gaboleh ada kata kata CUMA, HANYA, kalo konteksnya pelecehan. mau apapun bentuknya, dimanapun tempat dilontarinnya, siapapun pelakunya, TETEP PELECEHAN.
@ludwigging@rahmaut gw emosi ya karena gw BACA itu semua isi chatnya. gw baca isi threadnya. nih lu mending baca ini biar lu tau kenapa banyak orang yang MARAH sama kasus ini. https://t.co/foChojIMgC
Lagi rame kasus grup wa mahasiswa UI mau berpendapat dari sisi medis khususnya psikologi, karena saya bukan polisi moral 😆
Kenapa banyak cowok bisa nyaman ngomongin perempuan secara objektifikasi di grup privat?
Karena ada yang namanya “disinhibisi online”.
Saat merasa aman, anonim, dan “cuma di grup”, otak kita jadi lebih berani ngeluarin sisi yang biasanya ditahan.
Ditambah lagi efek peer pressure.
Di otak, ini berkaitan dengan sistem reward:
• Dapet respon “haha”, “anjir”, “setuju”
• Dianggap lucu, dianggap bagian dari circle
• Dopamin naik.
Lama-lama, perilaku itu “dipelajari” sebagai sesuatu yang menyenangkan dan normal.
Masalahnya?
Kalau terus diulang, ini bisa mengarah ke desensitisasi.
Empati ke perempuan turun.
Perempuan gak lagi dilihat sebagai manusia utuh… tapi jadi objek.
Ini bukan hal sepele.
Dalam banyak studi psikologi, objektifikasi yang terus-menerus bisa jadi pintu awal ke:
• Pelecehan verbal
• Pelecehan seksual
• Bahkan kekerasan seksual
Jadi ini bukan cuma “becandaan cowok”.
Ini soal pola pikir yang dibentuk pelan-pelan… sampai batasnya jadi kabur.
Makanya penting banget buat sadar:
Kalau kalian cuma bisa bonding dengan cara merendahkan orang lain, itu bukan bonding.
Itu conditioning.
Dan kalau dibiarkan, dampaknya bukan cuma ke orang lain…
Tapi ke cara otak memandang manusia..
lu punya kecenderungan berpikiran cabul tuh bukan perilaku normal. bisa disembuhin dengan cari bantuan professional. bukannya malah lu lempar ke grup buat jadi bahan "ngidupin obrolan"
Lagi rame kasus grup wa mahasiswa UI mau berpendapat dari sisi medis khususnya psikologi, karena saya bukan polisi moral 😆
Kenapa banyak cowok bisa nyaman ngomongin perempuan secara objektifikasi di grup privat?
Karena ada yang namanya “disinhibisi online”.
Saat merasa aman, anonim, dan “cuma di grup”, otak kita jadi lebih berani ngeluarin sisi yang biasanya ditahan.
Ditambah lagi efek peer pressure.
Di otak, ini berkaitan dengan sistem reward:
• Dapet respon “haha”, “anjir”, “setuju”
• Dianggap lucu, dianggap bagian dari circle
• Dopamin naik.
Lama-lama, perilaku itu “dipelajari” sebagai sesuatu yang menyenangkan dan normal.
Masalahnya?
Kalau terus diulang, ini bisa mengarah ke desensitisasi.
Empati ke perempuan turun.
Perempuan gak lagi dilihat sebagai manusia utuh… tapi jadi objek.
Ini bukan hal sepele.
Dalam banyak studi psikologi, objektifikasi yang terus-menerus bisa jadi pintu awal ke:
• Pelecehan verbal
• Pelecehan seksual
• Bahkan kekerasan seksual
Jadi ini bukan cuma “becandaan cowok”.
Ini soal pola pikir yang dibentuk pelan-pelan… sampai batasnya jadi kabur.
Makanya penting banget buat sadar:
Kalau kalian cuma bisa bonding dengan cara merendahkan orang lain, itu bukan bonding.
Itu conditioning.
Dan kalau dibiarkan, dampaknya bukan cuma ke orang lain…
Tapi ke cara otak memandang manusia..
@mhmmd_jati tetep gaadil sih. buat korban yg nanggung trauma seumur hidup gimana? korban yg milih buat mengakhiri hidupnya karena dihantui trauma gimana? korban yang ditekan buat gak bersuara karena power pelaku gimana? hidup mereka hancur dan gak tau sampai batas kapan.
see? pelaku yg berhenti karena ketahuan GAK AKAN PERNAH BENAR BENAR MENYESAL. mereka berhenti karena didesak untuk berhenti. yg masih koar koar merjuangin hak dan ruang buat pelaku, TAI KUCINGGGG.
@yappingfess capek, ngantuk, pusing, tapi mata ttp gabisa mejam dan sekalipun merem ttp gabisa tidur karena kepala ttp berisik. sepanjang hari emosi jadi ga stabil dan mual mual
noh kasus perkosaan udah PULUHAN RIBU LEBIH bahkan mungkin lebih banyak krn blm termasuk yg gak lapor. trs lu masih menganggap obrolan cabul di tongkrongan laki laki itu hal yang biasa? lu sadar gak kalo lu GOBLOK?