Katolik ke Katolik:
Kalian yang datang Misa pakai kaos, itu benar-benar nggak punya kemeja buat dipakai ke gereja, atau memang malas pakai kemeja?
Bukan soal mahal atau mewah, tetapi soal sikap hormat dan persiapan saat mengikuti Perayaan Ekaristi.
AIR MATA IBU
Hari ini saya memimpin misa untuk paguyuban orang tua terpanggil separoki. Orang tua mereka yang jadi Romo, bruder, suster. Tidak banyak yang hadir. Terlihat beberapa bapak Ibu yang sudah sepuh.
“Sekalipun, mereka jadi Romo, suster, bruder, di hadapan bapak-Ibu, mereka tetap anak… ,” saya awali kotbah saya.
Lalu saya menambahkan: “Dulu sewaktu saya masih frater diakon, di Solo, tiap habis misa, ada seorang ibu yang tiap salaman dengan saya pasti lama sekali. Tangan saya tidak dilepaskannya. Lalu dia menangis. Dia ingat anaknya yang jadi Romo dan sudah meninggal… .”
Belum sempat saya selesaikan kalimat saya. Seorang Ibu yg duduk paling depan sesunggukan. Berulang-ulang ia seka air matanya. Sial. Saya ikut terbawa suasana. Saya tak mampu melanjutkan homili. Mata saya basah. Siapa yang tak ikut menangis melihat ibu yang sudah renta mencucurkan air mata.
Selesai misa, ibu itu kutemui. “Romo, saya seperti ibu itu. Anak saya mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan. Tapi, kini ia telah di surga. Dia masih muda, sangat muda. Tapi kanker kelenjar bening telah merenggut nyawanya…” Dia kembali menangis. Seorang Ibu lain mempuk-puk dan memegangi tangan ibu itu.
“Saya stres pas anak saya meninggal. Tiap pagi saya naik bis menyuapi cucu saya. Naik bis 2 jam, tak pernah turun. Hanya pelarian dari kesedihan…”
Saya terbata-bata menguatkan ibu itu. Saya naik ke pastoran dengan hati berkecamuk. Seorang Ibu, sudah renta, menangisi anaknya yang mempersembahkan diri pada Tuhan tetapi dipanggil Tuhan duluan. Air mata ibu. Air mata cinta. (MoZu)