Tapi napasnya semakin berat. Jari-jarinya yang semula hanya memijat kini mengusap lebih lama di perutku, lalu turun ke lipatan di bawah perut, tepat di atas kain sarungku yang mulai terbuka.
“Ustad…” bisikku pelan.
Aku pak wahyu adalah lelaki yang sudah lama tinggal di kampung kecil ini. Tubuhku besar, perutku menggantung, kulitku selalu basah oleh keringat di cuaca panas.
Pak Ustad Anas adalah imam masjid sekaligus tukang urut kampung.
Pak Anas terus memijat. Tangannya bergerak lebih lambat sekarang. Dia duduk di sampingku, lututnya menyentuh pinggangku. Aku merasakan sesuatu yang keras di balik sarungnya, menekan pelan di samping pahaku. Awalnya aku pura-pura tidak sadar.
Pak Anas juga hanya memakai sarung yang sama, tipis, longgar, tanpa apa pun di dalamnya. Dia duduk di tepi kasur, tangan besarnya mulai mengusap bahu dan punggungku