Mereka yang menawarkan bantuan untuk Manchester United pasca tragedi Munich 1958.
1. Real Madrid jadi tim yang memberikan dukungan paling besar untuk pemulihan skuad United.
• Secara serius menawarkan peminjaman pemain terbaik mereka saat itu, Alfredo di Stefano selama sisa musim 1958/59, siap menanggung setengah gajinya, namun ditolak FA karena khawatir menghambat perkembangan pemain lokal.
• Mengundang United untuk serangkaian pertandingan persahabatan dengan biaya rendah, untuk membantu keuangan United.
• Menawarkan fasilitas liburan mewah gratis di Spanyol bagi korban selamat dan keluarga korban untuk pemulihan fisik dan mental.
• Setelah menjuarai Piala Eropa 1958, mendedikasikannya untuk United dan bahkan menawarkan trofi juara secara simbolis (namun ditolak dengan hormat).
2. Manchester City
UEFA sempat mengusulkan agar City mengambil alih tempat United di semifinal Piala Eropa jika United tidak bisa melanjutkan. City langsung menolak dan menyatakan akan melakukan segala cara untuk membantu United tetap berkompetisi, bukan mengambil keuntungan.
3. Liverpool, Nottingham Forest dan AC Milan menawarkan peminjaman pemain manapun yang dibutuhkan serta bantuan keuangan.
Robohnya Pesantren Kami
Musibah runtuhnya Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo bukan sekadar ambruknya beton dan besi. Ini runtuhnya kelalaian yang disembunyikan di balik jargon keikhlasan. Takdir memang kuasa Tuhan, tapi kelalaian adalah pilihan manusia.
Kita sering berlindung di balik kalimat “sudah takdir”, seolah-olah Tuhan yang disalahkan atas kecerobohan kita. Padahal Allah memberi akal untuk menghitung beban, memberi aturan demi keselamatan, dan ilmu agar kita tak membangun di atas kesalahan. Bila itu diabaikan lalu kita menyebutnya “musibah”, bukankah itu bentuk kezaliman terhadap amanah-Nya?
Masalah kita juga ada pada cara berpikir: menganggap rencana bisa diganti niat baik, prosedur diganti doa, dan keselamatan digadaikan demi percepatan. Kita ingin mendirikan pesantren tapi lupa bahwa pondok bukan hanya tempat mengaji, tapi rumah bagi akal sehat. Pesantren harus menjadi tempat yang nyaman dan aman.
Di antara reruntuhan itu, ada darah yang berserak, tubuh yang remuk, air mata dan jeritan. Santri datang mencari cahaya, bukan untuk terkubur di reruntuhan pondok.
اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّانِ، وَاجْعَلْ دِمَاءَهُمْ شَهَادَةً عَلَى طُهْرِ نِيَّاتِهِمْ، وَعَلِّمْنَا أَنْ نَبْنِيَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ نَبْنِيَ بِالطُّوبِ وَالْإِسْمَانْتِ.
رَبَّنَا، لَا تَجْعَلْ غَفْلَتَنَا سَبَبًا فِي هَلَاكِ الْأَبْرَارِ، وَلَا تَكْتُبْنَا مِنَ الْمُقَصِّرِينَ الَّذِينَ يَقُولُونَ “قَدَرُ اللَّهِ” وَقُلُوبُهُمْ تَعْلَمُ أَنَّهُمْ فَرَّطُوا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ دُمُوعَ أُمَّهَاتِهِمْ مِفْتَاحًا لِرَحْمَتِكَ، وَآهَاتِ آبَائِهِمْ سُلَّمًا يَرْتَقُونَ بِهِ إِلَى جَنَّاتِ ال��َّعِيمِ.
“Ya Allah, angkatlah derajat para santri yang gugur di sisi-Mu, jadikan darah dan debu mereka sebagai saksi kesucian niat mereka. Ajarkan kepada kami untuk membangun dengan ilmu sebelum kami membangun dengan bata dan semen. Jangan biarkan kelalaian kami menjadi sebab hancurnya jiwa-jiwa suci. Jangan catat kami sebagai hamba yang mudah berlindung di balik kata takdir padahal kami tahu kami telah lalai. Ya Allah, jadikan air mata ibu-ibu mereka kunci rahmat-Mu, dan keluh kesah para ayah mereka tangga menuju surga-Mu yang penuh kedamaian.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen