Kritikmu sah. Tapi jangan lupa, suporter juga punya kapasitas mobilisasi yg besar. Mereka bukan cuma kerumunan yg bisa mengganggu kenyamanan, tapi juga bisa menjadi kekuatan sipil untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan menekan negara ketika kebijakan tak berpihak.
Kalau mau, nilai komunitas suporter dari keseluruhan aktivitasnya, termasuk ketika mereka melakukan kerja-kerja sosial dan memperjuangkan kepentingan publik. Jangan hanya ambil tindakan yang paling problematik untuk membangun karakterisasi terhadap mereka.
Kalau gak kenal lebih dalam atau cuma ngerti permukaan. Baiknya jangan serta merta memukul rata. Karena justru bikin konflik horizontal baru. Jadi inget kata bung Zen. Ini pentingnya aktivis/kritikus negara mau berbaur juga dengan warga sekitar. Minimal biar sama sama kenal 👌🏾
Nah, makanya aktivis/kritikus negara sendiri juga harus mulai bertanya: seberapa embedded sih mereka sebenarnya dengan kehidupan warga yang selama ini mereka klaim sedang diperjuangkan?
Kalau gak kenal lebih dalam atau cuma ngerti permukaan. Baiknya jangan serta merta memukul rata. Karena justru bikin konflik horizontal baru. Jadi inget kata bung Zen. Ini pentingnya aktivis/kritikus negara mau berbaur juga dengan warga sekitar. Minimal biar sama sama kenal 👌🏾
Tapi apakah selama ini aktivisme itu benar benar bersama warga, atau sebenarnya cuma aktivisme dari menara gading sambil mengatasnamakan “kepentingan warga”?
Selamat ulang tahun, Mbah 💙
Ada satu kisah yang tak boleh dilupakan ketika 1937 silam, PSIM pernah menjadi bagian dari perlawanan terhadap federasi sepakbola pimpinan Ir. Soeratin yang dinilai terlalu berkompromi dengan Belanda. PSIM kemudian bergabung dengan sejumlah perkumpulan sepakbola di Jawa Tengah untuk membentuk PSSI tandingan.
Namun, PSSI pimpinan Soeratin tak tinggal diam. Sebagai bentuk pembalasan, PSSI kemudian membentuk klub tandingan bernama PERSIM Mataram. Kisah tersebut menjadi salah satu catatan menarik bahwa sejak masa awal perkembangan sepakbola Indonesia, PSIM bukan sekadar klub yang hidup di lapangan, tetapi juga pernah berada di tengah pergulatan politik dan perebutan pengaruh dalam sepakbola nasional.
Sek dimaksud “mereka” ki sopo e?
Ketika kowe ngomong “mereka pembunuh”, sek tok keki moral responsibility ki sopo? Individu yang melakukan pembunuhan, atau pukul rata semua orang yang memiliki identitas kelompok yang sama?
Nek sek kedua, dasar morale opo?
Dalam free market, kapitalisme = pertukaran sukarela. Tidak ada yang maksa buat punya IELTS. Universitas / perusahaan yang minta IELTS, bukan British Council yang maksa daftar.
Kan ada Duolingo English Test ($59) yang lebih terjangkau :)