i swear to god, gue ga akan pernah maafin siapapun yang bikin indonesia jadi kayak sekarang, termasuk kalian yang masih sibuk belain pemerintah, paid or unpaid. if justice never finds you in this life, i'll ask for it in the afterlife. i'll remember every bit of it
Yang ini nggak perlu bikin podkes atau bikin konten sok-sok feminisme pemberdayaan atau mindfulness -stoic-stoic an. Ini NYATA dan KONKRIT Berdaya dan Real Women. Hang in there … hang in there girls👌🏾👌🏾🦾
Saya tidak punya kepentingan membela Anies (saya 03), tapi konteksnya memang berbeda.
Anies adalah aktor politik.
Bertemu, ngobrol, bahkan berfoto dengan lawan politik masih masuk dalam fungsi dan bahasa politik.
Publik sudah membaca dia sebagai orang yang bermain di arena itu.
Sebaliknya, Pancatera membawa posisi editorial dan identitas moral tertentu.
Di saat brand yang dibangun dari kritik sosial, independensi, dan keberpihakan pada isu tertentu, kedekatan simbolik dengan kekuasaan otomatis dibaca dengan standar berbeda.
Yang dipertaruhkan itu tidak hanya “boleh foto dengan siapa” saja, tapi konsistensi antara positioning yang dijual ke audiens dengan signalling yang ditampilkan ke publik.
Kalau kita membandingkan keduanya hanya dari tindakan “sama-sama foto”, maka kita sudah mengabaikan variabel paling penting:
siapa aktornya, dalam kapasitas apa dia hadir, dan ekspektasi apa yang selama ini dia bangun kepada publik.
Demikian.
afirmasi positif :
aku sedang menuju versi terbaik diriku. aku hebat, aku kuat, aku pantas dicintai. aku dikelilingi kebahagiaan dan aku pantas mendapatkan segala hal baik yang sedang menujuku.
tapi ya.... gatau kenapa ya... gua yakin bgt gue bakal sukses, entah di umur berapa… gue yakin gue bisa kerja di gedung tinggi terus bisa business trip luar negeri.. itu sugesti aja atau gimana ya? kek seyakin itu gue bakal sukses