Jika kalian tinggal di desa dan source of income kalian berasal dari financial market, khususnya saham dan crypto, mungkin tulisan ini relevan untuk kalian.
Semalam saya mengikuti Spacenya Bang Don Carlito. Di sana saya diberi kesempatan untuk bertanya
Pertanyaannya:
βSaya punya aset berupa tanah di desa. Saat ini tanah tersebut tidak terlalu produktif, hanya ditanami pohon sengon yang baru bisa dipanen sekitar 4 tahun lagi.
Kalau tanah itu saya jual, dan uangnya saya gunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan skill saya lalu masuk ke market ketika ada momentum, itu keputusan tepat gak ?β
Jawaban beliau kurang lebih seperti ini:
βItu keputusan yang kurang bijak.β
Alasannya sederhana.
Market saham maupun crypto punya satu hal yang sering membuat kita terlena
Yaitu kita bisa membayangkan uang kita berlipat ganda.
Tapi market juga penuh uncertainty.
Tidak ada jaminan modal kita akan berkembang. Bahkan, ada kemungkinan modal tersebut berkurang drastis atau menjadi nol.
Karena itu, menjual aset yang sudah kita miliki hanya karena kita merasa bisa mendapatkan return lebih besar di market adalah keputusan yang harus dipikirkan sangat matang.
Lalu Bang Don juga ngasih insight tambahan
Beliau mengatakan bahwa orang yang tinggal di desa sebenarnya yang paling banyak memiliki opportunity.
Jangan melihat tanah hanya sebagai:
βSebidang tanah yang tidak produktif.β
kita harus lihat lebih luas.
Di mana lokasinya?
Apa yang ada di sekitarnya?
Apa kebutuhan masyarakat di sana?
Apa yang bisa dibangun?
Mungkin tanah tersebut bisa menjadi lapangan futsal or voli, tempat usaha, lahan produktif, atau sesuatu yang belum kita pikirkan.
Intinya:
Jangan ngeliat aset dengan kacamata kuda.
Kadang masalahnya bukan aset tersebut tidak memiliki value.
Mungkin kita nya aja yg belum nemuin cara untuk mengoptimalkan value nya.
Dari sini saya teringat salah satu prinsip Warren Buffett
dalam investasi ada 2 peraturan yaitu
1. Jangan kehilangan uang.
2. jangan lupa peraturan nomor 1.
Buat saya, pelajarannya bukan berarti gak boleh menjual aset atau jangan pernah masuk market.
Tapi:
Jangan mempertaruhkan aset yang sudah kita miliki hanya karena tergoda oleh kemungkinan return yang belum pasti.
thank you Bang Don untuk insight nya.
Semoga cerita ini bisa membantu teman-teman yang berada di posisi serupa dalam mengambil keputusan.
Baru selesai nonton video terbaru Leon Hartono.
Dan menurut gue, video ini bukan cuma ngomongin soal cara mengatur uang setelah menikah.
Ada beberapa cara berpikir yang menurut gue justru jauh lebih penting daripada tips finansialnya.
Ini beberapa poin yang menurut gue menarik:
1. Jangan buru-buru beli rumah setelah menikah.
Bro Leon punya perspektif yang menarik:
Kalau baru menikah, lebih baik sewa dulu.
Kenapa?
Karena kebutuhan hidup masih bisa berubah.
Belum tahu bakal punya berapa anak, tinggal di mana, butuh rumah sebesar apa, bahkan mungkin karier juga masih berubah.
Sedangkan rumah itu aset yang relatif tidak likuid.
Sekali beli, lalu beberapa tahun kemudian mau pindah, biaya transaksinya bisa sangat besar.
Jadi pertanyaannya bukan
βMampu beli rumah nggak?β
Tapi :
βapa gue yakin akan tinggal di sini 10β20 tahun?β
Kalau belum yakin, fleksibilitas bisa lebih valuable daripada kepemilikan.
2. Gadget anak jangan cuma dibatasi, tapi dimanfaatkan.
Ini salah satu bagian yang gue suka.
