Guys, ada obrolan dengan Mahalini yang menurut gue jarang banget ada penyanyi sepopuler dia yang mau cerita sejujur ini.
Bukan soal karir yang glamor.
Tapi soal semua yang harus dia lalui sebelum sampai ke sini.
Dia hampir jadi dokter gigi.
Bukan bercanda.
Mahalini kuliah kedokteran gigi sampai semester tiga bukan karena passion dia di sana, tapi karena ibunya pengin punya anak dokter.
Dan dia ikutin.
Karena dia sayang ibunya.
Gua termotivasi oleh mama.
Ya udah mending aku fokus sama dokter.
Sampai suatu hari ada audisi Indonesian Idol special di Bali tanpa antrian panjang.
Dia pergi diam-diam.
Ibunya nemenin ke sekolah seperti biasa.
Tapi begitu ibunya pergi Mahalini belok ke studio audisi bersama temannya.
Dan ibunya?
Ternyata sudah feeling dari awal.
Mama bilang, 'Sebenarnya Mama udah feeling kamu pasti ikut.Waktu kamu pakai kebaya itu, Mama sudah tahu.'
Dia masuk Idol tanpa ekspektasi dan itu yang menyelamatkannya:
Gua bilang ke mama, aku mau jadi orang biasa-biasa aja ya di Idol.
Tidak ambisius.
Tidak ngoyo.
Cuma ikut dan jalanin.
Dan mungkin justru karena itu dia bertahan jauh lebih lama dari yang dia bayangkan.
Tapi di balik itu semua ada tekanan yang luar biasa.
Di babak top tujuh sebelum naik panggung dia menangis sendirian.
Gua capek.
Gua enggak mau nyanyi.
Gua mau pulang.
Tidak ada HP.
Tidak boleh lihat media sosial.
Dan itu ternyata berkah.
Karena satu hari dia sempat buka komentar dan yang dia temukan cukup untuk menjatuhkan mental siapapun.
Ini jelek banget.
Pantes keluar aja dari sini.
Responsnya waktu itu?
Dia balas satu per satu.
Gua ajak ribut.
Gua gedek banget.
Gua bilang sini lah, gua balasin DM-nya.
Sekarang?
Dia sudah tidak peduli.
Karena dia sadar orang yang nulis seperti itu biasanya punya problem sendiri yang dilampiasin ke orang lain.
Kehilangan yang paling berat:
Tidak lama setelah Idol ibunya meninggal.
Di masa COVID gelombang kedua.
Delta.
Yang paling brutal.
Mahalini dan ibunya sama-sama kena.
Di Jakarta.
Berdua.
Tidak ada siapa-siapa.
Gua sampai muntah di kasur.
Gua nyari rumah sakit penuh semua.
Gua nyari tabung oksigen susah minta ampun.
Dia minta tolong ke asisten temannya untuk carikan oksigen.
Kakaknya terbang dari Bali untuk menyelamatkan mereka.
Tapi ibunya tidak selamat.
Dan yang bikin tambah berat Mahalini tidak sempat melihat jenazah ibunya. Tidak ketemu. Karena protokol COVID waktu itu.
Sampai detik ini gua enggak pernah mau melihat fotonya setelah dia meninggal.
Dan dari situlah lahir lagu Sisa Rasa:
Awalnya lagu itu adalah lagu cinta biasa. Notasi sudah ada. Lirik sudah ada. Tapi semuanya untuk cerita yang berbeda.
Setelah ibunya pergi dia ubah semuanya. Ganti liriknya. Ganti maknanya. Dan proses rekamannya selesai jam setengah satu pagi. Sambil nangis.
"Setiap hari di Jakarta bareng mama. Yang paling berat itu keseharian. Bangun pagi dan enggak ada dia."
Cara dia berkarya yang paling gue suka dari seluruh obrolan ini:
Mahalini tidak menunggu inspirasi datang di studio. Inspirasinya datang di tempat-tempat yang tidak terduga.
Di motor. Di jalan Bali yang macet karena banyak gedung baru — dia lihat sawah yang sudah hilang dan lahirlah lagu "Rindu."
Di kamar mandi. Dia sengaja mandi supaya dapat inspirasi rekam sambil basah, taruh HP di tempat sabun, lap tangan sebentar, rekam lagi, lanjut mandi.
"Gua nge-send ke orang dengan ada suara air gitu. Mas, ini gini gini dengan suara air."
Ada ratusan voice note di HP-nya yang belum jadi lagu. Potongan-potongan ide yang datang di momen yang tidak pernah bisa diprediksi.
Dan soal kehidupannya sekarang:
Setahun lebih berhenti dari dunia hiburan setelah melahirkan Selina. Sekarang balik lagi dan langsung gas.
Anaknya yang baru satu tahun sudah naik pesawat ke Maroko. Sudah les renang sejak dua bulan. Sudah say hi ke semua orang di mall. Sudah bernyanyi mengikuti nada lagu Bruno Mars dengan intonasi yang persis.
"Gua play lagunya. Di bagian Bruno Mars nyanyi dia juga ikut dengan nada yang sama."
Dan soal memperlihatkan wajah Selina ke publik Mahalini belum siap. Bukan karena tidak mau. Tapi karena dia mau tunggu sampai Selina sendiri bisa bilang boleh atau tidak.
Gua foto.
Papa boleh foto enggak?
Jangan foto dong terus dia cabut."
Kalau anaknya sendiri sudah bisa memutuskan baru dia akan tunjukkan.
Dia tidak pernah benar-benar healing dari kehilangan ibunya.
Sampai sekarang.
Tapi dia memilih untuk tidak terpuruk karena dia yakin ibunya tidak mau melihat anaknya berhenti.
Gua memutuskan untuk ya udah gua tulis lagi deh.
Dan dari keputusan itu lahir lagu-lagu yang sekarang didengar jutaan orang.
Kadang karya terbaik tidak lahir dari kondisi terbaik. Tapi dari rasa yang paling dalam yang tidak ada cara lain untuk dikeluarkan selain lewat musik.
Pelajar SMK mengirim surat kepada Presiden, ia menolak menerima MBG dan meminta jatah makan MBG miliknya diberikan untuk kesejahteraan guru. Para pelajar kita, ada yang pikirannya tajam dan halus perasaannya. Rafif Arsya, anda membuat sejarah.
🔥🔥🔥🔥🔥