Do’anya cantik banget :
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ketidakpastian masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, dari pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak balik, dari penghianatan manusia dan cinta yang salah.”
@rentheaperra@tanyakanrl Cuma ganti nama panggilan aja kak, kalau harus ganti nama lengkap ribet ngurus administrasi dulu huhu, sementara waktu itu tidak punya waktu sebanyak itu
postingan ini bakalan lewat tl kamu di waktu yang tepat.
jadi gini.. di 5-10 tahun ke depan, pasti kamu udah punya keluarga yang manis, harmonis, bahagia. rumahnya penuh tawa terus punya suami/istri yang selalu jadi partner terbaik, saling support tanpa drama berat.
kamu juga udah di titik karier yang kamu banggakan. kerjaan yang nggak cuma bikin kenyang perut, tapi juga jiwa. rezeki yang halal, berkah, dan cukup buat liburan keluarga, nabung masa depan anak, sama kasih ke orang tua tanpa pikir dua kali.
ga kalah penting, badan kamu juga sehat, pikiran damai, kulit glowing karena tidur nyenyak dan jarang overthinking. kamu udah jadi versi diri yang lebih lembut, lebih sabar, lebih kuat. doa-doa yang dulu kamu bisikin di tengah malam, satu per satu dikabulkan Tuhan dengan cara yang indah banget. unexpected pokoknya.
kamu nggak perlu lagi ngejar-ngejar kebahagiaan, karena kebahagiaan itu udah jadi rumah yang kamu tinggali setiap hari.
semoga postingan ini nemu kamu pas lagi butuh pengingat— semua yang kamu usahain sekarang, bakal berbuah manis nanti. keep going, vren. 💗✨
doa afirmasi sebelum tidur!
terima kasih ya Allah, aku bisa melewati hari ini dengan baik, mulai malam ini dan seterusnya aku akan mengizinkan semua hal-hal baik menghampiriku, pintu rezeki terbuka lebar dan datang dari segala arah, aku maafkan diriku atas kesalahan yang sudah ku lakukan hari ini, besok adalah hari keberuntunganku dan akan menjadi hari yang lebih baik.
Baca terus doa ini:
Ya Allah, jika kebaikan itu memang untukku. Jangan biarkan itu tertunda karena lalainya aku. Lembutkan hatiku agar tak lelah menanti. Kuatkan jiwaku agar tetap husnuzan pada takdirMu dan karuniakan aku akhir yang baik dalam setiap niat yang kujalani.
Salah satu kebodohan saya di masa lalu:
Menyogok Tuhan, Menipu Tuhan.
Dengan apa? Dengan Doa saya sendiri.
"Tuhan, berikan saya rejeki yg banyak, saya janji akan membantu orang banyak kalau dikasih rejeki yg banyak. Saya akan bantu Panti Asuhan. Saya akan bantu Rumah Ibadah. Dll".
Memang, semua perbuatan baik tadi akan lebih mudah terlaksana jika Doa saya Benar² Terkabul.
Tp tanpa sadar, semuanya itu PALSU.
Saya tidak benar² peduli dengan menolong orang lain. Tidak peduli dengan Panti Asuhan. Tidak peduli dengan Rumah Ibadah.
Semua tentang saya Sendiri: Saya Ingin Rejeki Yang Banyak.
2015, saya ketemu teman, saya lupa namanya, tp saya terkesan. Waktu itu saya pulang ibadah diantar sama dia, motornya bukan motor yg bagus, motor jadul yg sangat sederhana.
Jam 9 malam, Lewat jalan belakang Pasar BSD (saya dulu ngekost di Serpong) kami liat bapak² yg kondisinya memprihatinkan, gak jalan tp ngesot. Itu jalanan gelap, gak ada orang sama sekali.
Singkatnya temen saya ini berhenti, tau² keluarin uang 50ribu (cuma ada 1 di dompetnya), dikasih ke bapak ini. Bapaknya nangis² bilang terimakasih.
Saya malu, di dompet saya ada uang sekitar 300ribu, tp saya cuma diem liatin saja.
2016 saya ketemu teman lagi (maybe kamu baca thread ini sekarang) dimana waktu itu saya belanja sama dia, tau² dia beli beberapa coklat, selesai belanja, dibagikan ke anak² pengemis diluar minimarket.
Daru situ saya sadar:
bahwa sebaik²nya menolong orang, bersedekah, beramal, dll itu bukan tentang apa yg kita wacanakan kedepan, tapi apa yg bisa kita lakukan hari ini dan seterusnya, dengan apa yg kita punya/apa yg dititipkan orang lain kepada kita saat itu juga.
Dari situlah niatan kita akan benar² diuji.
Apakah kebaikan kita hanya untuk kita sendiri, sekedar pencitraan kepada Tuhan supaya kehendak pribadi kita tercapai, atau memang kita ingin benar² berpartisipasi menjadi perpanjangan Tangannya.
Saya percaya bahwa Tuhan akan memberkati setiap orang sesuai porsi & kapasitasnya masing².
Kalau memang ingin menjadi perpanjangan tanganNya, Gausa nunggu kaya:
Contoh praktis yg bisa temen² coba:
Sisihkan 500 tiap hari buat disumbangkan ke Masjid/Panti Asuhan. Kalau memang ingin merasakan/melihat langsung dampaknya, tabungan yg beberapa rupiah tadi beliin makanan "enak" (roti, biskuit, susu kotak,dll)
Kemudian ...
Bayangin ada larutan ekspektasi.
Dan, setiap kali kamu ngasih effort buat seseorang, larutan ekspektasi itu meninggi.
Jadi, kamu wondering...,
"Gimana aku bisa berhenti berekspektasi kayak gini?"
So, here's the thing...