Di hari berharga ku ini, aku kembali menangisi diriku sendiri. Maaf untuk semuanya. Maaf untuk selalu menjadi people pleaser dan maaf untuk tidak pernah mencintai diri sendiri sebelum orang lain
4 imam mazhab itu mereka saling memuji, jadi kocak aja kalo masing2 dari pengikut mazhab ini malah saling bertikai
imam malik memuji abu hanifah karena kecerdasannya
imam syafi'i menyebut imam malik adalah bintangnya ulama
imam ahmad mengibaratkan imam syafi'i matahari dunia
𝗦𝗲𝗹 𝗼𝘁𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝘂𝗵 𝗼𝗹𝗲𝗵 "𝘀𝗲𝗹𝗳-𝘁𝗮𝗹𝗸" adalah sesuatu yang ada bukti ilmiahnya
Izin gue jelaskan ya!
Secara sederahana, ini BUKAN berarti sel otak “mendengar” kata-kata seperti telinga, melainkan melalui proses neuroplastisitas, yang merupakan kemampuan otak untuk membentuk, memperkuat, atau melemahkan koneksi antar sel saraf, seiring dengan pengulangan pola pikir dan perilaku.
Setiap kali kita berbicara pada diri sendiri (misalnya “Aku bisa” atau “Aku gagal”), otak mengaktifkan jaringan saraf tertentu. Akibatnya, jalur saraf berubah, dan dapat memengaruhi emosi, motivasi, perhatian, dan performa kognitif.
Ada penelitian yang menunjukkan bahwa 𝘀𝗲𝗹𝗳-𝘁𝗮𝗹𝗸 𝗽𝗼𝘀𝗶𝘁𝗶𝗳 𝗱𝗮𝗻 𝗻𝗲𝗴𝗮𝘁𝗶𝗳, 𝘁𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝗯𝗮𝗵 𝗸𝗼𝗻𝗲𝗸𝘁𝗶𝘃𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗱𝗶 𝗼𝘁𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮. Secara umum kira-kira kaya gini efeknya pada otak antara lain:
-𝗦𝗲𝗹𝗳-𝗰𝗿𝗶𝘁𝗶𝗰𝗶𝘀𝗺 justru meningkatkan performa kognitif, karena mengurangi rasa percaya diri berlebihan dan meningkatkan fokus serta motivasi internal
-𝗦𝗲𝗹𝗳-𝗿𝗲𝘀𝗽𝗲𝗰𝘁 dapat memperkuat fungsi eksekutif, tapi bisa menimbulkan kepercayaan diri yang berlebihan
𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻
Self-talk dapat berpengaruh pada plastisitas otak.
Melalui self-talk yang sesuai, kita dapat memengaruhi kondisi dan kemampuan otak kita.
Semoga bermanfaat!
Ilmu menarik ini. Mau nambahin… Pernah gak, banyak hal positif kamu alami, tapi kamu lebih fokusnya ke negatif, yg lebih kamu inget yg negatif?
Kenapa ya kita lebih inget yg negatif daripada positif?
Ternyata ini disebut negativity bias. Manusia emang cenderung lebih ingat hal negatif daripada positif.
Maksudnya gimana? Yuk kita bahas.
Studi lintas negara oleh Soroka et al. (2019) menemukan bahwa manusia secara fisiologis lebih reaktif terhadap berita negatif dibandingkan berita positif.
Atau istilahnya: “Bad is stronger than good.”
Ini sejalan sama temuan bahwa bagian otak yang jadi pusat emosi, yaitu amigdala, lebih reaktif terhadap ancaman dibanding kabar menyenangkan.
Kalo dari sisi evolusi, itu karena mengenali ancaman lebih meningkatkan peluang bertahan hidup.
Dulu itu berguna untuk menghindari hewan buas, kini juga bereaksi terhadap email kantor, komentar online, atau ekspresi muka orang lain.
Jadi, kenapa kita lebih inget yang negatif?
Karena memang default sistemnya gitu.
Maka bukan lalu kita mesti berusaha melawan ingatan negatif. Melainkan menyadarinya: Memang begitulah pikiran.
Dengan kesadaran itu, kita mulai punya jarak dengan pikiran. Sehingga kita nggak tenggelam dalam ingatan negatif itu. Akibatnya, ada ruang buat menyadari hal yang positif.
Bukan berusaha ngilangin yang negatif, tapi sadar… hidup ini selalu tersusun bukan cuma negatif, tapi juga ada positifnya, hanya saja sering kita lupakan.
Referensi: Soroka, S., Fournier, P., & Nir, L. (2019). Cross-National Evidence of a Negativity Bias in Psychophysiological Reactions to News. PNAS.
UPDATE SITUASI HORMUZ:
12 jam terakhir mengubah segalanya.
