Hi all. This article has been published. :) The article responds to the claim of 'digital authoritarianism', taking Kp. Pulo and Benoa Bay reclamation as two exemplary cases.
Link below. Let me know if you need help with the access!
https://t.co/zI2Jb4XwY4
@allandbagus@IndoPopBase bukannya cukup banyak aktivis muda di masanya yang terpukau sama Suharto karena kelelahan dengan Sukarno. kalo gak salah Arief Budiman pun menyambut baik Suharto pas baru naik.
Jangan lupa Indonesia jadi episentrum Covid-19 dgn jumlah kasus melebihi Cina; dan banyak statement absurd kayak "Covid bisa disembuhkan dgn berdoa" atau "Covid mati di negara tropis". Jadi ini bukan soal siapa presidennya; masalahnya lebih struktural.
https://t.co/rgY4ucjWm9
Wacana pembatasan game online atau gim daring perlu dicermati dengan hati-hati. Jika tidak, regulasi ini hanya akan dilandasi kepanikan moral dan cara pandang yang menggurui. Selama ini, percakapan publik terpaku pada aspek permukaan, yaitu apakah suatu gim mengandung kekerasan, senjata, atau darah. Padahal bermain gim daring adalah sebuah tindakan sosial. Artinya, ia dibentuk oleh praktik bermain gim dan ekosistem yang tumbuh di luar gim itu sendiri.
Penelitian ilmiah sejauh ini tidak menemukan konsensus bahwa gim memicu kekerasan. Literatur tentang kekerasan menunjukkan bahwa tindakan agresif harus dipupuk dalam rentang waktu panjang. Salah satu studi paling komprehensif dari Massey University (Drummond et al, 2020) menganalisis 28 riset longitudinal tentang dampak gim bermuatan kekerasan, seperti game action dan shooter, mencakup lebih dari 21.000 anak dan riset dari 2008 hingga 2019. Temuannya jelas, yaitu tidak ada hubungan sebab-akibat antara gim kekerasan dan peningkatan kekerasan anak.
Studi lebih baru (Lacko et al, 2024) mengonfirmasi hal yang sama. Hasil risetnya menunjukkan bahwa paparan terhadap gim bermuatan kekerasan tidak mengurangi empati maupun perilaku prososial anak.
"Salah Kaprah Radikalisasi lewat Gim Daring"
Opini 20 November 2025
Baca di sini https://t.co/TLar6s3q8M
Ditulis oleh Pradipa P Rasidi
Antropolog Digital, Project Officer Technology and Violence Program, Monash University Indonesia
#Opini #AdadiKompas
Tulisan terbaru merespons wacana pemblokiran PUBG dkk pasca-ledakan di SMAN 72. Ditulis agak terburu2, mungkin ada masukan dari gamer.
https://t.co/wEb5k4PGVo
@bodyswapism @MorphoMenelausX Tahun 2025 nggak ada org yg serius pake istilah "soft science" sih kecuali orang yg bkn dididik di social science. Ini udh dibahas Weber dr awal abad 20 bahkan.
Kalo lo memang lulusan social science ambil kelasnya lagi deh. Bego jgn dipamerin.
@bodyswapism @MorphoMenelausX Bukan biar sejajar, tapi nunjukin kalo masyarakat pun bisa dikaji scr ilmiah kyk ilmu alam. Itu abad 19, positivisme. Seabad lebih berkembang post-postivism, interpretivism, mixed methods, dll.
Tolong kalo bacanya gak tuntas gak usah pamer, nilai A lo jd keliatan hasil joki.
@MorphoMenelausX Kalo gak pernah ambil atau nyimak kelas metode penelitian ya wajar ngira social science itu "ngebullshit" lol. Bikin kuesioner aja yg lolos metpen sm nggak beda bgt.
Ada alasannya kenapa ada "science" di social science; kalo cm ngerti "hum"nya tolong lah gak usah bawa2 "soshum"
@MorphoMenelausX Ini komentar khas anak FIB UI yang gak pernah diajarin (atau gak pernah nyimak) materi di kelas metode penelitian. Ya wajar. Nggak ngerti cara neliti sih.