#koleksipribadi#ripguruhsoekarnoputra
Chopin Larung adalah salah satu mahakarya paling mistis, megah, dan berani dalam sejarah musik Indonesia. Karya Guruh Soekarnoputra dan Roni Harahap meramu idiom pentatonik Majapahit dan Bali dengan sentuhan ala Frederic Chopin
Berita duka, Guruh Soekarnoputra wafat pada hari Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB dalam usia 73 tahun di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Jakarta. Alamat Rumah Duka Jl. Sriwijaya Raya No. 26
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
Kembali lagi membahas mengenai wacana mengubah batas ketinggian bangunan di Bali dari 15 meter menjadi 45 meter.
Pertanyaan paling penting yang menurut kami harus dijawab sebelum aturan diubah adalah:
“Masalah apa yang sebenarnya ingin diselesaikan oleh bangunan 45 meter di Bali?”
Karena mimin melihat tujuannya hanya mengejar volume investasi atau jumlah wisatawan, dan Bali akan membayar harga jangka panjang yang terlalu mahal: kehilangan karakter yang justru menjadi alasan dunia datang ke Bali.
Jika muncul banyak bangunan 10–15 lantai, terutama di kawasan pariwisata, lanskap Bali bisa berubah drastis menjadi lebih urban seperti destinasi mass tourism lain di Asia Tenggara.
Konsekuensinya:
• skyline pantai dan persawahan berubah,
• dominasi visual pura atau elemen budaya berkurang,
• pengalaman “Bali” menjadi kurang otentik.
Bagi Bali, ini penting karena produk utama Bali sebenarnya bukan gedung, melainkan atmosfer, budaya, lanskap, dan sense of place.
Berdirinya bangunan-bangunan tinggi juga membawa risiko mempercepat over tourism dan tekanan lingkungan.
Ini terkait dengan isu yang kami angkat sebelumnya tentang kebocoran ekonomi dan menjamurnya akomodasi yang kurang memberi multiplier effect lokal.
Jika pembangunan vertikal didominasi investor besar, ada risiko:
• keuntungan lebih banyak keluar Bali,
• UMKM lokal kalah bersaing,
• homestay, vila keluarga, usaha lokal semakin terdesak,
• masyarakat lokal makin sulit mengakses tanah dan hunian.
Pertanyaannya bukan hanya “berapa wisatawan datang?”,
tetapi “siapa yang paling mendapat manfaat ekonomi?”.
Bali mungkin perlu bergeser dari paradigma “more tourists” menjadi “better tourism”—wisatawan yang lebih berkualitas, lama tinggal lebih panjang, dan pengeluaran lebih tinggi, bukan sekadar menambah kapasitas kamar.
Gw paham correlation is not causation
Tapi publik boleh bertanya, kok sejak rilis aplikasi senilai 1,3T itu:
-Penerimaan Pajak 2025 shortfall, hanya tercapai 87% dari target
-Pelaporan SPT 2025 jauh dari target
Apakah hal di atas bisa jadi dasar "kerugian negara" untuk diusut?