Ada yang janggal dari cara Presiden ngomongin alokasi anggaran negara kemarin.
“Saya dapat laporan SEA Games 1 miliar, ini Asian Games saya kasih 3 miliar.”
Kata kuncinya ada di frasa “saya kasih”. Bukan “pemerintah mengalokasikan sesuai aturan”, bukan “hasil kajian Kemenpora dan Kemenkeu”, tapi “saya kasih”.
Di sini masalah etika publiknya.
Pertama, uang negara itu bukan milik pribadi.
Presiden bukan lagi pakai uang sendiri. Beliau lagi membelanjakan APBN di atas panggung seolah bagi-bagi amplop pribadi. Kebijakan miliaran rupiah dilempar gitu aja secara spontan: tanpa sebut sumber dana, tanpa kejelasan Perpres/Kepmen, dan tanpa batasan berapa medali yang dianggarkan. Kalau dapet 4 emas, total 12 miliar. Kalau tembus 10 emas? Siapa yang nanggung? Ya rakyat.
Kedua, meritokrasi main diterobos.
Bagian paling bikin geleng-geleng itu pas ngomongin karier: “saya bisikin Kapolri, naikin pangkatlah, jangan pelit”. Ini kaya pengakuan terbuka kalau kenaikan pangkat di TNI, Polri, atau PNS bisa diatur lewat bisikan. Aturan kepegawaian resmi cuma jadi pajangan. Kalau pangkat bisa naik cuma gara-gara "bisikan", besok-besok bisikan kaya gini bisa dipakai buat hal apa lagi? Ini bukan sekadar apresiasi atlet, tapi patronase.
Ketiga, gampang banget obral janji.
Bonus 3 miliar, naik pangkat, sampai jaminan masuk BUMN diomongin dalam satu napas. Sementara urusan birokrasi lain yang jauh lebih krusial malah sering lambat atau diabaikan.
Pola begini riskan banget: Prestasi dibeli pakai janji manis di depan kamera, tapi aturan dan tata kelola dikorbankan di belakang.
Menurut hemat kami, Ngehargain atlet itu wajib. Tapi cara menyampaikannya ngeliatin cara pikir yang bermasalah:
Negara dianggap kaya milik sendiri, aturan dianggap penghambat, dan etika pejabat publik dianggap opsional.
Asia Tenggara drpd fokus gedein pariwisata mending fokus industrialisasi dan agraria
Karena pariwisata asia tenggara selama ini hanya diisi turis2 kurangajar dan Bule2 Pedo
Ngapain kasihanin perempuan yg “cantik tapi jomblo”, mendingan kasihanin perempuan yg “cantik tapi pasangannya tidak ganteng” (dan paket lengkap perokok+pemalas+abuser)🙂↕️
(Supaya lebih tepat sih tadinya mau pake kata “ugly” lagi tapi ntar ada yg ngamuk lagi di Replies)
Ga enak lah, enakan jadi uncle & aunty. Pas ponakan lagi lucu & kalem bisa diajak main & becandaan, kalau tiba-tiba bandel atau tantrum tinggal balikin ke ortunya.
Padahal trend gundul sebelum wamil itu umum.
Yang gak umum itu NGELIVE pas udah GUNDUL gaada ANGIN gaada HUJAN dan seketika itu juga pamitan "halo guys gw pamit wamil ya" 😭😭😭
Woelah, min. Presidenmu cuma lulusan SMA akhir taun 60an. Denger kata vulkanologi sama geofisika, dia anggap sama. Sama-sama urusan bumi.
Iya, yg kelen pilih jadi presiden itu fosil baryonyx
Terlepas dari caption akun ini, memang parah ini sudah. Rusak birokrasi pemerintahan.
Sudah banyak yg ingatkan, Teddy itu hanya eselon 2, duduk di sana saja ndak pantas, ada Mensesneg di sana, atasan Teddy 2 tingkat.
Jangan2 dugaan banyak pihak penyebab kenapa pemerintahah pak Prabowo ini amatir, dan tak sesuai dgn gagasan2nya saat belum jadi Presiden, ya karena sebenarnya pemerintahan ini dikendalikan Teddy, yg jelas masih amatiran.
Amsiong wis....
berharap apa? ke jurnalis istana aja cara ngomongnya si Teddy begini.
that’s why i said he’s THE WORST, kontributor utama yang bikin negara acak-acakan.