sudah ku bilang, interseksionalitas memang diperlukan dalam semua gerakan. susah nuntut kemurnian ideologi ke orang yg kebutuhan rasa amannya saja masih sangat bergantung sama penerimaan lingkungannya wkwk.
bnyk bngt org di medsos yg kena main character syndrome berkedok empati. niat awalnya (mungkin) mau speak up tp ujung-ujungnya malah clout chasing pakai trauma korban sendiri. padahal di ranah penanganan krisis klinis, data medis dan kronologi privat penyintas itu sakral
masalahnya konstruksi sosial itu dibilang sukses ketika perempuan ngerasa ngelakuinnya secara 'sukarela'. betul itu bisa jadi act of service tp pernah kepikiran ga knp bentuk act of service perempuan kok default-nya ngarah ke pelayanan domestik? -
setuju banget 100% soal jngn nge-shaming atau nyerang individu atas pilihan hidupnya. musuh kita itu sistemnya, bukan perempuannya. tapi manusia itu ga pernah bikin keputusan di ruang vakum. pilihan utk menjadi full-time housewife atau bergantung finansial itu sngt dipengaruhi -
"Sy menolak umat kristen dan pembangunan gereja. Tapi kalau digusur sampe dibubari itu terlalu berlebihan sih."
You def sound like this.
Hipokrit, munafik, dan cuci tangan buat jaga image "sy gak barbar kyk mereka". padahal lu adalah bystander yg melanggengkan diskriminasi.
contoh nyata melanggengkan penindasan dengan ngomong "aku gak mendukung dan tidak setuju terhadap LGBTQ+ tapi ak juga menolak kekerasan" LMAOOO FUNNY 😹
saya yg jawab boleh? kucing engga ngalamin diskriminasi struktural, engga diusir dri kontrakan dan engga dipukulin massal karena identitasnya. "tidak setuju" sm hobi atau benda mati itu wajar tp "tidak setuju" dengan eksistensi atau identitas manusia lain? itu namanya prejudice
- pake terms klasis kaya ‘kampungan’ dan ‘mental miskin’ buat call out orang yang ngelanggar peraturan, ✅
- ngejek pemerintah pake kaum marjinal (kayak penyandang disabilitas) sebagai punchline. ✅
buat temen-temen queer yg religius, ini tuh soal kedewasaan kognitif. mrk udh di tahap bisa misahin antara 'Sang Pencipta yg Maha Kasih' dngn 'tafsir dogma buatan manusia' yg sring disusupi sistem patriarki berabad-abad. mrka stay buat Tuhannya, bkn buat institusi agamanya
fenomena klasik dari orang-orang yg terjebak di performative activism itu suka vokal soal gender equality krna isunya udah lumayan "aman" dan nguntungin buat personal branding tp giliran dihadapin sm isu queer yg masih punya stigma berlapis di masyarakat langsung lembek
Liat orang ciuman : videoin, hakimin, viralin
Liat orang dilecehin : "tunggu dari dua sisi dulu deh, kan kita ga bisa juga ngejudge dari satu sisi doang. siapa tau dia juga yang salah"
Liat orang ciuman : videoin, hakimin, viralin
Liat orang dilecehin : "lagian dia juga sih..."