Lagu kebangsaan kita :
“Kulihat Ibu Pertiwi” melodinya 100% SAMA dengan himne Kristen legendaris “What a Friend We Have in Jesus” (1855)! 😬
Di adaptasi tahun 1908 oleh Kamsidi Samsuddin. Lirik diganti jadi cinta tanah air. Merdeka dengan melodi doa. 🇮🇩🙏
walaach baruu tauu nek lagu anak-anak jawa “kodok ngorek” tuh jebule ternyata adaptasi langsung lagu swedia “små grodorna” yg artinya “kodok-kodok kecil.”
biasanya dinyanyiin sambil joget kodok pas festival midsommar. gemes lg. 🐸
jawa-swedia. what an unexpected crossover lol.
Mau hyrox, padel, tenis, lari, kalistenik, sepakbola, renang, sepeda dsb intinya tu olahraga rutin.
Membuat orang mager ke olahraga rutin itu sulit.
Mau dia abisin uangnya kek, itu uang dia. Bukan uangmu.
Jadi, daripada berdebat mending waktunya buat olahraga saja
Seorang influencer/content creator membagikan pengalamannya unboxing tas olahraga 'hyrox'.
Baru tau kalo harganya segituuuuu.
Kapasitasnya gede banget, bisa diisi pakaian, sepatu, kamera, makeup, parfum, dll
Trend olahraga ini emang bukan buat kaum mendang mending.
Kopdes akan gagal, tau kenapa?
Pemerintah kirain bisnis retail itu asal ada lahan, bangun toko, isi barang, lalu jualan. Kalau pejabat cuma punya kemampuan beli dan ngemeng, mereka beli franchise Alfamart atau Indomaret yang kelihatan memang cuma itu. Punya ruko, dekor-dekor, jualan. Apa sih susahnya?
Padahal bangun toko itu bagian yg paling gampang.
Yang susah itu memastikan barang yang dicari pelanggan selalu ada, harganya bersaing, stoknya nggak busuk di gudang, distribusinya lancar, dan semua itu bisa jalan setiap hari di ribuan lokasi berbeda. Itulah bagian yang selama ini dikerjakan oleh franchisor dan jaringan operasionalnya.
Nah, Kopdes mau masuk ke permainan yang sama tanpa punya persiapan ke semua itu. Kalau beli barang dari agen, harga kalah. Kalau distribusinya nggak efisien, biaya naik. Kalau hasil tani warga dibeli tanpa perencanaan yang bagus, gudang bisa penuh barang yang nggak laku. Belum lagi kalau pengelolanya nggak punya pengalaman retail, stok bisa berantakan dan uang nyangkut di mana-mana.
Yg bikin makin stress, pelatihan yang ditonjolkan justru model militer. Lah, ini kan mau bikin jaringan retail, bukan tim mawar.
Gw nggak pernah lihat Indomaret melatih kepala toko push-up.
Gw nggak pernah lihat Alfamart meningkatkan inventory turnover dengan baris-berbaris.
Gw juga nggak pernah dengar Distribution Center bisa lebih efisien karena pengelolanya jago muter-muterin senapan.
Masalah retail itu forecasting, procurement, inventory management, shrinkage, distribusi, merchandising, cashflow, dan masih banyak lagi. Kalau barang yang dicari nggak ada, pelanggan tetap pergi. Mau sikap sempurna, langkah tegap, atau push-up 100 kali juga tetap pergi.
Pelanggan datang nyari minyak goreng.
"Maaf Bu, stok habis. Tapi saya siap push-up 100 kali."
Makanya menurut gw tantangan terbesar Kopdes bukan membangun tokonya. Membangun toko itu bagian yg gampang (ya meskipun bagian pemilihan lokasi di tengah hutan agak out of the box ya). Dekor-dekor kosmetik gw rasa pemerintah kita udah paling ahlinya. Tantangan sebenarnya adalah membangun system yang membuat toko itu bisa jalan.
Tanpa model operasi yg kuat, kopdes memang bisa berdiri tokonya, tapi bakal jadi bisnis kocak yg bakar duit terus.
Ujungnya apa? Pemborosan anggaran dan jadi lahan basah untuk korupsi.