@volleyballidn Dari awal Princess Cup liat tim ini, serangan monoton bgt jadi gampang dibaca lawan, sering panik saat tertinggal. Punya potensi tapi memang butuh latihan dan pembinaan yg lebih intens sih.
Lagi dan lagi dan lagi
Cermin gaya komunikasi publik pemerintah yg usang, simplistis, dan cenderung berlindung di balik narasi global untuk menjustifikasi beban yg dilemparkan begitu saja ke pundak rakyat.
Menahan kenaikan harga sejak Maret? Apa pula ini? Mau bikin narasi seolah2 pemerintah pahlawan hebat yg telah berkorban? Lalu rakyat harus tahu diri dan memaklumi kenaikan ini?
Gini ya ted, menyediakan energi dgn harga terjangkau adl kewajiban konstitusional pemerintah. Bukan kebaikan hat atau sedekah.
Pokoknya adak..
Guys, gue mau lo bayangin dua presiden yang menghadapi situasi yang hampir identik.
Rupiah di level Rp16.000-17.000.
Kepercayaan pasar hancur. Investor kabur. Rakyat panik.
Dua presiden.
Dua pilihan.
Dua hasil yang berbeda 180 derajat.
Apa yang dilakukan Habibie:
Habibie naik ke kursi presiden di tengah krisis terparah yang pernah dialami Indonesia.
Rupiah ada di Rp16.000 lebih.
Ekonomi hancur.
IMF menekan dari segala arah.
Langkah pertama yang dia ambil bukan pidato gagah di podium.
Bukan klaim di depan ribuan orang.
Tapi satu keputusan yang paling menyakitkan bagi kekuasaan manapun:
Dia melepaskan kontrol atas Bank Indonesia.
UU No. 23 Tahun 1999 Bank Indonesia menjadi independen dari pemerintah.
Tidak ada lagi intervensi politik.
Tidak ada lagi tekanan dari istana.
Gubernur BI bebas mengambil keputusan moneter berdasarkan data dan analisis bukan berdasarkan kepentingan politik.
Sinyal yang dikirim ke pasar global sangat jelas:
"Bank sentral kami tidak bisa diperalat penguasa."
Hasilnya?
Investor percaya.
Modal asing masuk kembali.
Rupiah menguat dari Rp16.000 ke Rp6.500.
Dalam satu masa pemerintahan yang bahkan tidak sampai dua tahun.
Apa yang terjadi sekarang:
Prabowo menghadapi situasi yang tidak jauh berbeda.
Rupiah di Rp17.600.
Kepercayaan pasar melemah.
Rating lembaga internasional memperingatkan.
Dan langkah yang diambil?
Keponakan Prabowo Thomas Aquinas Djiwandono ditunjuk sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Bukan karena rekam jejak panjang di perbankan sentral.
Bukan karena keahlian teknis makroekonomi yang sudah teruji.
Tapi karena dia keponakan presiden.
dan merasa bisa padahal tidak pengalaman
Media asing langsung menyoroti.
BBC menulis soal ini.
Pengamat internasional mempertanyakan independensi BI.
Pertanyaannya satu dan sangat sederhana:
Bagaimana dunia bisa percaya pada keputusan bank sentral yang pimpinannya adalah kerabat presiden?
Habibie melepaskan kontrol atas BI rupiah menguat.
Prabowo memasukkan kerabatnya ke BI investor makin ragu.
Ini bukan kebetulan.
Ini adalah logika yang sangat dasar tentang bagaimana kepercayaan pasar bekerja.
Investor global tidak peduli siapa yang duduk di kursi Deputi Gubernur BI.
Yang mereka pedulikan adalah apakah orang itu bisa membuat keputusan yang bebas dari tekanan politik.
Apakah suku bunga yang ditetapkan BI benar-benar berdasarkan data ekonomi bukan berdasarkan apa yang nyaman bagi istana.
Ketika kerabat presiden duduk di jajaran pimpinan BI jawabannya sudah tersirat sebelum pertanyaan selesai diucapkan.
