📣 RAAAAAID ON !
Follow all the steps below to enter the giveaway for 30 Early Access Keys to the game:
1⃣Follow @eldoria_world and @solana
2⃣Like + Retweet
3⃣Tag 3 friends
4⃣Drop your Solana wallet address
5⃣Join our Discord server: https://t.co/c6D4GqD64K
Joining the Discord server is mandatory and essential to ensure clear and effective communication with all participants.
🗓️First Beta Launch Date: June 27, 2026, at 15:00 UTC.
END IN: 6 hours
#solana #Web3
Welcome to PokéFight,
The first-ever Pokémon-themed play-to-earn multiplayer game where your card collection actually pays.
Join the open world, catch Pokéballs, fight Pokémons, and wager your supply in real-time online 1v1 battles.
https://t.co/BKaa0uTFAY
Tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan realitas lapangan seperti jadi paradoks, ditambah birokrasi yg mematikan nalar kritis dan nilai ijazah yg jadi komoditas utama. Hmm.
Semua hafal kalimatnya. Tapi hampir tidak ada yang benar-benar menjalankannya.
Ki Hajar Dewantara tidak pernah bilang tugas guru adalah mengajar. Ia bilang tugas guru adalah menuntun, bukan menentukan arah hidup anak.
Sistem pendidikan hari ini membesarkan anak dengan cara yang bertolak belakang dengan yang diajarkan Ki Hajar. Anak dicetak untuk patuh, bukan untuk merdeka. Nilai rapor menentukan masa depan, bukan karakter dan budi pekerti.
Padahal dalam filsafat pendidikannya yang diulas tuntas oleh Ahada Ramadhana, Ki Hajar menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah usaha menuntun kekuatan kodrat anak agar tumbuh sesuai dengan potensinya sendiri, bukan dicetak sesuai keinginan institusi.
Ing ngarso sung tulodo. Ing madya mangun karso. Tut wuri handayani. Tiga kalimat itu bukan sekadar slogan di logo Kemendikbud yang sudah lama kita lupakan maknanya.
Di depan, guru memberi teladan. Di tengah, guru membangkitkan semangat. Di belakang, guru mendorong tanpa memaksa. Ini bukan teori kepemimpinan biasa, ini adalah filsafat tentang bagaimana manusia seharusnya mendampingi manusia lain untuk tumbuh.
Ki Hajar juga merumuskan konsep ngerti, ngroso, nglakoni, yaitu bahwa anak harus memahami dengan akalnya, merasakan dengan hatinya, dan menjalankan dengan tindakannya. Pendidikan yang hanya menyentuh kepala tanpa menyentuh rasa dan laku adalah pendidikan yang setengah jalan.
Inilah yang membuat sistem Taman Siswa berbeda dari sekolah kolonial Belanda. Ki Hajar menolak model pendidikan yang memperlakukan murid seperti bank yang terus diisi, dan guru sebagai satu-satunya sumber kebenaran.
Ahada Ramadhana dalam buku ini juga mengurai bagaimana Ki Hajar menggunakan kebudayaan sebagai senjata utama pendidikan. Seni tari, gendhing, dan tradisi lokal bukan sekadar hiburan, tapi media pembentukan karakter dan penguatan rasa kebangsaan yang paling dalam.
Filsafat Trikon yang ia cetuskan, yaitu kontinuitas dengan akar budaya sendiri, konvergensi dengan dunia luar, dan konsentrisitas agar tetap beridentitas, adalah jawaban Ki Hajar terhadap globalisasi yang mengancam jiwa bangsa. Relevan di zamannya. Lebih relevan lagi hari ini.
Kita sudah terlalu lama menghafal nama Ki Hajar Dewantara tanpa pernah benar-benar membaca pikirannya.
Buku Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara karya Ahada Ramadhana hadir untuk menutup jarak itu. Sejarah hidupnya, falsafah pendidikannya, dan pengaruhnya terhadap Indonesia modern, semua diurai dengan jernih dan mendalam.