Belakangan kembali suka baca. Kebanyakan buku anak2 yang ngasi letupan2 kebahagian kecil dan buat perasaan jd sedikit lebih hangat.
So, here the thread!
(mungkin di perjalanan thread ini gak semua berisi buku anak2)
They began to talk in a friendly way about this and that, and Piglet said, βIf you see what I mean, Pooh,β and Pooh said, βItβs just what I think myself, Piglet,β and Piglet said, βBut, on the other hand, Pooh, we must remember,β and Pooh said, βQuite true, Piglet.β ~A.A.Milne
ANAK BERBAKAT TIDAK BISA DIAJARI
Oleh: Guruh Ramdani
Sejauh pengamatan saya, anak-anak yang langganan juara melukis di masa kanak-kanak (dalam pengertian lukisan dengan media Oil Pastel, bergradasi warna serupa pelangi, dan tidak ada pembeda antara karya anak satu dengan lainnya), apalagi juara lomba mewarnai, sangat jarang yang jadi seniman hebat ketika mereka sudah besar (*).
Karena imajinasi mereka tidak berkembang sesuai hakikatnya, dan dipola secara sejak dini oleh pendidikan sanggar. Sehingga sepintas lalu memang gambarnya bagus. Tapi tidak ada beda antara anak sanggar satu dengan yang lainnya, atau kesan keseluruhannya, "seragam".
Dulu saya kenal dengan seorang pelukis cilik yang langganan juara, bahkan sampai mendapatkan prestasi internasional, dan pada waktu itu (tahun 1980-an) sudah hebat sekali bisa diliput TVRI. Tapi tragisnya, test masuk ke Perguruan Tinggi Seni Rupa saja dia tidak lolos. Hari ini raib, tidak ada kabarnya, dan eksistensinya di bidang seni rupa pun tidak pernah terdengar sama sekali.
Itu pula yang menyebabkan saya tidak pernah mau menerima murid menggambar dengan usia di bawah 16 tahun. Karena.saya takut merusak kekayaan imajinasi di usia emas mereka yang sangat berharga. Karena hakekat seni itu harus kreatif, unik, orsinil, dan imajinatif. Jika sesuatu menjadi seragam, sama antara satu dengan yang lainnya, ya sudah jadi kerajinan, atau mungkin militer, namanya, bukan seni.
Secara mental, anak-anak yang dipola dengan didikan semacam itu, karena sering menang pada saat lomba. Maka secara otomatis keputusan lomba (yang dilembagakan oleh panitia, dan memberikan kekuasaan) tersebut dianggap sebagai sarana untuk meneguhkan keyakinan bahwa "gambar saya hebat, dan gambar yang demikianlah yang benar".
Celakanya, jika hal ini sudah menjadi ideologi (keyakinan palsu) akan membuat sang anak yang belum kuat daya saringnya untuk menentukan soal benar-salah (karena wawasannya masih terbatas, baik dalam soal kemungkinan-kemungkinan dalam hidup, maupun dalam soal seni rupa yang merupakan samudra yang luas tersendiri mempersoalkan estetika dan imajinasi (kerja otak kanan), daripada soal benar-salah yang jadi ranah otak kiri) akan mandeg kemampuannya pada titik tersebut, dan di level berikutnya, atau ketika mendapatkan pelajaran yang lebih tinggi dengan guru yang lain, "secara otomatis akan ditolak oleh alam bawah sadarnya".
Lebih jelasnya begini, dalam level anak-anak, gambar dia yang seperti itu memang bagus, namun ketika sudah dewasa, gambar seperti itu tidak akan mewakili ekspresi orang dewasa, dan akan dianggap sebagai gambar anak kecil (tentu pembicaraan mengenai konteks faham "Naifisme" berada dalam ruang perdebatan tersendiri yang tidak bisa diabaikan).
Orang dewasa, pasar kerja, dan dunia seni rupa akan minta seorang seniman mempunyai kemampuan banyak hal, entah itu gambar ilustrasi, kartun, lukisan realisme, pengetahuan akan alat dan bahan yang beragam, kemampuan memahami perspektif, cahaya, bayangan, anatomi, draperi, karakter atau orsinalitas visual maupun gagasan, dan sebagainya. Bukan hanya merupakan gambar dekoratif tanpa dituntut pengaplikasian hukum perspektif serta dibuat hanya menggunakan pastel atau Crayon dengan gradasi warna yang berulang seperti itu-itu saja, dan susah dibedakan antara gambar perupa yang satu dengan lainnya.
