@tanyarlfes lebih kasian sama org yg kemana-mana harus ditemenin, ngga bisa sendiri, ngga bisa mandiri dan terlalu memikirkan pandangan org lain terhadap dia, akhirnya ngga bisa menikmati hidup yg singkat ini. pengennya bringka--bring kaditu, bring kadieu barengan.
pernah ada di titik βini gak bakal bisa dilupain.β rasanya terlalu dalam, terlalu lama. tapi ternyata itu cuma fase, and i'm done living there.
gak ada yang benar-benar stuck selamanya. because time heals, even when it's slow. yang dulu bikin sesak, sekarang cuma jadi bagian dari cerita. walaupun jalannya gak gampang. ada hari baik, ada hari yang bikin balik lagi ke awal. kadang inget tanpa alasan, kadang ngerasa sendiri banget.
no replacement, no distraction. just me and the process. and it was hard, but i did it, i still made it through.
Kamu tahu cara paling mahal untuk membalas perbuatan buruk orang lain? Adalah dengan tidak membalasnya sama sekali, tidak memperdulikannya lagi, dan berhenti mempertanyakan alasannya menyakitimu.
Sebab, barangkali dia bukan orang jahat, tapi orang yang kalah di hidupnya sendiri.
Manipulative people don't say sorry; they reframe the story until your reaction looks worse than their behavior. Suddenly, you're explaining yourself while theyΒ walkΒ away clean.
Nemu kalimat tercantik pembangkit energi yang harus kamu baca berulang-ulang.
βmaka, bertumbuhlah dengan sangat cantik. biarlah luka-luka itu menjadi perjalanan yang perlahan membentukmu menjadi akar yang kuat.
lalu, jika nasi telah menjadi bubur, buatlah bubur yang enak. barangkali hidup memang bukan tentang memilih apa yang terjadi, tapi tentang bagaimana kita mengolahnya menjadi sesuatu yang tetap layak dijalani.β
Dari dulu selalu nekenin ke temen-temen cewe, βLook who your boyfriend is friends withβ.
Birds of a feather flock together. Cowo bisa aja akting baik & ksatria depan lu (ada maunya), tp liat kualitas temennya & kalian bisa nilai seperti apa dia.
Guys, gua punya paman sebut aja Om Rudi yang sudah menikah 15 tahun dan pernah bilang sesuatu ke gua yang waktu itu gua anggap lebay tapi sekarang gua ngerti betul maksudnya.
Dia bilang
Hubungan yang sehat itu bukan yang tidak pernah berantem.
Tapi ketika ada masalah tidak pernah biarkan berlarut.
Dan gua ingat waktu itu gua cuma manggut-manggut tidak terlalu paham.
Sekarang setelah gua lihat tweet itu pesan WhatsApp sederhana dari seseorang ke pasangannya jam 20.35, ngajak selesaikan masalah sebelum tidur gua baru beneran ngerti apa yang Om Rudi maksud.
Tapi gua mau kasih satu sudut pandang yang jarang dibahas soal konsep ini.
Kita hidup di era di mana komunikasi dalam hubungan dikemas jadi konten yang sangat estetik dan sangat viral.
Screenshot chat yang manis, pasangan yang minta maaf duluan, yang ngajak damai sebelum tidur semua itu di-repost ribuan kali dengan caption
this is the standard"
atau date men who communicate.
Dan gua tidak bilang itu salah.
Komunikasi itu memang fundamental.
Tapi Om Rudi pernah kasih gua perspektif lain yang lebih jujur dan lebih tidak nyaman untuk didengar.
Dia bilang ada bedanya antara pasangan yang genuinely mau menyelesaikan masalah sebelum tidur dengan pasangan yang tidak tahan ketidaknyamanan dan butuh resolusi segera bukan karena peduli sama hubungannya tapi karena tidak bisa tidur kalau ada yang mengganjal.
Yang pertama itu kedewasaan emosional.
Yang kedua itu kecemasan yang dibungkus dengan kata-kata yang kedengarannya romantis.
Dan di Indonesia sekarang kata Om Rudi banyak hubungan yang keliatannya komunikatif di permukaan tapi sebenernya salah satu pihak selalu yang mengalah, selalu yang ngajak damai duluan, selalu yang menanggung beban emosional lebih besar supaya tidak ada konflik berkepanjangan.
Bukan karena dia lebih dewasa.
Tapi karena dia lebih takut kehilangan.
Menyelesaikan masalah sebelum tidur itu bagus.
Tapi yang perlu ditanya lebih dalam adalah siapa yang selalu jadi pihak yang ngajak duluan?
Apakah masalahnya benar-benar diselesaikan atau hanya dibekukan sementara supaya malam itu bisa tidur tenang?
Dan apakah kedua pihak benar-benar aman untuk jujur atau salah satunya selalu menelan sebagian kebenaran supaya suasana tidak semakin memburuk?
Om Rudi bilang rahasia pernikahannya yang 15 tahun bukan karena dia dan istrinya selalu berhasil damai sebelum tidur.
Ada malam-malam di mana mereka tidur dengan punggung saling membelakangi dan hati yang masih berat.
Ada masalah yang butuh beberapa hari untuk benar-benar selesai karena memang kompleks dan tidak bisa dipaksa tuntas dalam satu malam.
Yang membuat mereka bertahan bukan kecepatan resolusinya.
Tapi kepastian bahwa apapun yang terjadi keduanya tidak akan pergi.
Keduanya akan tetap ada di sana besok pagi untuk melanjutkan percakapan yang semalam belum selesai.
Jadi kata om rudi date someone who communicates itu benar.
Tapi lebih dari itu, cari seseorang yang komunikasinya genuine.
Yang mau damai bukan karena tidak tahan ketidaknyamanan tapi karena benar-benar menghargai hubungannya lebih dari egonya.
Orang yang sifat avoidant itu ga akan pernah mengerti gimana hal-hal kecil yang dia sepelein, mereka ga peduli entah itu nyakitin pasangannya atau enggak. Karena mereka itu tipekal orang yang sangat bodoamat. Sebenernya mereka sadar, tapi kalah sama karakter dan kebiasaannya.