Bro Leon bukan tipe yang anti-gadget.
Dia justru mencoba mengubah gadget menjadi alat belajar.
Contohnya sederhana:
Anaknya sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris.
Jadi ketika menonton kartun, audionya diubah ke Mandarin.
Dengan begitu, waktu yang memang sudah digunakan untuk screen time bisa sekaligus menjadi exposure terhadap bahasa baru.
Menurut gue prinsipnya bagus:
Jangan cuma mengurangi konsumsi.
Tingkatkan kualitas dari konsumsi tersebut.
3. Pisahkan device anak dan orang tua.
Kedengarannya sepele, tapi ini muncul dari pengalaman yang cukup lucu.
Anaknya pernah menggunakan iPad dan akhirnya menghapus/mengubah berbagai file penting yang dibutuhkan Leon untuk podcast.
Dari situ dia menerapkan:
akun terpisah
parental control
approval untuk aktivitas tertentu
Menurut gue ini bukan cuma soal Gadget.
Ini contoh kecil tentang risk management.
Jangan menunggu sesuatu rusak dulu baru bikin sistem.
4. Ada 3 fase besar dalam kehidupan.
Ini bagian yang paling menarik buat gue.
Menurut Leon:
Fase 1 : Sekolah
Bangun skill, pengetahuan, dan fondasi.
Fase 2 : Single & mulai bekerja
Ini waktunya grind.
Kerja keras, networking, mencoba bisnis, melakukan kesalahan, dan mencari tahu sebenarnya kita cocok di mana.
Karena belum banyak tanggungan, cost of failure relatif lebih kecil.
Fase 3 : Menikah & punya anak
Idealnya, hasil dari fase sebelumnya mulai memberikan kita sesuatu yang sangat mahal:
freedom.
Bukan sekadar uang.
Tapi kemampuan untuk punya waktu.
Bisa makan siang dengan istri di hari Senin.
Bisa mengantar anak sekolah.
Bisa hadir ketika anak punya performance.
Dan menurut gue ini salah satu definisi wealth yang sering dilupakan.
5. Jangan mengejar work-life balance terlalu cepat.
Ini mungkin bakal kontroversial.
Menurut Leon, jangan terlalu cepat mencari balance ketika masih berada di fase membangun.
Kalau masih single dan belum punya banyak tanggungan, mungkin justru itulah waktunya untuk nge grind lebih keras.
Bukan berarti harus kerja sampai burnout.
Tapi gunakan fase tersebut untuk membangun:
skill β network β income β experience β optionality.
Supaya suatu hari nanti lo punya pilihan untuk hidup lebih seimbang.
Dan ada satu kalimat dari video ini yang menurut gue paling ngena:
βWin terbesar di kehidupan gue bukan berapa duit yang gue punya.β
Tapi ketika dia sudah punya cukup kebebasan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
Menurut gue, ini menarik.
Karena pada akhirnya uang bukan tujuan akhir.
Uang adalah alat untuk membeli sesuatu yang jauh lebih mahal:
waktu, pilihan, dan kebebasan.
Itu yang gue tangkap dari video Leon Hartono kali ini.
Untuk lebih detail silahkan tonton Vidoenya Leon Hartono di Youtube
Pagi ini, Putri kembali di dapur.
Memasak memang jadi salah satu hal kecil yang paling Putri suka meracik bumbu, menyiapkan bahan, lalu menikmati hasilnya dengan penuh cinta. π₯π₯¬π¦
Menu pagi ini : cumi-cumi tumis pedas dengan sayuran & buah naga.
Sederhana, hangat, tapi dibuat dengan sepenuh hati. π·
Kalau kalian, menu apa yang paling suka dimasak di pagi hari?
Charlie Munger pernah punya sebuah nasihat yang terdengar sederhana, tapi sebenarnya dalam banget:
βAda tiga hal yang bisa menghancurkan seorang pria: narkoba, alkohol, dan wanita.β
Kalau cuma dibaca mentah-mentah, kedengarannya seperti Munger sedang bilang ketiganya adalah sesuatu yang buruk.
