--- FEAR MONGERING ---
Ya, Anda tidak salah membaca. Tulisan ini adalah upaya framing terhadap Prabowo dan Gibran. Tulisan ini adalah pendapat saya, tentang kondisi yang akan terjadi jika mereka berdua terpilih sebagai presiden dan wakil presiden RI. Tulisan ini dibuat untuk membuat Anda berpikir ulang untuk memilih mereka berdua. Tulisan ini adalah negative campaign, sebagai counter argument untuk semua gimmick suka cita, riang gembira dan move on.
Berkaca pada pengalaman debat capres dan debat cawapres, terlepas apapun yang Prabowo dan Gibran sampaikan, terlepas dari argumen dan kontra argumen yang mereka berdua sampaikan, saya melihat ada kecenderungan uncontrolled emotional outburst.
Yang tua tampak menunjuk2 lawan bicara.
Yang muda tampak provokatif dengan menjadi 'pemandu sorak' di kedua debat.
Dan ini adalah wajah dari orang2 yang mungkin akan menjadi pucuk pimpinan tertinggi dari Republik Indonesia (jika Anda tidak segera berpikir ulang).
Lalu apa yang membuat kita harus berpikir ulang?
Netizen A: bukankah sejak ada amandemen, kekuasaan presiden sudah direduksi dan diseimbangkan dengan menguatnya kekuasaan legislatif dan yudikatif?
Jangan lupa, besaran gaji anggota DPR dan gaji hakim, ditentukan melalui Peraturan Pemerintah. Jangan lupa, besaran tunjangan anggota DPR dan hakim ditentukan oleh Keputusan Presiden.
Jangan lupa, sebagian (besar) anggota DPR adalah orang2 yang 'belum selesai dengan hidupnya'. Mereka masih mencari penghasilan.
Penghasilan yang (jika jujur dan tidak mencari proyekan) ditentukan besarannya oleh pemerintah cq. presiden (dan wapres jika presiden berhalangan tetap).
Dengan bargaining position seperti itu, apakah legislatif dan yudikatif bisa fair dalam menilai dan/atau mengawasi tindak tanduk pemerintah? Tidak.
Ini bisa menjadi lebih parah, jika koalisi pengusung presiden mendominasi legislatif. Ketua umum partai jadi presiden, ketua umum partai jadi menteri. So, lupakan saja fungsi check and balance dari legislatif.
Anggap saja kewenangan pemerintah dengan persetujuan DPR yang diatur di dalam UUD sama dengan kewenangan pemerintah saja. Karena DPR pasti setuju.
Ketiadaan fungsi check and balance dari legislatif, ditambah dengan kecenderungan uncontrolled emotional outburst dari presiden (yang jika berhalangan tetap digantikan wapres), mestinya membuat kita berpikir ulang untuk mencoblos Prabowo dan Gibran dalam Pilpres tahun berapapun.
Pikir ulang sebelum memilih Prabowo. Dia punya hutang masa lalu yang belum diselesaikan. Sebagai salah satu ketua umum dari partai yg dominan di DPR, dia bisa mengusulkan untuk membentuk peradilan HAM untuk memeriksa dan memutus semua 'gosip 5 tahunan' yang melekat pada dirinya.
Pikir ulang sebelum memilih Gibran. Dia bukan anak muda terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Dia ada di kertas suara karena dia adalah anak presiden. Anak presiden yang konon kabarnya berprestasi, bukan anak muda yang berprestasi dan kebetulan anak presiden.
Pikir ulang sebelum memilih mereka berdua. Mereka adalah pasangan yang menikmati keputusan yang diambil dalam kondisi ada pelanggaran etik.
Formulanya dapat disimpulkan sebagai berikut:
Jika mereka berdua terpilih, Indonesia akan dipimpin oleh sepasang manusia + dengan kecenderungan uncontrolled emotional outburst + penikmat nir etika + ketiadaan check and balance legislatif (dan yudikatif).
Bayangkan formula di atas sebelum Anda menentukan pilihan Anda.
Bayangkan formula di atas saat Anda mulai terbuai dengan move on, gemoy, hilirisasi, dsb.