Kok bisa ya katanya Pemimpin hebat tapi membawa Indonesia ke keadaan yang tidak masuk akal. Tunduk dan nurut pada pemimpin AS yang tak layak diikuti kemauannya. Tapi disini masih banyak orang yang tak paham hingga ngotot bela bela seolah tahu permasalahan.
Sebagian besar Umat memang nurut dan ikut ulama. Para ulama tunduk dan nurut Umaro Presiden Prabowo. Sayangnya Prabowo justru nurut Trump Presiden negara Asing yang gak normal. Makanya Trump nurut sama Zionis, Benyamin Nyatanyahu.
Itulah Piramida Politik dengan fenomena Political Brokerage yang memfasilitasi clientalistic. Clientalistic itu pertukaran dukungan atau persetujuan politik yang ditukar dengan materi, bantuan, uang, barang atau proyek oleh orang yang didukung. Begitulah fenomena yang terjadi. Tapi disini ada yang terbalik balik yang ndukung malah dipalakin atas nama keterbukaan perdagangan masa depan. Yuk ikuti video ini agar kita jadi lebih rasional dalam menentukan masa depan bangsa.
MALU DENGAN PRESIDEN PRABOWO
Kebenaran dan pemikiran sehat itu bisa muncul dari siapapun. Suara Ismail, WNI di Iran ini jauh lebih jernih dan lebih sesuai nurani bangsa Indonesia dibanding sikap dan opini Presiden RI dan suara Istana.
Strategi dari dalam yang jadi penjelasan Istana mengapa Indonesia ikut BOP sebenarnya hanyalah alasan pembenar agar para pemimpin ormas beragama saat dikumpulkan di istana bisa memahami dan menerima sikap Prabowo yang pro pada Trump dan Israel. Padahal dukungan Presiden RI yang percaya dan mendukung Trump dan Israel inilah yg membuat AS jadi lebih yakin untuk menyerang dan membunuh para pemimpin Iran, karena mereka merasa telah didukung pemimpin negara yang memiliki 285 juta penduduk dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, yaitu Indonesia.
Jadi sadarkah jika kedekatan dan dukungan pada Trump itu sama saja Indonesia mendukung sepak terjang Trump termasuk perang yang dia lakukan sekarang?
Padahal selama ini Indonesia adalah penyeimbang kekuatan geo politik dominasi Barat maupun Timur. Kita ada di tengah memimpin gerakan Non Blok sejak Presiden Sukarno. Tiba tiba jadi inkonsisten berubah โpenurutโ dan โPengikutโ saat AS sedang dipimpin oleh Presiden Trump yang disebut โSakit Jiwaโ.
Ada apa dan Mengapa pak Prabowo bisa lebih memilih membela Trump dari pada membela pemimpin pemimpin masa lalu dan bapak bangsa Indonesia? Apa kepentingan politik yang sebenarnya terjadi?
Mengapa Indonesia jadi mentolerir Arogansi Trump dan Zionis Natanyahu menyerang dan membunuh pemimpin negara lain yang berdaulat? Apakah hal seperti itu sesuai dengan Amanah Konstitusi kita?
Apa pak Prabowo dan orang orang Istana lupa bahwa alinea 1 pembukaan UUD 1945 menyebutkan bahwa โKemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai perikemanusiasn dan perikeadilanโ. Terus serangan AS dan Israel ke Iran, ke Gaza dll dengan tujuan membunuh para pemimpinnya, mengganti pemerintahan yang sah itu sekarang ditafsir oleh Istana sesuai dengan bunyi pembukaan konstitusi kita?
Lur, Di saat media sosial ramai dipenuhi keluhan soal kualitas paket Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari porsi yang dinilai minim hingga menu yang dianggap jauh dari kata โbergiziโ publik justru disuguhkan pemandangan kontras. Video yang beredar memperlihatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jarakan, Gondangsari, Pakis, Magelang menggelar acara buka puasa bersama di hotel dengan sajian prasmanan lengkap dan dekorasi yang terbilang mewah.
Meja-meja penuh makanan dan suasana meriah menjadi sorotan di tengah riuhnya kritik terhadap kualitas kotak makan siswa.
Situasi ini memicu pertanyaan publik: ketika masyarakat mengeluhkan nasi keras dan lauk sekadarnya dalam program MBG, mengapa internal pelaksana justru terlihat menikmati hidangan berlimpah?