Menurut gw, bukan itu inti pesannya.
Yang sebenarnya ingin dia tunjukkan adalah tentang hilangnya kendali atas diri sendiri.
1. Narkoba β menghancurkan kemampuan berpikir.
Ketika sesuatu mulai merusak judgment, logika, dan kemampuan kita mengambil keputusan, kita mulai kehilangan salah satu aset terbesar dalam hidup:
akal sehat.
Dan keputusan buruk punya sifat yang sama dengan keputusan baik:
bisa compound.
Satu keputusan buruk β membuat keputusan buruk berikutnya β sampai akhirnya hidup kita keluar dari kendali.
2. Alkohol β menghancurkan disiplin.
Bukan berarti minum sedikit langsung menghancurkan hidup.
Masalahnya muncul ketika kesenangan mulai mengendalikan kita.
Hari ini cuma untuk bersenang-senang.
Besok jadi kebiasaan.
Lama-lama disiplin dikorbankan demi pleasure.
Munger sangat percaya bahwa kemampuan mengatakan βtidakβ adalah salah satu keunggulan terbesar seseorang.
3. Wanita β sebenarnya lebih luas dari sekadar wanita.
Ini bagian yang sering disalahpahami.
Yang dimaksud bukan berarti wanita itu buruk.
Lebih dalam dari itu, Munger sedang bicara tentang desire, attraction, ego, dan nafsu.
Karena manusia bisa kehilangan rasionalitas ketika menginginkan sesuatu terlalu kuat.
Bisa wanita.
Bisa uang.
Bisa status.
Bisa kekuasaan.
Bisa popularitas.
Apa pun bisa menghancurkan kita kalau kita kehilangan kendali karenanya.
Dan menariknya, prinsip ini juga berlaku di investasi.
Pasar mungkin tidak menghancurkan kita.
Ego kita yang menghancurkan kita.
FOMO.
Greed.
Leverage berlebihan.
Revenge trading.
Tidak mau cut loss.
Tidak mau mengakui salah.
Masalahnya bukan selalu karena kita kurang pintar.
Kadang kita hanya tidak cukup disiplin untuk menghindari kebodohan.
Itulah salah satu pelajaran terbesar dari Munger:
Kekayaan bukan cuma soal menemukan cara untuk menang.
Kadang kekayaan dibangun dengan menghindari hal-hal yang bisa membuat kita kehilangan semuanya.
Jaga pikiran.
Kendalikan keinginan.
Jaga disiplin.
Karena dalam investasi dan kehidupan,
bertahan hidup juga merupakan bentuk compounding.
Variational: 1 Point kira-kira bernilai berapa?
β1 @variational_io Point nanti dapat berapa $VAR?β
Untuk sekarang belum ada angka resmi.
Jadi saya coba bikin estimasi berdasarkan data yang tersedia + beberapa skenario.
Yang sudah kita tahu:
β’ Retro Dec 2025: 3M points
β’ Weekly: 150K points setiap Jumat
β’ Week 38 sudah drop
β’ Program berakhir paling lambat akhir Q3 2026
β’ Docs menyebut sekitar 50% supply untuk community over time
β’ Total supply $VAR dan conversion ratio points β $VAR belum diumumkan resmi
Kalau dihitung sampai program berakhir, estimasi totalnya sekitar:
9,2β9,6M points
Working assumption saya:
~9,3M points
Sekarang kita coba hitung.
Misalnya kita gunakan asumsi:
Total supply = 1B $VAR
TGE allocation = 25%
Berarti ada sekitar 250M $VAR untuk TGE.
250M Γ· 9,3M points
= ~27 $VAR per point
Tinggal kita kalikan dengan harga token.
Skenario saya:
Bear β $10β17 / point
Base β $27β40 / point
Bull β $60β110 / point
Moon β $100+ / point
Kalau saya harus memilih satu range yang paling masuk akal saat ini:
Base case: $27β40 / point.
