baca berita guru l4knat, murid jd korbannya.
berita korupsi kebun binatang..
orang2 kok keji2 banget, setan aja takut tuh sama mereka
mau meledak deh rasanya.
aku mau balik 90-an lagiiii
ga baca socmed, bacanya majalah BOBO 😭😭😭
Jadi gini.. besok bakal ada di Demo di Bundaran HI
Diorganisir sama BEM UI dkk. Mulai kumpul di UI sekitar jam 10.00 WIB.
Dan rencananya akan aksi di Bundaran HI.
Kelen liat lah tuntutannya
Semuanya aman dan tidak melanggar hukum. Tidak ada unsur fitnah, penghinaan dan makar.
Dan kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul itu dijamin UUD 1945
Btw stay safe @BEMUI_Official
Hati hati penyusup. Tetap satu komando.
socmed bukan segalanya dan bukan ukuran, kita ga bisa kenal orang seutuhnya lewat socmednya aja.
tapi gaya bahasa atau gaya berkomunikasi bisa mewakili diri kita bgt.
ketikan kita tuh ngaruh bgt lho.
menurutku ada kesamaan antara mba wellness dan mba paspor: ketikannya jumawa
Kalau tau ilmu holistik bukan hanya soal jasad, tapi juga ruh, harusnya bisa lebih bijak
Ilmu holistik itu membawa kita menuju Sattva (kemurnian dan kedamaian), bukan terjebak dalam Rajas (ambisi dan ego untuk merasa paling benar). Jika masih hobi ngata2in dan judgemental, itu bukan wellness, itu hanya arogansi yang dibungkus istilah kesehatan
Ingat, penyembuhan holistik sejati mencakup Sharira (tubuh), Indriya (indra), Sattva (pikiran), dan Atman (jiwa). Menyakiti hati orang lain dengan penghakiman hanyalah bukti bahwa ilmu kita baru sampai di kulit, belum menyentuh ruh.
IMO semua ini salah negara. Karena di negara yg kesejahteraan rakyatnya belum rata, pernikahan atau hubungan sering kali dianggap sebagai social safety net alias cari pasangan yg mapan bisa jd strategi bertahan hidup. Jadi bukan salah perempuan atau laki2
Apalagi perempuan masih ditempatkam sebagai warga negara kelas 2 dan negara belum sepenuhnya mendukung perempuan untuk mandiri secara finansial, ya jadinya kebanyakan mengandalkan cari pasangan yg mapan sebagai salah satu pilihan.
Gw yakin kalo negara mampu mensejahterakan rakyatnya baik itu perempuan atau laki2, diskursus cewe independent vs cewe yg menggantungkan hidupnya pada pasangan ya akan berkurang.
Sarapan dulu Gan, pisang goreng sama kopi item.
Fyi aja, populasi dunia ada 8,3 miliar manusia dengan perjuangan yg beda2. Banyak yg terlalu sibuk bertahan hidup sampe ga sempet ngikutin isu2 terkini. Kalo semisal ketemu org yg ga tahu apa2, cukup beri tahu aja, ga perlu ngehujat. Edukasi itu merangkul, bukan memukul.
Diujung thn 2025, sy sampaikan 4 kritik (dan saran) utk @Menlu_RI Sugiono. Semoga beliau tidak defensif menerimanya karena yg saya sampaikan ini mewakili pandangan sebagian besar masyarakat pecinta politik luar negeri kita. Semoga pula dapat menjadi bahan renungan yang bermanfaat u/ para eksekutor diplomasi🇮🇩. Silahkan disimak & dikomentari & dikutip. Salam diplomasi, Dr. Dino Patti Djalal
Mendidik Anak Bukan Sekadar Lulus, Tapi Menemukan Alasan Hidup
Di Brisbane, setelah wisuda BA with Honours in Psychology, wisuda kedua bagi anak pertama kami, kami tidak banyak berbicara tentang IPK, gelar, atau karier awal. Justru sepanjang perjalanan, yang mengalir adalah diskusi tentang dunia. Tentang kecemasan generasi muda, krisis makna, konflik identitas, teknologi yang melaju lebih cepat dari kebijaksanaan manusia, dan rapuhnya empati di ruang publik.
Tugas orang tua hari ini bukan hanya mengantarkan anak berhasil, tetapi membantu mereka menemukan sense of mission dan purpose dalam hidupnya.
Filsuf Viktor Frankl pernah menulis bahwa manusia tidak digerakkan oleh pencarian kebahagiaan, melainkan oleh pencarian makna. Tanpa makna, prestasi menjadi kosong. Tanpa purpose, ilmu kehilangan arah.
Dunia hari ini dipenuhi anak-anak cerdas yang kelelahan secara eksistensial, tahu banyak hal, tapi tidak tahu untuk apa. Maka, memberi anak sense of mission bukanlah beban, melainkan kompas. Kesadaran bahwa hidupnya memiliki alasan, dan ilmunya memiliki tanggung jawab moral.
Ilmu psikologi yang kini ia miliki, bersama pengalaman lintas budaya, berbagai kegagalan besar dan kecil, depresi, keberanian bertanya, dan perjalanan hidupnya sendiri, bukan sekadar modal profesional. Itu adalah alat untuk hadir bagi manusia lain di zamannya.
Untuk memahami, bukan menghakimi. Untuk memulihkan, bukan mengeksploitasi. Untuk membangun ruang aman di tengah dunia yang semakin bising dan terpolarisasi.
Mission tidak selalu berarti menyelamatkan dunia. Sering kali ia bermula dari satu manusia yang memilih untuk peduli, konsisten, dan berani memihak pada kemanusiaan.
Sebagai orang tua, kita tidak bisa memilihkan jalan hidup anak. Tetapi kita bisa menanamkan satu hal yang jauh lebih penting. Keyakinan bahwa hidupnya berarti, dan bahwa ilmu yang ia genggam hari ini kelak harus kembali kepada manusia.
Wisuda di Brisbane ini bukan penutup, melainkan titik awal. Bukan tentang “sudah jadi apa”, melainkan “akan digunakan untuk siapa”.
Di dunia yang penuh masalah, anak-anak tidak hanya butuh bekal pengetahuan, tetapi juga alasan untuk bangun setiap pagi dan memilih menjadi manusia yang berguna di eranya.
Dalam perjalanan di pesawat dari Brisbane ke Denpasar, lalu Denpasar ke Bali, dan selama perjalanan di mobil, kami banyak diskusi soal ini. Tentang mission, purpose, alasan eksistensi mereka. Saya lihat matanya berbinar. Bahwa hidupnya punya makna.