Bukan beli genset tp PLN yg hrs ngaku gagal menjalankan amanah UU N 30 Thn 2009 tentang Ketenagalistrikan Pasal 29 ayat (1) huruf b yaitu WAJIB MEMASOK LISTRIK SECARA TERUS MENERUS, menjaga mutu dan keandalan, serta memberikan ganti rugi jika terjadi pemadaman akibat kelalaian
“Sekolah sudah rusak sebelum ada MBG” Benar. Tapi itu justru memperkuat kritik, bukan melemahkannya. Kalau sekolah memang sudah rusak lama, kenapa prioritas pembangunan dapur MBG yang mengkilap biru lebih cepat daripada perbaikan ruang kelas? Publik melihat prioritas anggaran, bukan urutan waktu kerusakan. Kalau dapur bisa dibangun cepat dan bagus, kenapa ruang belajar anak-anak tidak bisa? Ini bukan soal “dulu juga rusak”, tapi soal prioritas hari ini.
Lalu dia bilang “Cukup lapor ke Dikdasmen, pasti diperbaiki” Ini pernyataan yang sangat naif atau sangat abai terhadap realitas birokrasi. Kalau cukup lapor lalu pasti diperbaiki, kenapa masih banyak sekolah yang kondisinya parah sampai viral, bahkan di dekat kampung asal dia? Kenapa harus nunggu foto siswa makan di depan kelas roboh baru bergerak? Sistem yang mengandalkan “lapor dulu baru diperbaiki” justru menunjukkan lemahnya perencanaan dan monitoring.
Klaim “sudah perbaiki 16 ribu, sekarang 70 ribu” Angka ini perlu dilihat hati-hati. Di mana saj? Itu target/klaim renovasi, bukan otomatis berarti semua sekolah yang rusak berat sudah layak pakai. Yang viral biasanya bukan sekadar “cat mengelupas”, tapi struktur yang berbahaya. Klaim kuantitas tanpa kualitas dan transparansi data publik justru mudah jadi senjata makan tuan.
Jadi, inti masalahnya justru ketika dapur MBG mengkilap bersih di sebelah kelas yang amburadul, masyarakat melihat kontradiksi nyata: ada uang untuk infrastruktur gizi, tapi infrastruktur pendidikan dasar masih ditunda. Ini bukan “membanding-bandingkan yang tidak nyambung”, ini melihat alokasi sumber daya negara. Kalau argumennya “dua program berbeda”, maka kenapa program yang satu terlihat sangat diutamakan secara visual dan cepat, sementara yang lain masih mengandalkan laporan masyarakat?
inilah wajah wajah WNI yang menggugat MBG ke MK:
- Miftahul Arifin — Ketua Taman Belajar Nusantara
- Umran Usman — Divisi Hukum dan Advokasi Taman Belajar Nusantara
- Dzakwan Fadhil Putra Kusuma — mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
- Muhammad Jundi Fathi Rizky — mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
- Rikza Anung Andita — mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
- Sae'd — seorang guru honorer
Adek sepupuku keracunan MBG. Satu sekolah kemarin dipulangin cepet karena pada diare (termasuk adekku). Bahkan ada yang sampe pingsan juga katanya.
Ada mobil ambulans juga, ngangkutin murid-murid. Terus dari speaker sekolah malah diumumin: mohon tidak didokumentasikan. Taek.
Kenapa nggak ada di TV?
Ada temen gw yang kerja di Media, waktu upload konten tentang berita negatif dari salah satu instansi langsung kena teror, akhirnya menyebabkan Direkturnya males berurusan sama kawanan instansi tersebut.
Ada media yg terbungkam dengan alasan melindungi keluarga.
Intinya disini yang cacat adalah sistem kepemerintahan itu sendiri!
GUYS JANGAN TUTUP MATA YAAA!!!!
asli ini gaada beritanya sama sekali karena ketutup beritanya si maling ayam sama si endng. padahal ada yang lagi turun ke jalan buat menyuarakan keadilan. btw ini demo di kejagung yaa, kemarin malem.
semoga selalu dilindungi, aamiin. ❤️🔥❤️🔥❤️🔥
Fyi, this girl who’s actively participating in fansign/photo’s 1:1 events is coming from a political family that’s involved in corruption in Indonesia. And her dad is involved in a sexual assault against minors
Everyone is suspecting her using “illegal” money to join the events
Fangirling pake duit rakyat wallahi we're so fooled.
Btw dia selama ini kalau upload di acc fangirlingnya, mukanya selalu diblur dan ditutupin sticker/masker, ternyata biar orang gatau kalau dia ngefangirl pake duit korup🤑
2024 dia sempet vakum ngefangirl karena nyaleg DPR tapi ga kepilih.
Foto terakhir adalah foto di first acc IGnya.
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur, menangis tersedu-sedu sebab mengetahui embege banjir kritik. Ia menyamakan kritik dengan cercaan dan hardikan. Sungguh, betapa bodohnya untuk sekaliber menteri.
Pernahkah ia menangis karena kondisi seperti di bawah ini? 81 tahun merdeka dan kondisi seperti ini masih amat sangat mudah ditemukan di Indonesia.
Di kondisi yang begini, apa fungsi embege? Memberi energi tambahan pada anak-anak agar daya cengkeraman tangannya pada seutas tali itu kuat sehingga tak mudah terjatuh dan mati terseret arus? Atau mengenyangkan buaya-buaya di sungainya sebab isi perut mangsanya penuh?
Setiap elit penyelenggara negara yang akting die hard membela embege akan kami masukan ke dalam daftar hitam. Akan kami caci sampai cacian kami masuk ke telinganya.