@PSSleman@KFCINDONESIA@yesplisofficial Sudah janji sama anak nonton, war tiket antri jari 18:30 , udah mau bayar mbalik, ngisi data mbalik, trakhir bisa masuk habis .. masih ada tiket 1 vip tengah, masak ya anak ku 5 tahun tak kon nonton dewe 😩
Johnny Gosch Hilang Pada Tahun 1982, 15 Tahun kemudian dia Kembali dengan membawa Berita Buruk
Johnny Gosch berusia 12 tahun pada tahun 1982. Kala itu, dia diketahui memiliki kerja part-time sebagai pengantar koran untuk mendapatkan uang jajan tambahan. Dalam menjalani kesehariannya ini, dia bangun sebelum matahari terbit setiap pagi dan mengantarkan koran di sekitaran Des Moines Barat, Iowa—yang saat itu berpenduduk sekitar 22.000 jiwa.
Gosch tidak pernah mengirimkan surat kabar terlambat. Itulah kenapa ketika pada pagi hari tanggal 5 September 1982, ketika orang tuanya mulai menerima telepon dari tetangga yang menanyakan apa yang terjadi dengan surat kabar mereka, orang tua Gosch langsung menyadari ada yang tidak beres.
Sedari kemarin, kayaknya lagi ramai masalah megathrust. Sampai gue semalam pas lagi tidur dihubungi juga.
Gue bantu jelasin dikit yaa. Semoga ini membantu.
Sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa mengetahui kapan terjadinya gempa. Jadi stop nanya kapan terjadinya.
KASUS KEMATIAN KELUARGA CHUNDAWAT (2018)
11 anggota keluarga ditemukan tewas tergantung di langit-langit rumah dengan kondisi tangan terikat, mulut disumpal, dan mata ditutup kain. Diduga mereka sedang menjalani sebuah ritual aneh
Calcio telah mati. Seiring idola pada poster di kamar kalian memutuskan pensiun, menjadi gendut, dan tua tak terelakkan.
Calcio is already dead. When El Shaarawy, Scamacca, and Chiesa leading their line.
Sepenuhnya didikte Xhaka. Didominasi tanpa punya rencana. Tidak ada tanda-tanda serangan balik akan menjadi sebuah skema. Tatkala sepakan mengarah ke gawang saja baru tercipta pada menit ke-73, setelah tertinggal 0-2.
Sah mengategorikan kesuksesan juara pada Piala Eropa 2020 sebagai keajaiban. Terjadi di antara aib dua kali beruntun gagal tembus Piala Dunia. Berlangsung pada momen pandemi yang serba sulit dicerna akal sehat.
Mungkin sebetulnya itu serupa dengan pencapaian Portugal pada 2016 yang finis di peringkat ketiga grup dan juara berkat sepakan pemain obscure, Eder.
Juga Yunani pada 2004 dan Denmark pada 1992 yang dongengnya kali ini tidak perlu lagi diceritakan. Generasi kakek mereka bahkan pernah melenggang ke final berkat lemparan koin, lalu keluar sebagai juara pada 1968.
Bagi beberapa orang yang kurang punya sensibilitas romantik, 'keajaiban' itu tampak tak lebih dari sekadar 'keberuntungan'. Happy go lucky. Sebagian besar lainnya masih menganggap itu buah manis dari kerja keras. Not the cynical.
Apa boleh buat, calcio hari ini mesti menjadi menarik berkat bantuan nostalgia. Berupa kuncir kuda ikonik Baggio. Kehangatan persahabatan Totti-Del Piero. Cara bertahan elegan Maldini-Nesta. Juga doa untuk Buffon yang harusnya terus awet muda.
Apa yang ada hanya Donnarumma yang elite, tapi cemar tanpa sikap setia. Regista terbaik yang tidak pernah merumput di Serie-A. Immobile yang tumpul sepanjang musim, lalu tersisih secara alamiah. Kumpulan pemain/pelatih yang seperti hilang magis setelah dibuai uang besar MLS dan Liga Cina.
Heyday Serie-A telah lama berakhir. Selain gerbong pemain Inter, klub mana yang menyumbang lebih dari satu pemain teramat mumpuni untuk diandalkan? Tifosi tidak perlu banyak berharap kalau Barella yang justru menjadi pemain dengan gol terbanyak di skuad sekarang.
Tidak ada satupun pemain Italia yang bersaing memperebutkan Capocannoniere musim lalu. Telah lama orang Italia tidak masuk dalam percakapan perebutan Ballon D'Or. Semakin mengkhawatirkan seandainya Gnonto dianggap representasi utama masa depan Gli Azzurri.
Talisman para tim juara Serie-A belakangan juga bukan wajah lokal. Lautaro, Osimhen-Kvara, Giroud-Leao, Cristiano, dan tarik terus sampai 2006.
Bermunculan pelatih hebat, tapi tidak berjalan beriringan dengan regenerasi pemain. Mereka mekar di level klub dengan keleluasaan memiliki SDM tanpa peduli kewarganegaraan.
Sepanjang Piala Eropa ini, kita dipaksa menganggap calcio baik-baik saja. Berkat status juara bertahan. Berkat tampilan retro Calafiori yang dianggap cogan.
Berlin pada 2006 tak sama dengan Berlin 2024. Kisah Italia kembali tuntas di sana, tapi dengan perasaan berbeda.
Kini, apa yang tersisa dari calcio terpaksa melulu nostalgia. Mau tak mau, anda harus mengakuinya.
Il calcio è morto. Arrivederci.
#EURO2024
#SUIITA 🇨🇭🇮🇹
▪︎
📝: @oomrahman/@Box2BoxBola