Nah, faktanya yang sering juara dengan pola seperti di atas itu mayoritas tidak mau keluar dari zona nyamannya, dan ketika masuk ke perguruan tinggi, materi test-nya jauh berbeda dengan ketika lomba, alat yang wajib dipergunakan pada saat test-nya pun bukan Crayon dan Pastel.
Saya pun pernah punya peserta kursus yang seperti itu, dan mendidiknya menggambar bentuk, dari pertemuan satu hingga delapan, karena tidak mau merubah mindset-nya (dari apa yang diyakini sebagai kebenaran sebelumnya) gambarnya tidak ada perubahan sama sekali, pada pertemuan ke sembilan dia frustasi, dan tidak pernah nongol lagi.
Seperti sebuah ungkapan, "supaya ilmu mudah masuk, diperlukan kerendahan hati". Jika mentalitas juara diiringi kerendahan hati untuk selalu belajar dan menerima serta melihat kemungkinan baru, maka sang anak akan lolos, dan di masa depan serta punya peluang untuk berprofesi di bidang seni atau menjadi seniman besar.
Tapi seberapa banyak yang demikian? Mentalitas umum yang terbentuk justru, ketika dia biasa juara lalu kalah, maka "dia akan mengidentifikasikan dirinya salah", situasi ini diperparah oleh ambisi orang tuanya yang selalu menuntut dia untuk jadi juara yang turut menyalahkannya juga. Karena sudah tidak asyik lagi dan jenuh dengan melukis, maka tidak mengherankan jika di masa yang seharusnya mereka tampil dengan maksimal saat dewasa justru mentalnya sudah ngedrop karena sudah βenegβ, dan mengakibatkannya mogok untuk berkarya lagi.
Lantas apakah dengan demikian, berarti memasukan anak ke sanggar itu jelek? Ya tidak demikian juga. Ada juga sanggar-sanggar yang memang berorientasi pada mengeksplorasi potensi dan keunikan masing-masing anak, bukan memolanya dan mencetak mereka (supaya selalu) jadi juara. Cuma saya yakin sanggar yang demikian muridnya sedikit, alias tidak laku. Karena repotnya, orang tua juga punya ambisi lain ketika memasukkan anak ke sanggar, yaitu hasilnya harus juara lomba, dan prestasinya bisa dipakai untuk mendaftar sekolah melalui jalur prestasi. Rumit dan tidak sederhana memang. Situasi ini seringkali justru membuat si anak depresi dan tidak asyik lagi saat berkarya yang seharusnya merupakan ekspresi diri, karena diperlakukan sebagai objek (pemenuhan ambisi orang tuanya), bukannya dididik selaku subjek yang unik, punya kesadaran diri, mampu menjadi diri sendiri, dan tumbuh dibesarkan dengan imajinasinya.
Pada hakekatnya anak berbakat itu tidak bisa diajari, karena kemampuannya sudah melekat dalam dirinya secara alamiah. Hal terbaik yang bisa dilakukan untuk mendidik anak yang berbakat itu adalah dengan memberinya stimulus (rangsangan) saja untuk mengasah potensinya tersebut. Bukan memolanya dan mencetaknya menjadi foto copy sang guru.
Maka di akademi-akademi Seni Rupa seperti di Fakultas Seni Rupa Isi Jogjakarta, biasanya mereka hanya ditugaskan untuk menggambar atau melukis suatu objek sesuai dengan kreatifitas, persepsi masing-masing. Tidak perlu ada yang sama.
Ketika sang dosen membahas karya mahasiswa A dari sudut (style/isme/corak) tertentu, misalkan realis, maka chanel pembahasannya berada dalam perspektif realis, ketika karya mahasiswa B mempunyai kecenderungan untuk menghasilkan karya dengan corak impresionisme, maka sang dosen akan memindahkan chanel di pikirannya, dan mendiskusikannya dari sudut pandang tersebut, yang lain lagi mungkin ekspresionisme, abstraksionisme, romantikisme, surealisme, dan sebagainnya. Tidak ada salah dan benar, yang ada adalah, "dari sudut pandang style anu lukisan atau gambar tersebut belum maksimal, temanya perlu dipertajam lagi dari sisiβ¦, sebaiknya disarankan begini, komposisinya akan lebih menarik jika,.. dan seterusnya". Minggu depan mahasiswa yang sama dengan style yang sama namun dengan karya yang berbeda, bisa jadi akan mendapat penekanan pembahasan pada soal lainnya lagi. Tidak akan sama persis yang dibahas.
