Lucu ya, kalau diresapi lagi, ternyata selama ini gue bener-bener sendirian. Gue pikir lingkaran pertemanan gue luas, tempat mengadu gue banyak, dan nama gue cukup diingat. Tapi itu cuma ilusi. Gue cuma kenal banyak orang, bukan punya temen yang bener-bener tempat pulang. Sering banget gue ngerasa deket sama banyak jiwa, saling tukar cerita, tertawa sampai larut, tapi di ujung hari, saat riuh itu reda, gue sadar nggak ada satu pun dari mereka yang sudi jadiin gue prioritas. Not a single person would choose me first. Gue cuma ada saat mereka butuh penengah, pendengar, atau sekadar pengisi kekosongan. Begitu mereka selesai, gue kembali jadi sosok yang terlewatkan. Ternyata emang dari dulu gue tuh nggak pernah penting buat siapa pun wkwk, cuma gue aja yang ke-PDean ngerasa dianggap.
Aku dapat info A1, Deli Indonesia bakal keluarin produk alat tulis dan merchandise kolaborasi dengan Haikyuu!!
Harusnya udah bisa dibeli mulai bulan depan, ya~
Gue baru sadar nih…
Orang yang suka baca buku atau artikel, ngetiknya beda. Jarang banget pakai singkatan aneh-aneh ejaannya lengkap, spasi rapi, tanda bacanya beres.
Kayak ada kepuasan tersendiri buat mereka kalau tulisan kelihatan bersih. Bukan soal pamer pintar tapi lebih ke kebiasaan otak yang udah terbiasa sama kalimat yang utuh dan enak dibaca
Jadi kalau kamu nemu orang yang chat-nya selalu rapi meski cuma di wa kemungkinan besar dia hobi baca, bener nggak sih?
My general rule for feeling mentally well is understanding that the more I judge others negatively, the more I anticipate negative judgement from others. Practicing kindness and leniency and forgiveness has no guarantee of reciprocation, but it puts you in a better state of mind.
Dari sisi kemanusiaan, aksi kayak gitu jelas jauh di bawah memanusiakan manusia. Siapa tahu dengan berubah seperti itu, itu satu-satunya cara dia bertahan hidup. Siapa tahu ada keadaan yang memaksa dan 'siapa tahu' lainnya.