Bukan target harga.
Bukan prediction.
Ini cuma model berdasarkan asumsi yang kita punya sekarang.
Kenapa saya nggak langsung pakai $100/point?
Karena ada beberapa hal yang masih belum pasti.
Valuation $2B memang mungkin, tapi itu adalah skenario bullish, bukan sesuatu yang bisa kita anggap sebagai baseline.
Kemudian 50% community allocation bukan berarti 50% langsung dibagikan di TGE.
Allocation tersebut bisa didistribusikan over time.
Dan yang paling penting:
Total supply $VAR saja belum diumumkan resmi.
Jadi angka 1B yang saya gunakan hanyalah working assumption.
Contoh kalau kalian punya 144 points:
Bear @ $14
β ~$2.016
Base @ $33
β ~$4.752
Bull @ $80
β ~$11.520
Sekali lagi, ini bukan estimasi payout resmi.
Hanya simulasi.
Untuk sekarang saya pribadi lebih nyaman menggunakan:
$27β40 / point sebagai BASE CASE
daripada langsung berasumsi:
β1 point = $100.β
Karena semakin banyak asumsi yang kita masukkan, semakin besar juga kemungkinan estimasinya meleset.
Points β $VAR ratio belum diumumkan.
DYOR.
Heyyoo, whatβs up guys?
Weekend is hereee. Time to forget about the charts for a bit and just chill with a good comic. Sometimes all you need is a comfy spot, your favorite manga, and a few hours of getting lost in the story.
No rush, no market talk. Just enjoy the weekend
So, what are you guys reading this weekend?
Why do I think Prosper could become a big thing?
I think the interesting part of @ProsperTicker isnβt simply pharos-network:native.
Itβs the infrastructure behind it.
Bitcoin is one of the largest assets in crypto, but behind Bitcoin is an entire economy built around mining, hashrate and BTC production.
Prosper is trying to bring that real-world infrastructure on-chain.
The simple thesis:
Real Bitcoin Hashrate
β BTC Production
β Treasury & Rewards
β On-chain Ecosystem
What makes this interesting to me is the RWA angle.
Instead of creating value purely from token emissions or speculative demand, Prosper is building around an underlying real-world asset: Bitcoin mining hashrate. Prosper says its mining hardware is owned by its token foundation and operated through industry partners. (Prosper Fi)
And this is where I see the bigger opportunity.
If Prosper can continue expanding its hashrate while building useful on-chain applications around it, the ecosystem isnβt limited to simply βstaking a token.β
It can potentially become a bridge between:
Bitcoin mining Γ RWA Γ DeFi Γ retail access.
Even more interesting, Prosperβs own thesis goes beyond mining. The protocol points to future opportunities around Bitcoin infrastructure, including areas such as AI data centers. (Prosper Fi)
Of course, potential β guaranteed success.
Mining economics, BTC price, operating costs, execution, treasury management and token mechanics will all matter.
But that's exactly why Iβm paying attention.
The question isnβt:
βCan pharos-network:native pump?β
The more interesting question is:
βCan Prosper turn real Bitcoin infrastructure into a scalable on-chain financial ecosystem?β
If the answer is yes, I think the upside of the thesis goes far beyond just another crypto token.
Thatβs why Prosper is one of the projects Iβm watching closely.
Four weeks of testing, and what theyβre protecting isnβt just the system.
Itβs the intention behind every trade.
Private matching, a shielded pool, settlement on Solana. Still testnet. Not open to everyone yet.
But the direction feels clear: our orders donβt have to be a spectacle.
Would you wait for public access, or are you already a little curious?
HYPER ROBOTS FREE MINT
TODAY πΊ
https://t.co/CM7IkMZA9O
WL FREE MINT β First 300 Wallet :
@HypeRobotsNFT
Details:
Supply: 4,444
Chain : HyperEVM
Mint price : Free for WL
Time: 1:30 UTC
Follow+Like+retweet
Drop your EVM wallet below π
@HyperliquidX@RobinhoodApp