Dulu gue masih ingat omongan para pemabuk 02
"Pilih Prabowo saja karena dia sudah kaya dari lahir, jadi ga mungkin pake APBN untuk kepentingan pribadi".
Terus ini apa? Buat kurban atas nama Presiden aja ternyata harus dari APBN. Dia yang dapat nama, rakyat yang mati-matian cari uangnya.
Tolong para PENJILAT cebokin ini...🫵
🚨BREAKING: Sebuah rekaman video amatir memperlihatkan kondisi kritis satwa endemik Papua yang kehilangan tempat tinggal akibat pembukaan lahan skala besar.
Video yang diunggah oleh akun tiktok @/bobyyy_6 memicu kemarahan publik setelah memperlihatkan seekor kuskus terjebak di pucuk pohon terakhir yang tersisa di tengah kepungan alat berat.
Dalam video berdurasi singkat tersebut, sebuah ekskavator kuning terus bergerak merobohkan sisa2 vegetasi hijau di bawahnya. Sementara itu, di bagian kanopi pohon yang masih berdiri, seekor kuskus terlihat bergerak panik tanpa arah.
Satwa mamalia berkantung tersebut kehilangan jalur evakuasi karena seluruh pohon di sekeliling habitatnya sudah rata dengan tanah.
Kuskus merupakan satwa arboreal yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Karakteristik gerakannya yang lambat membuat hewan ini sangat rentan menjadi korban langsung dalam aktivitas pembabatan hutan secara total (clean clearing).
Tanpa adanya koridor hijau atau pohon penghubung, satwa lambat seperti kuskus mustahil dapat melarikan diri ke kawasan hutan yang lebih aman.
Praktik pembukaan lahan yang mengabaikan keselamatan satwa liar dilindungi ini memicu kritik keras dari aktivis lingkungan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai lokasi persis kejadian maupun pihak perusahaan yang bertanggung jawab atas operasi alat berat tersebut.
Kami mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum segera menginvestigasi video ini karena diduga kuat melanggar regulasi perlindungan satwa endemik dan tata kelola lingkungan hidup di Tanah Papua.
-BNFI
Petani Tulungagung Diciduk karena Berani Punya Pupuk Sendiri: Antara “Peredaran Ilegal” dan “Kebutuhan Sawah Pribadi”
TULUNGAGUNG — Di negeri yang pupuk bersubsidi lebih langka daripada janji politik menjelang pemilu, Purwanto (51), petani asal Kecamatan Karangrejo, kini harus merasakan ironisnya “keadilan” negara.
Dengan uang hasil keringat sendiri, ia membeli 7 ton pupuk NPK Phoska non-subsidi secara resmi dari pabrik di Gresik. Dokumen lengkap, transaksi sah, tujuannya hanya satu: menebarkan harapan pada sawah miliknya sendiri. Bukan untuk dijual, bukan untuk spekulasi, apalagi untuk “mengganggu stabilitas pangan nasional”. Tapi rupanya, di mata aparat, memiliki pupuk lebih berbahaya daripada memiliki utang negara.
Ketika Purwanto — yang sudah mengidap jantung dan diabetes — beberapa kali menolak permintaan orang yang ingin membeli pupuknya, lalu akhirnya menyerah memberi sebagian, ia langsung dianggap “bandar”. Satreskrim Polres Tulungagung pun sigap menetapkannya sebagai tersangka peredaran pupuk ilegal. Kini ia resmi menjadi tahanan pidana, berstatus seperti penjahat kelas kakap.
Sungguh sebuah prestasi luar biasa: petani yang menolak menjual pupuk untuk sawahnya sendiri malah digiring ke sel tahanan. Sementara itu, di lapangan yang lebih luas, peredaran pupuk palsu dan penyimpangan subsidi yang nilainya ratusan miliar sering kali hanya berakhir di meja rapat koordinasi.
Kuasa hukumnya, Mohammad Ababilil Mujaddidyn, telah mengajukan praperadilan. Keluarga hanya bisa berharap pengadilan melihat apa yang jelas-jelas terlihat: seorang petani kecil sedang dijadikan “tumbal” birokrasi pupuk yang ruwet.
Kasus ini bukan sekadar soal pupuk. Ini soal logika yang terbalik: di saat petani kesulitan mendapatkan pupuk resmi, negara justru sibuk menangkapi petani yang berani membeli dengan uang sendiri.
Selamat datang di republik pupuk, di mana menyimpan pupuk untuk sawah sendiri bisa lebih berisiko daripada menjual tanah warisan. Semoga Pak Purwanto segera bebas. Karena kalau petani saja harus takut punya pupuk, maka siapa lagi yang akan menanam padi untuk kita semua? #KeadilanUntukPurwanto
L’HORREUR ABSOLUE.
À Gaza des enfants palestiniens sont déchiquetés par les forces d’occupation israéliennes.
Ne cessez jamais de parler de la Palestine !
DJANCUK! ISRAEL BAJINGAN!
Kelanjutan board of peace gimana, ya? Indonesia masih jadi anggotanya gak? Iurannya jadi dibayar apa enggak? Udah ngasih dampak apa belum sih?
Ini kenapa kok warga Gaza masih dibantai-bantai terus begini???
Diskriminasi yg memalukan!
Cathlyn Yvaeni Lesmana (suku minoritas Tionghoa), perwakilan Makassar, diduga dicoret secara tdk adil dari seleksi Paskibraka Sulsel meski masuk 3 besar. Lebih parahnya, ia digantikan oleh sosok yg tak masuk 10 besar nasional
https://t.co/YVkckJdSxj
Kata ganti kubangan lumpur nampaknya masih terlalu mulia untuk sebuah espepege.
Meskipun kami tahu ada ratusan - ribuan kepala kubangan lumpur yg bekelakuan dan berperangai sama seperti yang ada pada kasus di bawah ini, tetap saja kami selalu mual setiap kali membacanya. 🤢🤢🤮