– Iran MEMBUKA Selat Hormuz Rabu pagi di bawah gencatan senjata — dua kapal tanker minyak lolos dengan selamat
– Israel meluncurkan lebih dari 100 serangan ke Lebanon BERJAM-JAM kemudian — serangan terbesar sejak perang dimulai — korban tewas dilaporkan mencapai 300 orang warga sipil.
– UEA yang melakukan serangan terhadap fasilitas petrokimia di Pulau Lavan, Iran, di Teluk Persia. Insiden di Pulau Lavan terjadi kira-kira delapan jam setelah pengumuman gencatan senjata antara AS dan Iran.
– IRAN menegaskan AS telah dengan jelas melanggar setidaknya 3 poin: Gencatan senjata di Lebanon. Masuknya drone ke wilayah Iran dan Penolakan hak Iran untuk memperkaya uranium.
– Iran MEMUTUP KEMBALI Selat Hormuz — semua lalu lintas tanker BERHENTI
– Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal.
– Pasukan bersenjata Iran kini MENGIDENTIFIKASI SASARAN di dalam Israel — Shafaq News
– Harga minyak anjlok 19% pagi kemarin karena berita gencatan senjata — penurunan terbesar sejak 2020 — kini ketidakpastian KEMBALI dan naik kembali.
– Lebih dari 150 kapal terdampar pada puncak penutupan sebelumnya — lalu lintas ambruk dari 150/hari menjadi kurang dari 20
Gencatan senjata hanya bertahan 12 jam. Selat yang mengangkut 20% minyak dunia ditutup lagi. Tidak ada tanda-tanda pembukaan kembali.
Guys, di tengah semua kekacauan geopolitik dan krisis minyak yang lagi kita bahas ada satu berita kecil dari Jepang yang mungkin luput dari perhatian banyak orang.
Tapi dampaknya bisa mengubah segalanya dalam jangka panjang.
ENEOS perusahaan minyak terbesar Jepang baru berhasil produksi bahan bakar sintetis tanpa minyak bumi untuk pertama kalinya.
Bukan dari kilang.
Bukan dari sumur minyak.
Tapi dari CO₂ di udara dan air.
Teknologinya disebut e-fuel dan ini pertama kalinya berhasil diproduksi di fasilitas demonstrasi mereka di Yokohama.
Skalanya masih kecil tapi signifikansinya besar.
Sekarang mereka baru bisa produksi 1 barel per hari. Seukuran satu drum.
Tapi target mereka 10.000 barel per hari pada 2040.
Dan yang bikin ini menarik bukan angkanya.
Tapi momentumnya.
Berita ini bahkan di-repost langsung oleh Menteri Keuangan Jepang Katayama sinyal bahwa ini bukan sekadar proyek lab kecil.
Ini dapat perhatian di level pemerintahan.
Konteksnya penting banget.
Jepang adalah negara yang 90% minyaknya lewat Selat Hormuz yang sekarang dalam kondisi tertutup akibat konflik Iran.
Iran bahkan baru nawarin safe passage ke kapal Jepang dan Jepang menolak karena tekanan Washington.
Di tengah situasi itulah kabar ini muncul. Dan pesannya jelas
Jepang lagi cari jalan keluar dari ketergantungan minyak.
Dan mereka mulai serius.
E-fuel itu sebenernya apa?
Simpelnya ini bahan bakar yang dibuat dari menangkap CO₂ dari atmosfer, dikombinasikan dengan hidrogen yang dihasilkan dari elektrolisis air, lalu diproses menjadi bahan bakar cair yang bisa langsung dipakai di mesin yang ada sekarang.
Nggak perlu ganti mesin.
Nggak perlu infrastruktur baru.
Langsung kompatibel dengan kendaraan dan pesawat yang sudah ada.
Itu yang bikin e-fuel beda dari listrik atau hidrogen yang butuh revolusi infrastruktur besar-besaran.
Dan ini yang paling menarik dari timing-nya.
Seseorang yang men-quote berita ini bilang sesuatu yang bikin gue mikir
Dalam timeline yang sedang kita jalani sekarang, proses meninggalkan minyak tampaknya mulai terjadi bersamaan dengan proses meninggalkan dolar Amerika.
Dan itu bukan kebetulan.
Krisis Hormuz mendorong negara-negara Asia cari alternatif energi.
Dominasi dolar yang mulai dipertanyakan mendorong negara-negara cari alternatif mata uang cadangan.
Dua pergeseran besar ini berjalan bersamaan dan keduanya menunjuk ke arah yang sama: dunia lagi dalam proses restrukturisasi besar.
Ini masih di tahap eksperimental.
1 barel per hari bukan angka yang mengubah dunia hari ini.
Tapi setiap revolusi energi besar dalam sejarah dimulai dari lab kecil yang awalnya dianggap nggak masuk akal.
Dan Jepang yang posisinya paling terjepit soal energi di kawasan ini rupanya sudah mulai bergerak.