Secara umum, selama menempuh studi para mahasiswa akan meraba-raba kecenderungan umum diri sendiri, sampai akhirnya merasa nyaman di satu titik dan menemukan gaya pribadinya.
Sehingga tatkala lulus, dalam satu angkatan, masing-masing tidak ada karya yang serupa, baik style, kecenderungan warna, maupun temanya. Coba di-Googling lukisan karya perupa Indonesia yang sudah mendunia, βNyoman Masriadi, Heri Dono, Eddie Hara, Ivan Sagito, Agus Kamal,β tidak ada yang sama antara satu dengan yang lainnya.
Jika anak-anak kita masih kecil, berikan saja sarana atau alat-alat pendukungnya, sediakan dan fasilitasi saja peralatan secukupnya, jangan diumbar juga (karena kalau diumbar biasanya berkaryanya sesuka hati tanpa arah), kalau sudah habis baru beli lagi. Berikan stimulus saja untuk merangsang dan memperkaya imajinasinya, entah film animasi, bahan bacaan yang banyak ilustrasinya, komik juga tidak apa-apa. Sebaiknya diberikan yang bervariasi bentuknya. Dan amati kecenderungan serta minatnya, biasanya ada yang benar-benar dia suka akan digambar terus menerus dalam kurun waktu tertentu. Biarkan saja, dan kesukaan dia menggambar sesuatu biasanya berubah seiring waktu, ketika dia sudah bosan di situ dia akan belajar hal baru. Seiring usia (SMP ke atas) peralatannya juga harus lebih variatif, jangan sejenis dan mentok di pensil warna atau crayon dan pastel, beri mereka cat air, cat poster, cat minyak, yang menuntut gerak motorik dan olah raya yang berbeda dengan pensil, crayon, atau pastel. Sehingga rasa hausakan belajarnya terjaga. Begitu seterusnya, sampai berkembang.
Ikut lomba juga tidak masalah, ikut saja, tapi orang tua harus hati-hati dan jangan menarget dia untuk menang. Kalau menang syukur, kalau tidak, hitung-hitung latihan mental supaya dia belajar berbesar jiwa. Karena belajar berbesar jiwa mengakui keunggulan orang lain lebih sulit daripada belajar untuk menang, dan hal itu sangat bermanfaat ketika mereka dewasa kelak. Menjadi juara sebaiknya dipandang sebagai sebuah hadiah dan buah dari kerja keras, tapi bukan keharusan. Karena siapa tahu orang lain sesungguhnya lebih keras usahanya dari kita.
Lagi pula kenyataan hidup (yang akan dihadapi anak kelak) bukan hanya melulu soal, "saya adalah yang terbaik, dan harus selalu menjadi yang terbaik," yang seringkali membuat mereka menjadi egois, mau menang sendiri, anti sosial, dan tidak bisa toleran terhadap kekurangan orang. Tapi juga menyangkut sikap kesalingtergantungan satu sama lain, atau berbagi peran.
(*) hipotesa saya bisa salah. Untuk itu bagi yang punya data silakan beritahu saya, siapa nama senimannya, serta apa saja deretan prestasinya di masa kecilnya (saya sangat terbuka dalam hal ini, dan akan sangat berterima kasih sekali jika ada datanya).
Saya sendiri mengenal beberapa orang pelukis yang hebat dari sejak dini, mereka jago lomba dan sering juara, serta eksis hingga dewasa sebagai pelukis, di antaranya pelukis Dadan Gandara (almarhum) dan Lini Natalini Widhiasi. Akan tetapi lukisan mereka di kala anak-anak tidak seperti yang saya sebutkan di atas. Atau dengan kata lain karya-karya mereka punya karakter.
Semoga bermanfaat.
Kerjaan pasutri dini hari; ngakakin lagu dangdut jadul yang judulnya "acong amir jadi". iya judulnya itu, ngakak sampe bengek π
Mana didengerin sampe akhir. Tolong π