Guys, ada perbandingan yang menurut gue paling mengena dan paling jujur tentang isu perjalanan luar negeri presiden yang lagi ramai diperdebatkan sekarang.
Gus Dur ketika ditanya di KKDI tentang perjalanan luar negerinya yang 80 kali dalam 20 bulan jawabannya langsung, tanpa basa-basi, dan tidak ada yang membela atau menjelaskan dari belakang.
Jawabannya cuma satu kalimat:
"Tugas saya cuma satu membuat supaya integritas wilayah Indonesia tetap. Itu aja."
Dan ini konteksnya yang paling penting:
Gus Dur pergi 80 kali ke luar negeri dalam 20 bulan. Rata-rata empat kali per bulan.
Biayanya mencapai Rp52,7 miliar angka yang besar untuk zamannya.
Ketika dikritik dan dituduh jalan-jalan pakai uang negara Gus Dur tidak minta juru bicara yang membela.
Tidak ada pejabat DPR yang bilang pengkritiknya "kurang etis."
Tidak ada yang bilang kritiknya "tidak produktif" atau "serangan politik membabi buta."
Gus Dur menjawab sendiri.
Langsung.
Di depan kamera.
Dengan satu argumen yang tidak bisa dibantah:
"Eksistensi Indonesia sebagai satu negara harganya jauh lebih tinggi dari Rp52,7 miliar.
Jadi enggak bisa dipersoalkan."
Dan ini perbedaan yang paling fundamental:
Gus Dur pergi ke luar negeri di tengah Indonesia yang sedang terancam pecah.
Aceh minta merdeka.
Papua bergolak.
Timor Timur baru lepas.
Separatisme ada di mana-mana.
Setiap kunjungan Gus Dur punya satu tujuan yang sangat spesifik dan terukur:
meyakinkan dunia bahwa Indonesia tetap satu.
Dan hasilnya bisa diukur:
Indonesia tidak pecah.
Sekarang pertanyaan yang sama perlu dijawab untuk setiap kunjungan luar negeri presiden saat ini:
apa tujuan spesifiknya dan apa hasilnya yang terukur?
Tiga kali ke Paris dalam setahun hasilnya instruksi Bahasa Prancis wajib di semua sekolah tanpa roadmap. Ke Brasil hasilnya instruksi Bahasa Portugis yang sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya.
Ke berbagai negara hasilnya janji investasi yang sebagian besar tidak bisa diverifikasi angka realisasinya.
Dan ini yang paling menohok dari cara Gus Dur menjawab kritik:
Ketika ditanya apakah perjalanannya itu aji mumpung Gus Dur tidak marah.
Tidak menyuruh orang lain membungkam pengkritiknya. Justru dia bilang dengan santai:
"Nanti sejarah akan membuktikan."
Dan sejarah memang membuktikan.
Integritas wilayah Indonesia tetap terjaga. T
idak ada yang bisa membantah itu.
Sekarang ketika Dino Patti Djalal mengkritik intensitas perjalanan presiden dengan data yang spesifik respons yang keluar bukan dari presiden sendiri yang menjelaskan tujuan dan hasil perjalanannya.
Respons yang keluar dari anggota DPR yang mengatakan kritik itu "kurang etis" dan "membabi buta."
Dan ini yang paling menggelikan:
Habiburokhman bilang di negara maju mantan pejabat tidak mengkritik penerusnya.
Tapi Gus Dur yang dikritik dan dilengserkan justru tidak pernah berhenti bicara.
Tidak pernah diam.
Terus mengkritik siapapun yang dia anggap salah, termasuk penerusnya, termasuk yang melengserkannya. D
an tidak ada yang berani bilang ke Gus Dur bahwa dia "kurang etis" karena mengkritik.
Kenapa? Karena Gus Dur punya argumen.
Dan ketika punya argumen yang kuat orang tidak berani menutupnya dengan label etika.
Gus Dur pergi 80 kali dalam 20 bulan dengan satu misi yang jelas dan hasil yang terukur.
Ketika dikritik dia menjawab langsung dengan argumen bukan menyuruh orang lain membungkam pengkritiknya.
Prabowo pergi ke luar negeri sekitar satu dari setiap enam hari masa jabatannya.
Ketika dikritik oleh mantan Wamenlu yang paling berkompeten untuk menilai efektivitas diplomasi respons yang keluar adalah "kurang etis."
Bukan soal siapa yang lebih sering keluar negeri.
Tapi soal apakah setiap perjalanan itu punya tujuan yang jelas dan apakah ketika dikritik pemimpinnya cukup berani untuk menjawab sendiri dengan argumen.
Gus Dur menjawab. Dan itu yang membuatnya beda.
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
BEAUTY AND THE BAG
The next chapter of the campaign continues with Global Brand Ambassador #NINGNING from @aespa_official and the new #GucciPaparazzo handbag, captured by Mert and Marcus.
Discover more https://t.co/T3CFJz5um1
#aespa
BEAUTY AND THE BAG
The next chapter of the campaign continues with Global Brand Ambassador #NINGNING from @aespa_official and the new #GucciPaparazzo handbag, captured by Mert and Marcus.
Discover more https://t.co/T3CFJz5um1
#aespa