Transkripsi awal yang dilakukan terhadap Prasasti Hantang oleh Panembahan Soemenep, salah satu dari beberapa prasasti yang beliau transkripsikan. Dari rontal ke batu ke daluwang.
Hidup di lingkungan yang panas dan lembab membuat masyarakat Jawa kuno memilih untuk memahat tulisan² mereka pada batu dan logam, karena mereka tidak mau ambil risiko tulisan akan cepat rusak dan karena kebutuhan agar tulisan tersebut tetap lestari dan dapat dibaca oleh siapapun di masa mendatang (ketetapan yang berlaku dlāhaniṁ dlāha)
Salah satu contohnya adalah Prasasti Hantaṅ (7 September 1135 M) yang menyebutkan bahwa isi prasasti ini disalin dari media organik (daun lontar) ke atas batu:
“Mereka memohon kepada raja agar memberikan persetujuan atas anugerah dari raja yang di Gajapāda dan raja yang meninggal di Nāgapuspa, yang sebelumnya tertulis pada daun lontar (ripta) dan berfungsi sebagai pelindung bagi penduduk desa Hantaṅ beserta dua belas desa di wilayah kekuasaannya, untuk diabadikan pada sebuah prasasti batu (liṅgopala).”
Kemudian dikuatkan lagi dalam kalimat 'saṅ hyaṅ ājñā haji praśāsti muṅgu riṅ liṅgopala tinaṇḍa narasiṅha,' yang berarti “kehendak suci śrī mahārāja dalam bentuk prasasti yang dituliskan di atas prasasti batu yang ditandai dengan lambang Narasiṅha.”
Lañcana Narasiṅha adalah pahatan sosok 'manusia dengan kepala singa' berada di antara enam aksara kuadrat yang berbunyi paṅjalu jayati, atau Paṅjalu berjaya, dan pahatan lambang Jayabhaya ini berada di bagian atas prasasti Hantaṅ
Mengapa Mapañji Jayabhaya memilih lañcana yang berbeda dari para pendahulunya seperti candrakapāla (Mahārāja Bāmeçwara) dan garudamukha yang digunakan oleh para penguasa Janggala, termasuk Airlangga? Meskipun dari prasasti yang dikeluarkan setahun kemudian (Prasasti Talan) Jayabhaya mencantumkan bahwa prasasti tersebut telah mengganti tanda khusus Garudamukha dengan tanda khusus Jayabhaya yang disebut sebagai Jayabhayalānchana.
Lambang narasiṅha merupakan inkarnasi Wisnu yang berhasil membunuh raksasa bernama Hiranyakaśipu. Apakah tokoh Hiranyakaśipu ini bisa diasosiasikan dengan musuh yang berhasil dikalahkan oleh Jayabhaya? Lalu siapakah tokoh tersebut?
Logika yang sama harusnya berlaku untuk kasus ini Pak @fadlizon. Tambang batuan yang beroperasi di kawasan Asta Tinggi, #Sumenep
Yang bahkan menjadi diskusi di @IcomosIndonesia & besar kemungkinan adanya prasasti pra-Islam yg hilang akibat tambang.
Perhatian serius terhadap reruntuhan Candi Śiwa di Kompleks Prambanan baru diperlihatkan sekitar tahun 1885 setelah N.W. Hoepermans melaporkan bahwa banyak batu-batuan candi diambil untuk pembangunan pabrik gula... 😓
@fadlizon Bagaimana dengan ini, Pak Menteri @fadlizon ? Tambang ilegal yang terus dan makin meluas sejak 4 tahun lalu, tepat di samping situs yg masih berkait dengan corpus History of Java #Raffles. Surat ke @kemenbud sudah pernah kami layangkan juga ...
Ini adalah lambang Keraton Sumenep, Madura. Sumenep sering disebut 'Yogya-nya Madura' krn menjadi pusat keraton seluruh Madura. Setiap gambar di lambang ini ada maknanya. Berdasarkan penjelasan yang diberikan Bupati Sumenep sekitar 1939, makna-maknanya adalah sebagai berikut:
@fadlizon@prabowo Bagaimana dengan ini, Pak? Tambang ilegal ekstraktif yg terus berjalan lebih dari 4 tahun, TEPAT di samping Cagar Budaya yg punya nilai global. Pengaduan ke otoritas dan APH diabaikan. Pemerintah tak berdaya di depan ekonomi neolib ekstraktif?
Lama' Asta. Lama' dalam bahasa #Madura bisa diterjemahkan sebagai tikar, atau permadani. Lama' Asta adalah permadani #AstaTinggi dimana kesatuan wilayah tersebut berada. A seamless fusion of spirituality, history and nature.
#AstaTinggi bukan sekadar pemakaman kerajaan. Ini adalah akropolis sekaligus nekropolis suci di atas bukit karst #Sumenep -menyatukan warisan benda, tak benda, dan ekologis.
