intinya jgn mengkerdilkan apapun bacaan orang lain, sekalipun lu ngga suka sama penulisnya, cara penulisan ataupun genrenya. bisa kok lebih halus lagi, saling mengedukasi. karena memang untuk persoalan sejarah negeri sendiri ada baiknya untuk ngga sedangkal itu.
tahapan dan fase org untuk terjun ke dunia sastra apalagi fiksi sejarah itu beda-beda, ngga semuanya bakalan langsung membaca yg "berat". Laut Bercerita tuh termasuk fiksi sejarah yg lebih mudah dipahami, terutama buat remaja/org yang baru mulai mendalami tentang sejarah.
makanya ngga nyampe di otak gue kenapa orang-orang secara sadar masih membeli buku-buku leila dan nonton film-nya di bioskop pula 😅 mana kebanyakan penggemar bukunya selalu bertingkah kalau membaca laut bercerita merupakan hal paling aktivis yang bisa mereka lakukan 😅
kalau sekedar buku Laut Bercerita aja belum bisa kita pahami "kenapa" buku itu bisa ditulis, gimana kita bisa mengerti sudut pandang dan alasan suatu buku tersebut ada—termasuk segala jenis genre buku.
gkbs dipukul rata jg sihh krn laut bercerita bs bgt jd pengantar org22 baca buku dg tema aktivisme yg lain. lbh baik ajak mrk ikut mengkritisi bacaan-bacaannya kl km memang merasa hal tsb perlu.
orang orang jadi males membaca dan bersikap apatis dengan keadaan skrg bahkan males untuk kenang para aktivis yg hilang itu bisa jadi karna orang orang kayak lu gini yg terlalu menjudge, terlalu pukul rata dan merasa diri lu much better karna ga baca nih buku bahkan ga nonton😅
gak ada yang salah dengan membeli untuk membaca, lahap buku apa aja yang pengen dilahap. yang penting akal kritisnya tetap jalan, kalo gak baca mana mungkin diskursus ada, yang akhirnya ngasih akses informasi lebih banyak tentang sejarah kita.
edukasi dan diskusi tentang siapa dan apa background penulis tuh oke bgt loh, tapi ngapain segala judgemental ke pembacanya yg mungkin masih meraba-raba dunia sastra
dikira semua pembaca punya akses bacaan se-oke lu semua apa, ampun bang jago
Diskursus terkait karya Leila (re: laut bercerita dan pulang) tu mengingatkan ku pada hukum ketiga Ranganathan "Setiap buku memiliki pembacanya". Being woke is good, tp jangan mencela orang-orang yg baru memasuki dunia sastra. Buku-buku Leila n Tere Liye kayanya-