Dan sementara independensi BI dipertanyakan ada kebijakan lain yang perlu dicermati:
Kopdes Merah Putih bisa pinjam dari Himbara
bank milik negara hingga Rp5 miliar per unit dengan bunga 6%.
Ada lebih dari 75.000 desa di Indonesia.
Kalau semua ikut dan pinjam maksimal potensi eksposur kredit yang masuk ke sistem perbankan negara bisa mencapai ratusan triliun rupiah.
Siapa yang akan menanggung kalau kredit itu bermasalah? Himbara.
Yang artinya negara.
Yang artinya kita semua.
Dan keputusan soal apakah kredit sebesar itu aman atau tidak seharusnya diawasi oleh Bank Indonesia yang independen.
Yang bebas dari tekanan untuk bilang "oke" hanya karena itu program unggulan presiden.
Tapi kalau BI-nya sudah ada kerabat presiden di dalamnya seberapa berani BI untuk mengatakan bahwa ada risiko sistemik yang perlu diwaspadai?
Habibie bahkan rela "korbankan" kepentingan politisnya sendiri:
Habibie tahu bahwa BI yang independen berarti dia sendiri tidak bisa lagi gunakan bank sentral sebagai alat kebijakan.
Dia tahu itu akan memperlemah posisi politisnya. Tapi dia tetap melakukannya karena dia tahu itu yang dibutuhkan negara.
Itulah perbedaan antara pemimpin yang berpikir untuk negara dan pemimpin yang berpikir untuk kekuasaan.
Habibie menghadapi Rp16.000 dan memilih untuk melepaskan kontrol demi membangun kepercayaan. Rupiah balik ke Rp6.500.
Prabowo menghadapi Rp17.300 dan memilih memasukkan kerabat ke bank sentral sambil klaim SWF nomor lima dunia di podium.
Dua pilihan.
Dua arah.
Dan sejarah sudah membuktikan mana yang bekerja.
Yang belum terbukti adalah apakah kita akan mengulangi kesalahan yang sama atau belajar dari pemimpin yang pernah berhasil membawa rupiah kembali dari jurang dengan cara yang benar.
โ ๏ธ Disclaimer: Data kebijakan Habibie bersumber dari CNBCI Indonesia, Kontan, dan Indonesia Baik. Data penunjukan Thomas Djiwandono bersumber dari berita yang sudah dipublikasikan termasuk BBC. Analisis adalah editorial berdasarkan fakta yang tersedia.
Guys, gue perlu lo baca ini baik-baik karena ini menurut gue salah satu potret paling absurd yang pernah terjadi di republik ini dalam satu hari yang sama.
Pagi โ Prabowo bilang di depan ribuan rakyat:
"Mau dolar berapa ribu kek, di desa kan enggak pakai dolar."
Siang โ Kapolri Listyo Sigit laporan ke Prabowo soal hasil panen jagung Polri.
Dan Prabowo memberi apresiasi.
Bukan panen raya hasil tangkap pengedar narkoba. Bukan laporan pemberantasan korupsi.
Bukan statistik kejahatan yang berhasil ditekan.
tapi Panen jagung.
sekali lagi karna panen jagung
Kapolri sekarang tugasnya apa:
661.112 hektar lahan jagung ditanami Polri di 2025. Hasil panen 3,9 juta ton.
Target 2026 naik jadi 1,37 juta hektar.
Polri punya gudang ketahanan pangan.
Polri punya SPPG dapur MBG.
Polri ekspor jagung ke Malaysia dengan margin Rp500 per kilogram.
Dan Kapolri berdiri di depan Presiden melaporkan ini semua dengan bangga.
Gue perlu tanya dengan sangat serius:
Ini Kapolri atau Menteri Pertanian?
Sementara itu di tempat lain di hari yang sama:
Josepha Alexandra siswi SMA yang hafal konstitusi sampai tidur komat-kamitstres berat di rumah setelah diancam lewat WhatsApp oleh nomor tak dikenal karena berani mempertanyakan ketidakadilan juri di lomba cerdas cermat.
