@leooooo00000o Gua ada di sana dan berani bilang kalo ini bener, yg nyampah itu para aparat keparat. Kami lagi protes aja bisa-bisanya di depan kami ada aparat buang sampah di jalan. Mostly gua ngeliat para Mahasiswa itu pada ngantongin sampahnya di almamater mereka, ga buang sembarangan.
Temen gue nanya, lo pingin dia lengser nggak
Terus gue bilang, "kagak, gue gak mau dia lengser. I want him and semua yang korup itu mati. Because you know, dead men cant rape (the country)."
Lengser doang dia bisa kerja lewat jalan belakang, but if he's dead then he's dead
gw tuh dari dulu bingung tiap demo mahasiswa dihalang-halangin sampe dipukul tuh knp sih... like itu mahasiswa jir, logikanya mereka pada kagak punya apa-apa. demo ya karena punya aspirasi dan keluhan yahg mau disampaikan 😭😭 why r u guys so afraid of literal STUDENTS???
You know how brilliant their idea to choose Bundaran HI sebagai tempat "aksi" mereka adalah? It’s because they know Bundaran HI adalah pusat titik keramaian Jakarta.
Choosing Bundaran HI means maximum exposure. Akses ke semua lapisan masyarakat itu potensial banget buat attract publik. From the corporate slaves stepping out of their Sudirman offices, people commuting, to the general public—everyone is literally there. It is the ultimate hub to get eyes on your movement.
Plus di Bundaran HI, segala jenis transportasi umum ada. It’s the literal heart of Jakarta's transit. So obviously, the traffic will be disrupted. But honestly? In modern activism, that disruption is a feature, not a bug. When the traffic gets a bit chaotic, people are forced to look. It creates that instant "Wait, what’s happening over there?" effect.
As someone who used to organize actions and protests too, let’s be real for a second: pemilihan Bundaran HI ini bukan lagi buat "protes" langsung ke pihak yang diprotes.
Why? Karena ya udah pasti gak bakal didengar. Pointing fingers directly at the institutions just ends up making you tired, drained, and honestly, males banget. It’s a dead end.
Makanya mereka pilih Bundaran HI. It’s no longer about yelling at a brick wall; it’s about controling the narrative and winning the public's attention. If the authorities won't listen, you make the entire city talk about it instead. And there’s no better stage for that than Bundaran HI.
To be honest, at this point I kinda no longer want that slippery lantai kamar mandi to be the cause of his death, tapi beneran dilempar ke masyarakat trus digebukin, siksa abis-abisan because the amount of disrespect and humiliation we experienced daily is so unfathomable.
mksd gue… kenapa sih lu semua seambi itu utk ngancurin rakyat dan negara ini… kayak… harta lu jg udh triliunan… triliunan tuh ribuan miliar… miliar tuh ribuan juta… ga akan abis jg… kita sbg rakyat could never compete dgn garjimut ini…
Tau ga sih ini udah (hampir) kaya 98? Pergerakan kita diawasi, kekuasaan polri jadi lebih gede. Lambat laun bisa muncul efek takut skala besar, trus warga jadi gamau lagi kritik pemerintah atau aparat karena nanti bakal dibungkam/diculik.
If this law passes, we're fucked.
Aku baru nonton ep 1 dan ngerasa ini fiksi banget soalnya mentri pendidikan nya sagat baik dan malah berantem ma ketua dpr nya. Terus pas si ketua dpr aka calon presiden nya dapet rumor negatif langsung dipenjara. Aneh, kayak kemana buzzer buzzer yg membela nya, gak relate 🥲
Good morning. Woke up to $1 now equals 18.100 rupiah. Pertamax has risen from Rp12.300 to Rp16.250, and 5kg rice from Rp75.000 to Rp90.000. If you see nothing wrong with Indonesia's current fucked-up situation, you're either a nepo baby or braindead assholes who voted for 02.