Release the HOSTAGES! ๐๐๐
Bebaskan para jurnalis dan aktivis yang diculik Zionis Israel!
Dosa Zionis:
โ Genosida
โ Penjajahan
โ Blokade Gaza
โ dst dst sejuta kali
โ NYULIK aktivis dan jurnalis di perairan internasional
SAMPAI KETEMU KAMIS NANTI ๐๐ผ
Spanish Prime Minister Pedro Sรกnchez:
โWe received a letter today demanding that Lamine Yamal be suspended because he raised the Palestinian flag yesterday during the celebrations of FC Barcelona. I think this is something laughable โ asking me to suspend a player simply for raising the Palestinian flag.
I believe FIFA should instead be contacted to prevent you from participating in football because of what you have been doing for more than three years: systematic killing and genocide carried out in the most horrific ways.
Lamine Yamal will be honored, and this flag will become an icon of celebrations in the streets of Spain from today onward.โ
@adnan_basalamah@Outstandjing Yg baca komen mas nya ini dan ga tau kalau memang ada diajarkan dlm fiqh seperti itu dan malah menyalahkan ya krn krg belajar aja. Sblm komen coba riset dlu sndiri
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya โmenyalahkanโ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya โsaham yang belum diberikanโ. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
There's a physicist at Stanford named Safi Bahcall who modeled this exact principle and the math is wild.
He calls it "phase transitions in human networks." When you're stationary, your probability of a lucky event is limited to your existing surface area: the people you already know, the places you already go, the ideas you've already been exposed to. Your opportunity window is fixed.
When you move, your collision rate with new nodes in a network increases nonlinearly. Double your movement (new conversations, new cities, new projects) and your probability of a serendipitous encounter doesn't double. It roughly quadruples. Because each new node connects you to their entire network, not just to them.
Richard Wiseman ran a 10-year study at the University of Hertfordshire tracking self-described "lucky" and "unlucky" people. The single biggest differentiator wasn't IQ, education, or family money. Lucky people scored significantly higher on one trait: openness to experience. They talked to strangers more, varied their routines more, and said yes to invitations at nearly twice the rate.
The "unlucky" group followed the same routes, ate at the same restaurants, and talked to the same 5 people. Their networks were closed loops. No new inputs, no new collisions.
Luck isn't random. Luck is surface area. And surface area is a function of movement.
The lobster emoji is doing more work than most people realize. Lobsters grow by shedding their shell when it gets too tight. The growth requires a period of total vulnerability. No protection, no armor, soft body exposed to the ocean.
That's the cost of movement nobody posts about. You have to be uncomfortable first. The new shell only hardens after you've already moved.
Nonton Dune, ngertiin POV Fremen.
Nonton Star Wars, ngertiin POV Rebel.
Nonton Hunger Games, ngertiin POV Katniss.
Giliran di depan mata liat Hamas di Palestina atau liat Hizbullah di Lebanon, tiba-tiba jadi gak paham kok gerakan ini bisa ada.
Ya menurut ngana?
I think the Imam could have explained better assuming this was how he truly said it.
Yes, a non-Muslim child cannot inherit from the standard Islamic estate distribution. However, saying they are not considered your family is a dangerous misrepresentation of Islam. The Imam used the wrong words.
In our jurisprudence, difference in religion is a barrier to inheritance (Mawani' al-Irth), but it is never a barrier to blood ties (Silat al-Rahim). The Imam claiming a non-Muslim child is no longer your family contradicts the Quran and the Sunnah.
In Surah Luqman, Allah commands a Muslim regarding their polytheist parents:
ููุตูุงุญูุจูููู ูุง ููู ุงูุฏููููููุง ู ูุนูุฑููููุง
"And accompany them in this world with appropriate kindness."
Imam Al-Qurtubi explained that a difference in religion does not invalidate family obligations.
In fact, when we look at the precise wording in Sahih Al-Bukhari, Asma bint Abi Bakr narrated:
ููุฏูู ูุชู ุนูููููู ุฃูู ููู ูููููู ู ูุดูุฑูููุฉู ... ููููููุชู: ุฅูููู ุฃูู ููู ููุฏูู ูุชู ูููููู ุฑูุงุบูุจูุฉูุ ุฃูููุฃูุตููู ุฃูู ูููุ ููุงูู: ููุนูู ูุ ุตูููู ุฃูู ูููู
She asked the Prophet if she should keep ties with her pagan mother who came visiting. The Prophet (peace be upon him) replied: "Yes, keep ties with your mother." He deliberately used the word "Ummaki" confirming her permanent biological right and commanded her to maintain the bond.
Imam An-Nawawi, in his Sharh of Sahih Muslim, stated that it is an Islamic obligation to maintain ties, show kindness, and even spend on non-Muslim relatives if they are in need. The biological rights of the womb remain intact in this world.
Now, letโs address the elephant in the room. Can a non-Muslim child inherit a Muslim parent? The answer is NO. This is not even open to debate.
The legal anchor is the universally accepted Hadith in Sahih Al-Bukhari and Muslim:
ูุง ููุฑูุซู ุงููู ูุณูููู ู ุงููููุงููุฑู ูููุง ุงููููุงููุฑู ุงููู ูุณูููู ู
"A Muslim does not inherit from a disbeliever..."
Imam Ibn Al-Mundhir in his book Al-Ijma documented the consensus here. The scholars of the Ummah agree that a non-Muslim does not inherit from the obligatory shares (Al-Fara'id). The financial succession of the Islamic estate is strictly for those who hold the faith.
