Mohon maaf teman-teman, yang udah lama DM tanya-tanya tentang les mandarin dan belum aku balas, DMnya ketutupan sama DM spam.
yang mau tanya-tanya, bisa reply tweet ini, nanti aku DM balik βΊοΈβΊοΈ
Kriminologi sebenarnya sudah menjelaskan "misteri" ini.
Kenapa masyarakat cenderung keras dalam merespon kejahatan jalanan, tetapi berlaku sebaliknya bagi penjahat kerah putih?
1. Lewat Prisma Kejahatan (gambar terlampir), kita bisa melihat bahwa dampak dari kejahatan jalanan itu instan dan kasat mata. Reaksinya bisa jadi amarah kolektif secara langsung di lokasi kejadian.
Berbeda dengan kejahatan kerah putih yang dampaknya bersifat terdistribusi, abstrak, dan tertunda (delayed impact).
2. Amuk massa merupakan tindakan "street justice" yang membutuhkan target yang accessible (terjangkau) dan rentan. Secara khusus, penjahat jalanan bisa jadi sasaran empuk untuk dijadikan "kambing hitam" atas segala akumulasi stres, frustrasi ekonomi, dan ketidakpuasan hidup yang dialami masyarakat.
Berbeda dengan kejahatan kerah putih yang bisa jadi terlindungi oleh sistem, status sosial, benteng hukum (pengacara atau birokrasi), hingga pengawalan fisik. Ada ketimpangan kuasa (power) untuk bisa melakukan pengadilan jalanan.
3. Gejala ketidakpercayaan kepada penegakan hukum yang formal. Vigilante semacam ini sejatinya sinyal bahwa aparat yang berwenang itu tidak menjadi jawaban untuk keadilan.
Ada semacam adagium bahwa "kalau dilaporkan ke polisi, biaya lebih mahal dari harga barang, belum lagi waktu yang dihabiskan hingga putusan pengadilan". Karena itulah, masyarakat "berinisiatif" untuk mengambil alih peran menghukum secara spontan karena menganggap lembaga peradilan tidak akan menghukum penjahat kecil tersebut.
@appledustxyz@heartopia_fess Kalau aku biasanya pake grafik medium kak. Habis itu tak turunin ke low.
Mungkin bisa coba dinaikin grafiknya, habis itu coba repair terus report screen πππ