sunco per april masih di angka 43,500 sekarang juni udah 47.000
beras yang biasanya 74.500
sekarang udah 95.000
jangan kaget bulan depan
kalo minyak goreng udah 50 rb na
ayam 50 ribuan
beras 100 ribuan
anjirr ini mau diem doang kita WNI
kata prabowo udah swasembada pangan
swasembada dari hongkong?
‘Kenapa nggak kamu aja yang jadi presiden?’
Komen yang muncul tiap kali ada orang mengkritisi satu kebijakan pemerintah.
Saranku, komen seperti itu jangan dipakai lagi. Itu jenis komentar yang seharusnya dipakai di zaman Tan Malaka masih hidup.
Sekarang, coba yang lebih kreatif. Malu sama gen Alpha yang lebih logis.
#intinyadeh Prihantini bikin surat & video permintaan maaf krn catut tanpa izin nama2 individu yaitu atas nama Mariani & Ayuni Kemala Safira.
Mereka gak tau namanya dicatut & ditempelin afiliasi palsu, sgt keberatan, nuntut Prihantini tarik semua publikasi yg atasnamakan mereka.
RUPIAH ANJLOK, BEGAL DIMANA MANA, KORUPSI MENINGKAT, KRIMINALISASI MENINGKAT, HARGA KEBUTUHAN NAIK, BENCANA ALAM,
MATI LAMPU SATU PULAU.
"BELAJAR BAHASA PRANCIS YUK"
Dongo banget dah heran gue 🙂
@AymanAlatas Menolak ajakan mantan (waktu itu masih pacar) untuk menikah. Jadi aku bisa bangun karir yang bisa aku jadikan pijakan hidup. Ga kebayang dulu mau nikah muda jadi apa gua wkwk
Pagi hari, 30 April 2026, anak anda (10 tahun) lagi sekolah, jajan depan sekolah tiba-tiba ditabrak mobil. Kerumunan anak-anak dan pedagang jajanan terpental dan terhimpit mobil dan tembok sekolah. Kemudian anak anda meninggal dunia.
Pelakunya adalah Ahmad Mursidi (58), Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Pandeglang. Sudah dijadikan tersangka sejak 14 Mei 2026. Dua minggu kemudian, pelakunya, dilantik jadi Staf Ahli Bupati Pandeglang.
Silahkan,
“Memangnya kenapa kalau kurban sapi pakai APBN? Presiden sebelumnya juga begitu”
“Memangnya kenapa kalau lawan arah? Motor lain juga banyak yang begitu”
--
Pola pikir kita memang rusak dari akar sampai pucuk. Hal keliru dianggap wajar hanya karena yang lain juga melakukan
indonesia bukan cuma diisi umat islam yang bayar pajak.
ada kristen, katolik, hindu, buddha, konghucu, penghayat, dan warga lain yang ikut membiayai apbn lewat pajak, ppn, cukai, dan pungutan negara.
jadi kalau kurban pakai apbn, masalahnya bukan semata “sah atau tidak sah secara syariat”.
masalah besarnya: bolehkah uang publik lintas agama dipakai untuk membangun citra ibadah pribadi satu pejabat?
negara harus adil. jangan jadikan anggaran rakyat sebagai panggung kesalehan personal
Kisah ironis dan menyesakkan dada ini dialami oleh seorang Guru Besar Universitas Indonesia bernama Profesor Raldi Artono Koestoer.
Melihat tingginya angka kematian bayi prematur dari keluarga miskin yang tidak mampu membayar biaya sewa inkubator rumah sakit yang sangat mahal, ia menggunakan kecerdasannya untuk merakit inkubator bayi portabel berteknologi canggih namun sangat hemat listrik.
Hebatnya, ia sama sekali tidak mengomersialkan alat penopang kehidupan tersebut, melainkan meminjamkannya secara gratis kepada ribuan ibu miskin di berbagai pelosok daerah.
Namun bukannya diberi medali penghargaan atau dana bantuan riset oleh negara, gerakan mulia sang profesor justru mendapat tamparan keras dari sistem birokrasi.
Pada tahun 2016, pemerintah melalui kementerian terkait mendadak menegur dan mencoba menghentikan operasional peminjaman inkubator tersebut.
Alasannya sangat kaku, alat penyelamat nyawa itu dianggap melanggar aturan karena belum memiliki sertifikat izin edar dan Standar Nasional Indonesia layaknya produk alat medis komersial buatan pabrik raksasa.
Tuntutan untuk mengurus perizinan yang memakan biaya sangat mahal dan proses yang rumit tentu tidak masuk akal untuk sebuah proyek amal yang dijalankan secara swadaya.
Ironi menyedihkan ini sempat memancing kemarahan publik secara luas, memperlihatkan bukti nyata bagaimana sebuah inovasi jenius anak bangsa yang murni bergerak untuk misi kemanusiaan justru nyaris dicekik mati oleh aturan kertas di negerinya sendiri.