Secara teori, dana MBG bukan uang baru, melainkan hasil re-alokasi belanja rumah tangga. Daya beli yang sebelumnya beredar di ekonomi mikro dipindahkan ke skema terpusat. Uangnya memang tidak hilang, tetapi pola sirkulasinya berubah.
Mengapa demikian?
Di Indonesia terdapat sekitar 149 ribu sekolah dasar. Artinya, ada 149 ribu simpul ekonomi lokal yang berputar setiap hari. Di sekitarnya hidup ibu kantin, pedagang kecil, pemasok bahan, hingga pekerja informal yang bergantung pada belanja harian siswa dan guru.
Ketika MBG diberlakukan, arus belanja ini dialihkan dan ripple effect pun mulai terasa.
Omzet pedagang sekolah menurun, permintaan ke pemasok lokal melemah, dan arus kas harian semakin tertekan.
Daya beli keluarga ikut tergerus, ketergantungan pada utang harian meningkat, dan pada titik tertentu muncul kelompok rentan baru dari pelaku ekonomi informal yang sebelumnya masih bisa bertahan dari perputaran harian.
Pulang kampung kali ini kerasa ga nikmat dan ga hikmat.
Sebagian besar keluarga memandang aku dan istri sebatas sebagai ATM berjalan aja. Minta renovasi, minta rumahnya dibeli, minta beliin ini itu, minta pinjaman, dll.
Tapi gaada yg nanyain kabarku di perantauan kayak gimana!
ternyata bener ya, ada beberapa anak yang terlihat mampu melakukan banyak hal sendirian, bukan karena mau, tapi karena sejak kecil terbiasa tanpa dukungan dan pertolongan.