Dia bertanya kepada kakaknya:
"Kak, apa aku harus minta maaf?
Katanya aku yang bikin gaduh."
Nadiem Makarim yang membangun ekosistem yang menghidupi jutaan keluarga driver ojol, yang hartanya berkurang selama menjabat,
yang tidak ada satu sen aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke rekeningnya dituntut 27 tahun.
Tom Lembong mantan menteri juga pernah mengalami hal yang
dan masih banyak lagi
Dan ini yang paling bikin gue tidak habis pikir:
Di negara ini sekarang:
Ahli serangga bisa jadi Ketua BGN.
TNI bisa jadi dirut BUMN.
Kapolri tugasnya nanam jagung.
Pejabat yang ketahuan merokok dan main game waktu rapat cuma ditegur.
Tapi orang yang membangun lapangan kerja jutaan orang dituntut 27 tahun.
Anak SMA yang berani jujur diancam somasi.
Wartawan yang laporkan fakta bencana ditekan bosnya untuk diam.
Lo tanya kenapa Amerika bisa sejahtera
padahal kapitalis.
Kenapa China bisa jadi ekonomi nomor dua padahal komunis.
Sementara kita yang katanya demokrasi berlandaskan Pancasila malah makin jauh dari Pancasila itu sendiri.
Gue akan jawab dengan jujur.
Amerika sejahtera bukan karena kapitalisnya.
Tapi karena institusinya bekerja.
Polisi Amerika tugasnya penegakan hukum bukan nanam jagung.
Jaksa Amerika membuktikan kasusnya di pengadilan yang fair bukan dengan audit dari lembaga di bawah presiden.
Anak muda Amerika yang mempertanyakan ketidakadilan dilindungi hukum, bukan diancam WhatsApp.
China jadi ekonomi nomor dua bukan karena komunisnya.
Tapi karena mereka punya satu musuh bersama yang konsisten dikejar: korupsi.
Xi Jinping mencopot jenderal bintang empat
kalau terbukti korup.
Tidak ada yang kebal.
Tidak ada yang terlalu besar untuk dijatuhkan.
Sementara kita?
Kita punya Pancasila yang indah di atas kertas.
Kita punya konstitusi yang dihafal anak SMA sampai tidur komat-kamit.
Kita punya semboyan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tapi eksekusinya adalah Kapolri nanam jagung,
siswi SMA diancam WhatsApp,
dan orang yang menutup celah korupsi pendidikan dituntut 27 tahun.
Yang paling miris dari semua ini:
Bukan pejabatnya.
Bukan sistemnya.
Tapi fakta bahwa kita semua sudah mulai terbiasa.
Kita baca berita Kapolri nanam jagung dan kita scrolling terus. Kita baca anak SMA diancam dan kita bilang "kasihan" lalu lanjut.
Kita baca Nadiem dituntut 27 tahun dan kita berdebat di kolom komentar.
Normalisasi itulah yang paling berbahaya.
Karena ketika absurditas sudah terasa normal tidak ada lagi yang merasa perlu berubah.
Negara yang Kapolrinya bangga laporan panen jagung ke presiden sementara anak SMA yang hafal konstitusinya diancam WhatsApp adalah negara yang sedang kehilangan arah dengan sangat serius.
Bukan karena tidak ada orang baik di dalamnya. Josepha ada.
Nadiem ada.
Para wartawan yang tetap meliput dengan jujur ada. Para guru yang tetap mengajar dengan tulus ada.
Tapi sistem yang seharusnya melindungi mereka justru sedang sibuk nanam jagung.
@BadmintonTalk Ditinggal mandi & sholat maghrib, Thalita nyumbang poin buat Indonesia! Ga nyangka justru poin pertama dari WS 2, terimakasih perjuangannya
@bhulukhuduktv Secara kualitas, line up pemain Korea di atas Indonesia. Semangat aja mainnya adik2, jangan minder duluan, tunjukkan fighting spirit. All the best.