Ada apa dengan kepolisian?
Kasus perwira polisi tembak mati polisi kembali terjadi.
Ini malah di markas kepolisian.
Turut berduka untuk keluarga korban.
#SavePolri#Kasatreskrim#KabagOps#PolresSolokSelatan
https://t.co/uQVIzuooBF
Zarof Ricar, 10 tahun dadi makelar raih pendapatan hampir Rp1 triliun dan 51 Kg emas...
Sampean2 seng banting tulang awan-bengi, saldo tabunganmu pira?
https://t.co/zzqrf6JoJR
SBY SINDIR JKW
Jokowi
Saya tahu dalamnya partai2 seperti apa, saya dapat laporan dari intelijen BIN, Polri dll semuanya lengkap
SBY
Saya gak pernah gunakan BIN utk memata-matai lawan politik, mrk bukan musuh negara dan saya gak pernah selingkuhi konstitusi
From this To this
JOKOWI LEMAH
Ada pandangan yang menyatakan Jokowi sangat kuat. Mereka menganggap bahwa politik Indonesia saat ini ada di dalam genggaman Jokowi. Mereka menganggap munculnya kekuatan politik besar dalam Pilkada dan Pilpres sebelumnya menunjukkan betapa hebatnya putra Solo itu. Dia dianggap bisa mengendalikan partai-partai politik.
Satu-satunya partai yang dianggap belum bisa dikendalikan Jokowi adalah PDI Perjuangan. Karena tidak bisa dikendalikan, Jokowi dianggap berada di belakang keputusan partai-partai politik mengucilkan PDI Perjuangan. Di beberapa wilayah seperti Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur, PDI Perjuangan terancam tidak memiliki mitra partai untuk mengusung calon gubernur karena nyaris semua partai yang punya kursi di DPRD diborong koalisi besar. Dan disinyalir ada Jokowi di balik koalisi raksasa itu.
Menurut saya, sebenarnya Jokowi bukan hebat. Situasi sekarang justru membuktikan bahwa dia lemah. Situasi demokrasi yang nyaris porak-poranda ini membuktikan Jokowi sebetulnya rapuh, dia tak kuasa membendung arus politik lama yang terus menerus menggerus demokrasi.
Upaya untuk melemahkan demokrasi sudah muncul sejak pemerintahan SBY. Waktu itu KPK juga ingin dilemahkan, tapi SBY melawan. Pemilihan langsung juga ingin dihapus, tapi SBY menolak.
Di zaman Jokowi, keinginan itu muncul lagi. Keinginan untuk mengembalikan sistem politik lama di mana yang menentukan pemimpin bukan rakyat secara langsung, melainkan elit, selalu ada. Bedanya adalah respons dari pemimpin.
Di pemerintahan sekarang, keinginan kekuatan politik lama itu terlihat lebih berkembang. Tak ada perlawanan dari Jokowi. Pelemahan KPK terjadi. Ketika muncul upaya menghapus pemilihan langsung, penambahan periode, dan kembalinya MPRisme, Jokowi tidak punya pendapat. Untung ada Megawati yang melawan.
Sekarang ketika partai-partai berkomplot mengebiri Pilkada, Jokowi ikut arus. Jokowi terlihat sangat lemah, tidak punya komitmen demokrasi. Dia sangat rapuh di hadapan kekuatan politik lama yang ingin sepenuhnya berkuasa tanpa interupsi.
Selemah itu Jokowi. Padahal awalnya, Jokowi adalah seperti tulisan pada majalah Time: A New Hope. Tapi yang justru terjadi adalah dia ternyata tidak lebih dari sekadar harapan yang tidak terpenuhi. Jokowi ternyata adalah ekspektasi yang terlalu muluk. Wajar jika banyak yang kecewa.
Depok, 6 Agustus 2024
SAIDIMAN AHMAD