-a thread-
@wordsmantra
“SIGAR BENCAH”
Cerita ini saya dapat dari seorang warga yang tinggal tidak jauh dari tanjakan Sigar Bencah, Semarang.
Awalnya saya mengira ini hanya kisah kecelakaan biasa.
Sampai ia menyebut satu nama…
Mbah Jalak.
@bacahorror#bacahorror
Klip Berita TV Lokal, 24 Februari 2025:
“Satu-satunya korban selamat tragedi Rusun Cendana, Arini Darsito, kini dirawat di rumah sakit jiwa. Polisi menemukan fakta mengejutkan: ayah Arini dulunya pemimpin sekte pemujaan iblis di unit 303. Ia diduga membuka ‘pintu kutukan’ demi kekayaan instan, namun berakhir bunuh diri setelah gagal memenuhi tumbal berikutnya.”
—
Kutipan Psikiater RSJ:
“Ia terus menggumam: ‘Ayahmu bawa lilin ke tempat basah.’ Kami yakin itu petunjuk tentang ritual yang membuka kembali segel kutukan di unit 313.”
—
Catatan Polisi:
“Keluarga itu tak pernah tahu… mereka adalah bagian dari tumbal yang diwariskan.”
SELESAI.
-thread-
@wordsmantra
“UNIT 313”
Pernahkah kamu tinggal di tempat yang membuatmu merasa… sedang diawasi?
Bukan karena ada kamera.
Bukan karena ada orang.
Tapi karena setiap malam, ada sesuatu yang seolah menunggu di balik dinding, sabar hingga seseorang melakukan satu kesalahan kecil.
Dan ketika kesalahan itu akhirnya terjadi…
Tak ada lagi yang bisa kembali seperti semula.
@IDN_Horor@bacahorror #bacahorror
Beberapa minggu kemudian, Arini ditemukan petugas sosial, berjalan telanjang kaki di jalan tol, mulutnya komat-kamit menyebut dua kalimat yang tak dimengerti orang-orang.
Ia dibawa ke rumah sakit jiwa, tempat ia menggambar berulang kali simbol yang sama: pintu tertutup, lilin menyala, dan lantai yang menangis darah.
Dokter menuliskan diagnosa: psikosis pasca trauma.
Namun setiap malam, perawat selalu mendapati satu hal yang sama di kamar Arini. Telinganya… selalu ia tutup dengan kapas, seperti ingin membungkam suara dari luar.
Dan di dinding kamar itu, dengan darah menstruasi yang ia gunakan sebagai tinta, Arini menulis satu kalimat berulang-ulang:
“Ayahmu bawa lilin ke tempat basah.”
Dan begitu semuanya mati, kecuali Wisnu yang tetap hidup, para warga desa kembali ke tempat mereka semula, seolah tak terjadi apa-apa.
Wisnu, yang sebelumnya tampak seperti orang yang tak terpengaruh, kini bisa merasakan bagaimana kekosongan menyelimutinya.
Tidak ada lagi kegembiraan, tidak ada lagi rasa kemenangan—hanya ada perasaan hampa yang memenuhinya.
Ia mengangkat wajahnya, menatap langit malam yang gelap, dan merasakan bagaimana kesepian menyelimutinya. Di dalam dirinya, ada rasa kekosongan yang tak bisa diisi, meskipun ia selamat dari ritual tersebut.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang pasti: ia akan menjadi kepala desa berikutnya, meneruskan takdir yang tak bisa dihentikan. Takdir yang telah dipilihnya sendiri, meski dengan harga yang sangat mahal.
Desa ini akan terus bertahan, menunggu 49 tahun lagi untuk ritual selanjutnya, sementara Wisnu, yang tak bisa mati, akan mengabdi untuk mengawasi semuanya.
SELESAI.
@wordsmantra
“RITUAL KKN”
Kalau suatu desa melarang mahasiswa KKN pulang sebelum hari ke-40…
Apa kamu akan menganggapnya tradisi?
Atau mulai curiga… kalau sebenarnya kalian bukan tamu.
Melainkan persembahan.
@IDN_Horor@bacahorror#bacahorror
Di tengah kepanikan yang melanda, Malik berteriak memanggil Wisnu, berharap ia akan menyadari bahwa mereka tidak bersalah. Namun, Wisnu hanya berdiri diam, tidak menunjukkan emosi apa pun.
“Jangan melawan,” suara Pak Joyo terdengar berat, penuh ancaman. “Ini sudah takdir kalian.”
Tangan Malik ditarik oleh dua orang warga yang sangat kuat, dan dia merasa tubuhnya semakin lemah.
Sesaat sebelum pisau itu menghujamkan dirinya, dia menatap Wisnu sekali lagi, berharap dia akan berubah, berharap ada sedikit harapan. Namun, Wisnu hanya berdiri, tak bergerak, seolah menerima nasib yang tak bisa ditolak.
Penyembelihan dimulai, dan satu demi satu, mereka dijatuhkan ke tanah dalam keheningan yang mencekam.
Bara yang terakhir kali berteriak, mencoba melawan meski sudah terlambat. Pisau besar itu menembus tubuh mereka dengan cepat. Darah mengalir, memercik ke mana-mana, membasahi tanah desa yang kering.
Mereka, yang seharusnya memiliki masa depan cerah, akhirnya harus mengakhiri hidup mereka di tempat yang jauh dari peradaban, menjadi tumbal bagi ritual yang telah berlangsung selama berabad-abad.