Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
Ternyata tidak hanya sistem klasifikasinya yg berantakan, proteksi keamanan datanya juga ternyata tidak ada.
Klo kyk gini, gameplay dan konten bakal bocor semua bahkan sebelum reveal announcement gamenya.
Negara open source memang mantab!
@kemkomdigi@kurawa Belum resmi kok udah diterapin ke steam, ga kompeten ga usah ikut-ikutan bikin rating deh, makin kelihatan bodohnya kementerian 1 ini
Lewat Indonesia Game Rating System, Komdigi ngeblokir game-game yang katanya gak fit menurut mereka. Kayak GTA, Yakuza sama The Witcher
Dulu aja ada beberapa artis yang endorse judol dengan nama “game online” gak diapa apain itu “game online”nya.
Apakah GTA, Yakuza sama The Witcher harus ada in-game-judolnya dulu biar gak diblokir?
Tolong ya @RockstarGames@SEGA sama @CDPROJEKTRED pertimbangkan
A lot of young men have stopped approaching women altogether. Not because they don’t want to date. Not because they lack interest. Because they’re scared of getting it wrong. https://t.co/swpFY7HErm