Jadi memang ada penelitian yang menunjukkan bahwa
𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗹𝗶𝘀 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 𝗟𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗘𝗳𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗕𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗻𝗱𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗲𝘁𝗶𝗸 𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗽𝘁𝗼𝗽
Jujur deh, lo pernah nggak sih belajar lama, berusaha bikin catatan di laptop atau tablet, tapi tetep ngerasa nggak nyangkut di otak?
Sama, gue juga!
Sampai akhirnya gue nemu penelitian menarik ini! Penelitian yang gue baca ini ngerangkum 24 studi yang bandingin handwritten notes vs typed notes.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang 𝗻𝘂𝗹𝗶𝘀 𝗰𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿 𝗸𝘂𝗹𝗶𝗮𝗵/𝗽𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗽𝗲𝘁 𝗻𝗶𝗹𝗮𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶 dibandingkan dengan yang nyatet dengan mengetik di laptop.
Alasannya adalah karena waktu kita nulis catatan kita dengan tangan, otak dipaksa meringkas, memahami, dan memproses ulang informasi, bukan cuma ngetik cepat tanpa mikir. Effort-nya lebih besar, tapi dampaknya juga lebih kuat.
Selain itu yang gak kalah menarik adalah penelitian ini bilang peluang untuk lulus mata kuliah bisa 58% lebih tinggi kalau kita nyatet pakai tangan.
Nah yang perlu diingat di sini adalah bukan berarti mencatat dengan laptop itu jelek. Laptop lebih unggul kalau butuh catatan super lengkap dan cepat, atau punya kondisi tertentu yang bikin kita mau gak mau harus mengetik.
Gua pribadi kalau belajar menggunakan kombinasi tulisan tangan dan mengetik di laptop.
Sumber:
Flanigan (2024). Typed Versus Handwritten Lecture Notes and College Student Achievement: A Meta-Analysis.
Siapa masih suka "nyatet" pas kuliah?
Ternyata studi berikut ini membuktikan bahwa "Tulis tangan" atau "nyatet" lebih banyak mengaktifkan bagian otak jika dibandingkan dengan mengetik.
Pemahaman dan daya jadi ingat lebih baik.
Semakin dewasa, kamu mulai sering ngobrol sama versi dirimu yang dulu.
“Kenapa dulu ambil keputusan itu?”
“Kenapa dulu bertahan selama itu?”
“Kenapa dulu sekeras itu sama diri sendiri?”
Dan pelan-pelan kamu sadar:kamu nggak sebodoh itu kamu cuma belum tahu lebih banyak.
Kamu nggak selemah itu kamu cuma lagi berusaha bertahan dengan cara yang kamu bisa.
Kamu nggak salah sepenuhnya kamu cuma mengambil pilihan dari versi dirimu di saat itu.
Ini bukan soal menyesal.
Ini soal memahami.
Karena semakin kamu mengerti dirimu yang dulu,semakin kamu bisa menerima dirimu yang sekarang.
Relate?
https://t.co/vAkAbwMoeE AI will give you 200,000 words draft PhD thesis in less than 2 minutes with extensive literature review. A full picture that can help you build your research further, in time.
PENELITIAN TERBARU!
Bisa banget diterapkan pas tanggal merah begini nih.
Tidur siang dengan durasi 20-60 menit, ternyata mamu mengembalikan kemampuan plastisitas otak, yang arti sederhananya adalah otak kita bisa lebih fresh dan siap untuk belajar lagi pada siang hingga malam hari.
Nah ini bisa jadi strategi untuk kalian yang memang masih pelajar atau mahasiswa atau pekerjaannya tuh membutuhkan kerja otak yang sangat berat. Jadi sempatkan tidur siang deh, supaya otak kita bisa lebih fresh.
Semoga bermanfaat.
A literature review is NOT a review without a critical synthesis.
But some scholars struggle critically evaluating the sources!
Here's my easy 5-step method ⤵
1️⃣ Theoretical Questions: Peek into the author's mind
2️⃣ Definitional Questions: Are things explained clearly?
3️⃣ Evidence Questions: Is the evidence strong?
4️⃣ Implication Questions: 'So what?'
5️⃣ Other Approaches: Read between the lines!
𝗛𝗼𝘄 𝗶𝘀 𝗔𝗜 𝗵𝗲𝗹𝗽𝗶𝗻𝗴?
— Spot inconsistencies in seconds
— Flag potential biases
— Suggest alternative interpretations
💬 𝐖𝐡𝐚𝐭 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐚𝐝𝐝?
--------------------------
Useful find? Pass it on!
🔄 Retweet
And Click Razia + follow + 🔔
I test AI tools to simplify your #research & #analysis
(& 𝘤𝘰𝘯𝘥𝘶𝘤𝘵 𝘵𝘳𝘢𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨𝘴 𝘰𝘯 𝘵𝘩𝘦𝘮)
Jujur, daripada scroll FYP ga jelas sampe sahur, mending "investasi" otak lewat 7 channel YouTube ini. Bayangin pas temen lu sibuk pake Google Translate, lu udah sat-set ngomong bahasa asing. Ga perlu kursus jutaan, ini source rahasia yang sering aku tonton. Save dulu!
a thread
Mau nambahin lagi satu sumber tempat download buku gratis yang 100% LEGAL, dari STEM sampai SOSHUM, dari fiksi sampai non-fiksi, ga perlu cari-cari situs pembajak buku lagi
https://t.co/huWDqFoXnA
Soal copyright:
Di dunia akademis, ada perusahaan mafia raksasa bernama Elsevier.
Grup pemilik Elsevier merampok £3.3 miliar per tahun.
Mafia Jurnal Elsevier menguasai distribusi jurnal akademis di planet.
Padahal, mereka tidak berkontribusi terhadap pengecekan kualitas jurnal.
Dosen dan peneliti yang mengecek keabsahan jurnal yang dipublikasi tidak menerima royalti apapun dari Elsevier.
Untuk mempublikasikan paper ke jurnal milik Elsevier, harus bayar.
Untuk mendownload paper dari jurnal milik Elsevier, juga harus bayar.
Elsevier sendiri hanya gabut saja. Mereka tidak melakukan apapun kecuali merampok dan memalak.
Akibat biaya random dan mencekik yang dipalak oleh Elsevier, hingga ratusan dollar per access paper, universitas-universitas di negara miskin menjerit.
Perkembangan riset di negara-negara miskin itu pun terhambat bahkan mati.
Bukan hanya negara-negara miskin, universitas di negara-negara kaya juga menjerit dan sempat mengadakan boikot.
Budaya publikasi preprint ke Arxiv salah satunya berasal dari sini. Jika paper dipublikasi gratis sebelum dipublish, kita tinggal download preprintnya saja.
Sekelompok peneliti di Kazakhstan pun membuat alternatif bernama Sci-Hub yang dengan berani membajak sebanyak-banyaknya paper dari Elsevier dan menguploadnya secara gratis