Harmoni arsitektur Islam, Eropa, Tionghoa & lokal yang masih hidup hingga kini. 🕌
Warisan Benda: Arsitektur indah dengan akulturasi budaya.
Warisan Tak Benda: Tradisi ziarah & ritual yang masih terjaga.
Warisan Ekologis: Bukit karst yang selama ini melindungi dari eksploitasi destruktif.
Semuanya dalam satu kesatuan wilayah yang dikenal dengan ...
Laporan Belanda oleh Damais menyebut pembacaan prasasti ini di Sumenep. Sepengetahuan kami, tidak ada MANDIRAGA, yg ada MANDIRADA dan MANDARAGA, 2 tmpat yg berbeda di Sumenep. Adakah @motherlander pernah tahu mengenai ini ya?
Bagian Prasasti Baru yang masih samar-samar
Di salah satu penggalan dikatakan bahwa "kebesaran budi pekerti luhur Śrī Mahārāja Airlangga melampaui semua sekutunya, yang menyerahkan upeti dan hadiah kain di istana kerajaan, mengalir bagai sungai Gangga [...]"
Siapa sekutu yang dimaksud?
Berdasarkan Prasasti Cane (1021), prasasti pertama pemerintahannya yang masih dalam fase konsolidasi, terkait pemberian status sīma pada desa Cane wilayah Tinghai Pinghai dikarenakan rasa simpati raja kepada penduduk desa yang berjuang di garis depan dengan menjadikan desanya sebagai benteng pertahanan. Batas terbarat dari kerajaan baru yang berkedaton di Wwatan Mas. Sehingga di tahun² awal tersebut sekutu Mahārāja Airlangga meliputi watak Padang, Jasun (Bawang) Mapapan, dan Tinghal Pinghai. Pada dasarnya sebagian kecil wilayah Mojokerto dan Lamongan.
Namun, di Prasasti Baru (7 tahun setelah Cane) sekutunya mulai semakin banyak, seperti Kanuruhan, Hujung, Landayan, Jasun (bawang) Wungkal, Palinjwan, Lucêm, Pajabungah, Pamwatan, dan Kahuripan. Sekarang bertambah dari yang hanya sebagian wilayah Mojokerto dan Lamongan menjadi ditambah wilayah Pasuruan, Malang, Kediri, Jombang, dan Sidoarjo.
Kemudian, di penggalan berikutnya,
"Śrī Mahārāja menjadi tersohor di antara kerajaan-kerajaan mancanegara (paraporajana), dikenal luas di seluruh yawadwīpa (pulau Jawa) dan meluas hingga dwīpāntara (pulau-pulau yang lain)."
Bagaimana kita memastikan kerajaan baru ini mengembangkan diplomasi dengan negeri² dwīpantara maupun manca? Kita tidak memiliki bukti² prasasti karena terdapat kekosongan prasasti sejak 1024 hingga 1029 Dari empat prasasti yang dikeluarkan sebelum Prasasti Baru (Cane, Munggut, Adulengen dan Kusambyan) belum ditemukan tanda-tanda ekspansi keluar Jawa antara tahun 1021-1029.
Jika ada sekutu dari dwīpāntara yang mengirimkan upeti ke istana Wwatan Mas bisa jadi dibesar-besarkan untuk tujuan propaganda, tetapi bisa juga sekutu dari dwīpāntara adalah warisan dari ekspansi masa Dharmmawangśā Tguh yang juga tercatat dalam Song-shi.
Menjadi pemain utama dalam perdagangan maritim merupakan agenda penting Airlangga karena Sriwijaya menunjukkan tanda-tanda kemunduran setelah serangan Rajendra Chola pada tahun 1025. Namun, Song-Shi tidak mencatat utusan dagang dari Jawa menghadap ke istana Song. Di sisi lain, Airlangga tidak mengeluarkan satu prasasti pun antara tahun 1024 hingga 1029. Ada sejarah yang masih samar di periode tersebut.
De Casparis berspekulasi bahwa upaya Airlangga untuk meningkatkan perdagangan maritim dipicu oleh obsesinya untuk merebut posisi Sriwijaya sebagai pelabuhan transit internasional. Untuk mencapai tujuan ini, Airlangga mengembangkan dan mempersiapkan pelabuhan untuk perdagangan regional (Hujung Galuh) maupun internasional (Kambang Putih).
Sayangnya, upaya ini belum akan terwujud sampai ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Setidaknya ada sembilan peperangan yang harus dilewatinya.
@hrdbacot Si Laksana rupanya bawaan dari raja sebelumnya, Dyah Wawa, dia juga penulis Prasasti Sangguran (928 M; Minto-Stone) yang sayangnya masih terdampar di Skotlandia
Menguak "Kandungan" Prasasti (Sangguran/ Prasasti Handat /Minto Stone) yg kini ada di Skotlandia..
Seperti apakah "beberapa" prasasti menceritakan tentang adanya KUTUKAN..
Pada kenyataannya ada yg menjadi kutukan kenyataan..
Mari kita ulas dari banyak sisi tentang hal tersebut