This is because inheritance is built on the concept of Muwalah (spiritual and legal alliance). The flow of obligatory wealth follows the flow of spiritual allegiance.
However, Islam is a religion of profound mercy, and this is the major nuance the Imam failed to mention. While the non-Muslim child is blocked from the fixed obligatory shares (Al-Fara'id), the parent is fully permitted to leave them wealth through a Will (Al-Wasiyyah).
A Muslim can will up to one-third of their total estate to anyone outside the legal heirs, including a non-Muslim child. Imam Ibn Qudamah in his book Al-Mughni confirmed there is scholarly consensus that a bequest to a non-Muslim relative is perfectly valid. If Islam did not consider them family, the Shariah would not provide a dedicated legal avenue to ensure they are financially cared for after your death.
And if you want a historical precedent to bulletproof this, Imam Al-Bayhaqi recorded in Al-Sunan Al-Kubra that Safiyyah bint Huyayy, the Mother of the Believers, made a Wasiyyah giving one-third of her estate to her Jewish brother.
If the wife of the Prophet considered her Jewish brother family enough to leave him a third of her wealth through a valid Islamic legal channel, then it shows that while the non-Muslim child cannot inherit, she can still benefit through a Will.
Allah knows best.
Guys Feri Amsari baru saja bilang sesuatu yang perlu lebih banyak orang Indonesia dengar soal Board of Peace.
Dan ini bukan soal perasaan pro Palestina atau pro Amerika.
Ini soal hukum yang sangat konkret.
Indonesia join Board of Peace tanpa persetujuan DPR.
Pasal 11 Undang-Undang Dasar sudah sangat jelas. Presiden mau buat perjanjian soal perang, perdamaian, atau perjanjian internasional apapun harus minta persetujuan DPR dulu sebelum pergi.
Dan setelah pulang โ harus diratifikasi DPR dalam bentuk undang-undang.
Dua-duanya tidak dilakukan.
DPR mengaku masih reses.
Sementara Presiden sudah tanda tangan.
Sudah komitmen kirim 8.000 prajurit TNI ke Gaza. Dan belum ada penjelasan yang jelas soal apa manfaatnya bagi Indonesia.
Feri bilang ini bukan pertama kali.
Hari pertama kabinet dilantik saja Seskab Teddy dilantik tanpa berhenti dari TNI aktif.
Padahal undang-undang TNI tidak mencantumkan sekretaris kabinet sebagai jabatan sipil yang boleh diisi TNI aktif.
Hari pertama sudah langgar undang-undang.
Jadi ini bukan anomali.
Ini pola.
Dan soal 8.000 prajurit yang mau dikirim ini yang paling gw catat dari Feri.
Palestina sendiri sudah bilang jangan kirim pasukan. Tapi Indonesia tetap jalan. Untuk apa? Feri khawatir prajurit kita dijadikan pasukan darat tameng kepentingan Amerika dan Israel sementara perangnya sendiri sudah pakai drone dan teknologi. Yang kena duluan justru manusia di lapangan.
Dan biayanya pakai uang siapa? Nyawanya milik siapa?
Soal argumen ekonomi yang sering dipakai untuk membela keputusan join BOP bahwa kita bisa dapat tarif 0 persen dari Amerika Feri kasih konteks yang menarik.
Mahkamah Agung Amerika sendiri sudah putuskan bahwa Trump tidak boleh tentukan tarif dagang tanpa persetujuan Senat. Artinya tarif yang dijanjikan itu fondasinya sudah digugurkan pengadilan tertinggi Amerika. Dan Trump tetap jalan seenaknya.
Jadi kita berikan konstitusi kita untuk perjanjian dengan orang yang pengadilannya sendiri bilang dia tidak berwenang buat perjanjian itu.
Feri simpulkan dengan satu kalimat yang gw rasa paling jujur.
Ini adalah hari yang gelap untuk konstitusi bangsa ini.
Bukan karena Indonesia tidak boleh punya kepentingan ekonomi. Bukan karena bergaul dengan Amerika itu salah. Tapi karena ketika Presiden sendiri tidak patuh pada konstitusinya dan tidak ada yang bisa mengawasi karena DPR koalisinya satu suara yang hilang bukan cuma prosedur.
Yang hilang adalah jaminan bahwa keputusan sebesar ini yang menyangkut nyawa prajurit dan posisi Indonesia di dunia diambil dengan akuntabilitas yang seharusnya.
US-ISRAELI STRIKES ON IRAN
- Dozens of targets have already been struck, second wave underway.
- Presidential building and Minister of Intelligence among targets.
- Blasts in Qom and Isfahan.
- Israel and Iran both shut their airspace.
- Israel declares state of emergency.
- Reports Iran's Supreme Leader is not in Tehran and has been transferred to a secure location.
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah โgame changeโ yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun โharmoniโ antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah โtake and giveโ. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki โuniquenessโ. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga โpersonal interestโ. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta โlegacyโ indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan โhe must goโ. Berarti, ini merupakan โsurvival interestโ buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang โcommander-in-chiefโ untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut โwar of necessityโ dan โwar of choiceโ. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian โexitโ atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik โ presiden atau perdana menteri โ โSoldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die forโ (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
yang gue banggain dari negara ini:
1. QRIS
2. PT KAI
3. BPJS
4. PMI ๐ซถ๐ป
5. DAMKAR
6. Go-Jek (any kind of ojol)
7. warga yang asbun ๐ค
8. satpam BCA