Yang sulit di market bukan menghafal pola.
Tapi memahami:
- kapan setup itu valid
- cocok dipakai di saham seperti apa
- efektif di fase market yang mana
- dan siapa "pelaku" dominannya
Semakin lama di market, biasanya orang semakin sadar:
Setup bagus ≠ probabilitas tinggi.
Karena kualitas setup juga dipengaruhi:
- liquidity
- sentiment
- momentum sektor
- kondisi market dan psikologi pelaku pasar
Makanya trader yang sudah matang biasanya lebih fleksibel.
Tidak terlalu fanatik pada satu metode.
Market itu dinamis, kalau semua pola selalu berhasil, semua orang pasti sudah kaya hanya dari screenshot chart 😄
#salamsusahnyaham
Hal utama yang ditargetkan media adalah ketersampaian informasi + atensi dari publik. Atensi dari publik ini yang dimainkan adalah aspek atau sisi emosi pembacanya. Nah simplenya hal tersebut beririsan dengan penjelasan ini:
https://t.co/jJUfjbMdVw
Tipe media
Kompor
Ketika buruk semua yang buruk dikeluarkan
Ketika bagus semua yang bagus diberitakan
Awal 2025 semua maki2 Danantara
Pertengahan 2025 semua cuan dari Danantara play
Oktober-Desember bullish, semua senyum liat klakuan Purbaya dan media cheering for him
Februari-Mei bearish, semua eneg liat klakuan Purbaya dan media bashing dia
Media tau gimana caranya farming engagement makanya akan selalu goreng sampai kriuk dan krispi. Menu favorit masyarakat.
This is why I am so bullish on commodities.
For decades, countries held US Treasuries and trusted the US Navy to keep global trade moving.
That model is breaking.
Drone warfare means trade routes can no longer be guaranteed everywhere. And if ships cannot move, financial reserves are not enough.
You cannot grow wheat with Treasuries. You cannot fuel cars with Treasuries.
Every country now needs real inventories again: oil, refined products, fertilizer and critical commodities.
Lalu impactnya kemana ?
Dampak dari naiknya jagung -> naiknya harga pakan ternak
Dampak dari naiknya Gandum -> naiknya harga bahan baku roti
Dampak dari naiknya Kedelai -> naiknya harga tahu dan tempe
Diatas hanya contoh sederhana, jika dibedah akan banyak sekali turunannya
Hubungan diantara pergerakan harga minyak terhadap komoditas pangan - A Macro Insight
Pada masa-masa sebelumnya, terlihat ada Lagging antara kenaikan harga minyak dan harga jaggung (kontrak jagung US). Berdasarkan data, Lag tersebut terjadi diantara ~2 bulan hingga ~7.5 bulan.
Sebetulnya yang terdampak tidak hanya jagung, namun juga berbagai komoditas pertanian lainnya juga turut terdampak kenaikan harganya. Sebagai contoh disini adalah Gandum dan Kedelai.
Note: Selain dari tiga komoditas pangan ini juga bisa turut terdampak. Tinggal dicari datanya