Western forces are involved in anti-government groups roiling Indonesia—just as they were in Hong Kong in 2019.
The loudest voices backing the violence on the streets of Jakarta and other cities in recent days have been so-called “independent” media groups and NGOs. Many of these have sprung up in Indonesia, such as Remotivi, Project Multatuli, New Naratif, and so on.
What’s the clue that something strange is up? You can find people with grievances against their government everywhere—but angry enough to burn down their city? In Asia, that’s often a sign of US involvement, top investigative journalist Brian Berletic said.
.
A LITTLE DIGGING
A little digging shows clear evidence that groups backing the protest have been supported by the CIA spinoff group known as the NED, and its funding partners, such as Open Society Foundations, founded by George Soros, a billionaire known for his political activism.
Another clue: Earlier this year, the US cut funding for overseas propaganda operations ranging from USAID to Radio Free Asia to literally dozens of others.
Indonesian organizations which had earlier claimed to be independent, complained – revealing that they were funded by Washington DC, Brian said.
“Indonesia’s independent media count cost of US funding cuts” reported a news site called Mongabay in March of this year.
The text says: “As well as Remotivi, independent media outlets including Project Multatuli and media NGO New Naratif say they were blindsided by news that funding, in some cases for work already completed, had suddenly evaporated.”
So, yes, these guys were definitely financed by the US.
As you may know, USAID and Radio Free Asia were shut down, but Congress resumed funding for the most dangerous of all, the NED, in late spring of this year, as we reported earlier.
.
THE CASH CHANNEL
Brian further points out that Project Multatuli lists its donors on its website.
Let’s take a look.
Open Society Foundations – that’s a George Soros unit. Then there is Kurawal Foundation (American), Google News Initiative (American) and the Media and Development Investment Fund—an American group started by George Soros. It also mentions Internews—a US political interference group also linked to Soros and the NED historically.
So, going by its own website, Project Multatuli is clearly an US-financed political activism group.
.
GRIEVANCES ARE REAL
But but but, you say, the riots look spontaneous and the protesters seem to have genuine grievances.
Yes. But remember it was revealed that there were years of planning and preparation in the west before the protests in Hong Kong, which also looked spontaneous and seemed to have genuine grievances.
Brian wrote: “The US doesn't 'hijack' movements - they create them and they use actual issues as cover for what is always eventually unwarranted and self-destructive regime change.”
.
SAME THEMES
In Indonesia as it was in Hong Kong, a theme of “police brutality” [image] is being pushed—and there are always images of a row of police with riot shields and a single person, usually female, in front of them. [Three images]
Now you may recall that earlier this year, it took me exactly 171 seconds, live on camera, to discover hidden US funding behind a so-called “independent” poll in Moldova.
If independent journalists such as Brian Berletic and myself can uncover western manipulation in other countries – how come the New York Times and FT and BBC and Wall Street Journal cannot?
It’s a mystery.
Peace.
Atas alasan apa kamu jahat kepada rakyat?
Kamu ambil uang rakyat untuk foya-foya
Kamu garong tambang-tambang untuk kepentingan keluarga dan kroni-kronimu
Kamu jarah dan gondol jabatan-jabatan penting untuk kepentingan anak-anak dan begundal-begundalmu.
Atas nama apa kamu jahat sama rakyat?
Ingat ya!
Pemimpin yang jahat, dia akan MATI ditawur rakyatnya sendiri!
Sejarah sudah catat berkali-kali dan berkali-kali.
Pemimpin yang dzalim dengan rakyat, dia akan mati dalam keadaan sehina-hinanya!
Yang bilang “Eh kenapa lo ikut2an? Itu kan pilihan elo” mending tutup mulut.
Kita butuh sebanyak2nya pasukan. Orang mau merapatkan barisan kok malah didorong menjauh?
Mau menangin Bangsa atau mau menangin ego?
Bumper lipsus #KawalPutusanMK di CNN Indonesia sangat jleb. Diambil cuplikan pernyataan presiden di 3 waktu berbeda:
28 Juni 2019: Putusan MK final dan mengikat
23 April 2024: Putusan MK final dan mengikat
21 Agustus 2024: Ini adalah proses konstitusional yang biasa terjadi
✊
PERINGATAN DARURAT
Kalau kalian melihat poster berwarna biru dengan tulisan PERINGATAN DARURAT, ini memang darurat.
Teman-teman, ini perlu kita sebarkan. Pertama, karena kita marah, dan berhak untuk itu.
Kedua, supaya sebanyak-banyaknya orang tahu apa yang terjadi di gedung DPR bukan rapat untuk kepentingan rakyat.
Presiden dan DPR harus menghentikan segala upayanya menentang Putusan Mahkamah Konstitusi.
Simak Catatan Najwa selengkapnya dalam video.
| Mata Najwa
Buat kalian yang dapat vaksin COVID, terutama yang berplatform mRNA, apalagi yang semangat Booster berkali-kali, saya sarankan check kondisi Jantung dan Pembuluh Darah, check Lab yang berkaitan dengan Risiko Kardiovaskular, juga check kadar Vitamin D3 dalam darah.
Bagus lagi kalau punya uang, check Angiografi siapa tahu banyak formasi blood clot dan plak di dalam pembuluh darah kalian.
Kalau punya uang lagi, check kadar Nitric Oxide darah, siapa tahu Endotel kalian udah berantakan.
Buat yang selama satu-dua tahun ini jadi lola, lemot, dizzy, ngantukan, disorientasi, ngomong suka ngelantur, saya sarankan segera ke Dokter Terawan dkk atau siapapun yang Ahli DSA, agar pembuluh darah otaknya di DSA.
Makan sehat, sesuai saran saya dengan konsep 7ColorsGarden Plate yang udah saya tulis di buku saya. Hidup sehat banyak bergerak, sempatkan olahraga dan mandi matahari pagi minimal 30 menit.
Apa lagi ya?
Oiya, sejak sekarang jadilah orang baik. Tobat buat yang masih hidup ajrut-ajrutan. Perbanyak amal ibadah dan sedekah.
Banyak yang mati mendadak loh.
Jadi saya sudah ingetin kalian ya. Semoga jadi amal jariyah saya dan kebaikan buat kalian juga kalau mau ingetin orang lain lagi.
@ypratama Hai Yoga, menjawab pertanyaanmu, jika sebelum melakukan pembayaran pajak kendaraan kamu memilih opsi dikirimkan TBPKP maka dokumen tsb akan dikirimkan ke alamat domisilimu. Namun jika tidak, makan dokumen elektroniknya bisa kamu cetak sendiri di rumah. Terima kasih :)
@SamsatDigital izin bertanya min. Apabila pembayaran pajak sudah berhasil dan sudah keluar E-TBPKP nya di aplikasi, apakah tetap harus di print di SAMSAT atau cukup di unduh? Terima kasih
Satpol PP Aceh Selatan: Pembunuhan Canon Oleh Satpol PP Aceh Singkil Harus Ditindak Secara Hukum - Tandatangani Petisi! https://t.co/wCMgYmKcBK via @ChangeOrg_ID