Kini perhatian tertuju pada transparansi dan evaluasi pelaksanaan program MBG. Publik berharap energi dari acara tersebut tak berhenti di meja bukber, melainkan benar-benar diterjemahkan menjadi perbaikan kualitas makanan bagi para penerima manfaat di sekolah.
@salamwaras44583@MariaAlkaff_ Golput bukan solusi karena pasti ada yang lebih baik walaupun itu bukan yang terbaik tetapi akan menentukan kita berdiri dimana...
PRESTASI HUKUM TERBAIK 2026: DEMI RAMBUT PIRANG SISWA, SATU KELUARGA GURU DIHANCURKAN
Hari ini, Selasa 20 Januari 2026, kita dipaksa menonton sebuah "komedi tragis" di gedung DPR RI. Seorang guru honorer bergaji Rp 400.000 menangis histeris, bukan meminta naik gaji, tapi memohon agar keluarganya tidak dimusnahkan oleh sistem hukum yang buta nurani.
Berikut adalah fakta kronologis yang membuat akal sehat kita mati:
KRONOLOGI (BERDASARKAN FAKTA PERSIDANGAN HARI INI):
Petaka ini bermula pada 8 Januari 2025 di SDN 21 Muaro Jambi. Ibu Tri Wulansari melakukan penertiban terhadap siswa kelas 6 SD yang mengecat rambutnya menjadi pirang (merah). Tiga siswa menurut untuk dirapikan, namun satu siswa membangkang dan melawan. (Sumber: Kumparan, 20/01/2026).
Saat ditegur, siswa tersebut justru memutar badan dan melontarkan makian kata kotor tepat di wajah gurunya. Terkejut dan refleks ingin mendidik adab, Ibu Tri menepuk pelan mulut siswa tersebutโsebuah teguran spontan agar sang anak sadar bahwa lisan kotor itu haram di lingkungan sekolah. Tidak ada darah, tidak ada cacat fisik. (Sumber: Tribun Jambi, 20/01/2026).
Namun, balasan yang diterima sungguh di luar nalar. Sejak Mei 2025, Ibu Tri ditetapkan sebagai Tersangka dan harus wajib lapor mingguan ke Polres sejauh 80 km. Lebih mengerikan lagi, suaminya (Ahmad Kusai) yang ikut terseret konflik saat membela istrinya yang dilabrak, kini telah resmi DITAHAN oleh kejaksaan sejak 28 Oktober 2025. Sudah hampir tiga bulan ia mendekam di penjara. (Sumber: Detik Sumbagsel & Kumparan, 20/01/2026).
MAU DIBAWA KEMANA NEGERI INI?
Membaca fakta di atas, rasanya ingin berteriak tapi dada terlalu sesak.
Kita sedang hidup di zaman "Edan". Di mana rambut pirang seorang bocah SD dianggap Mahkota Raja yang suci dan tak boleh disentuh, sementara harga diri seorang guru boleh diinjak-injak dan dimaki dengan kata kotor.
Coba renungkan dengan hati nurani Bapak/Ibu sekalian: Hanya karena ingin meluruskan akhlak satu siswa, satu keluarga utuh harus hancur lebur. Istri jadi Tersangka, Suami masuk Penjara. Apakah ini yang namanya Keadilan Restoratif? Atau ini adalah Kriminalisasi yang Membabi Buta?
Di mana letak hati nurani penegak hukum kita? Apakah memenjarakan tulang punggung keluarga (suami Bu Tri) adalah prestasi yang patut dibanggakan, hanya demi memuaskan ego orang tua siswa yang tidak terima anaknya ditegur?
Mau dibawa kemana pendidikan negeri ini? Jika menegakkan disiplin dianggap Kriminal, dan membiarkan anak kurang ajar dianggap Hak Asasi, maka jangan kaget. Jangan kaget jika besok lusa, sekolah-sekolah di Indonesia hanya akan berisi Guru-Guru Pengecut. Guru yang datang, duduk, diam, dan masa bodoh.
Guru yang akan tersenyum manis saat melihat anak Anda merokok, tawuran, atau memaki orang tua. Kenapa? Karena kami sayang keluarga kami. Kami tidak mau nasib kami berakhir tragis seperti Ibu Tri dan suaminya.
Selamat. Kalian telah berhasil membunuh jiwa pendidik kami. Silakan nikmati kehancuran moral generasi masa depan yang kalian bangga-banggakan itu.