GUE KAGET GILA BRO!
Temen gue gaji UMR Jakarta Rp5,3 juta. Tapi rumahnya KPR, mobilnya cash, tabungannya 150jt.
Langsung gue nanya, “Bro, lo nyambi jadi anjelo apa gimana sih?!”
Dia ketawa pelan, terus jawab satu kalimat yang bikin gue diem:
SURAT TERBUKA KEPADA
BPK ( Balai Pelestarian Kebudayaan ) YOGYAKARTA
KRITISI PADA KESALAHAN TEKNIS FATAL PEMASANGAN PENANGKAL PETIR DI CANDI BANYUNIBO SLEMAN YOGYAKARTA
Pemasangan sistem penangkal petir pada bangunan cagar budaya seperti Candi Banyunibo memerlukan standar yang jauh lebih ketat dibandingkan bangunan modern. Berdasarkan bukti visual foto di lapangan, terdapat beberapa kesalahan teknis fatal yang tidak hanya merusak kelestarian fisik candi sebagai situs arkeologi, tetapi juga membahayakan efektivitas proteksi petir itu sendiri.
Berikut adalah paparan mengenai kegagalan teknis tersebut:
1. Kerusakan Fisik Langsung pada Batuan Kuno (Metode Anchoring)
Temuan: Klem penyangga kabel konduktor dipasang dengan cara mengebor langsung ke dalam blok batu andesit candi.
Dampak Fatal: Tindakan ini melanggar prinsip dasar konservasi cagar budaya. Pengeboran memicu keretakan mikro pada batuan purbakala, mempercepat proses pelapukan, dan menciptakan celah bagi air hujan untuk masuk. Air yang terjebak di dalam sela batu akan memicu tumbuhnya lumut dan mempercepat kerusakan struktural internal batuan.
2. Tekukan Kabel Terlalu Tajam.
Temuan: Pada foto terlihat kabel konduktor mengalami tekukan yang sangat tajam (hampir membentuk sudut siku-patah) sebelum mencapai area tanah.
Dampak Fatal: Arus petir adalah arus transien berfrekuensi tinggi yang memicu sifat induktif yang sangat kuat. Secara hukum fisika, arus sisa petir akan mencari jalur lurus terdekat. Tekukan tajam seperti ini menciptakan reaktansi induktif yang tinggi, sehingga saat terjadi sambaran, arus petir berpotensi besar melompat keluar dari kabel langsung ke batuan candi. Loncatan energi masif ini bisa seketika memecahkan atau menghancurkan batu andesit di sekitarnya.
3. Penempatan Jalur Kabel Merusak Estetika dan Relief
Temuan: Kabel dibiarkan menjuntai bebas dan menempel langsung melewati bidang relief serta ornamen arsitektur penting candi.
Dampak Fatal: Selain merusak estetika visual cagar budaya, getaran mekanis kabel akibat tiupan angin lambat laun akan mengikis detail relief kuno tersebut. Terlebih lagi, jika petir menyambar, kabel akan mengalami lonjakan suhu yang sangat ekstrem; kontak langsung antara kabel panas dan batu andesit dapat meninggalkan hangus permanen atau memicu pecah termal pada permukaan relief.
4. Masalah Terminasi Bawah dan Risiko Korosi
Temuan: Di bagian bawah, sambungan kabel menggunakan klem/baut penyambung yang posisinya terbuka di atas tanah dan batuan fondasi tanpa adanya pipa pelindung (conduit). Tampak pula sisa isolasi plastik yang tidak standar.
Dampak Fatal: Bagian terminasi menuju elektroda pembumian (ground rod) adalah titik krusial. Membiarkannya terekspos tanpa pelindung mekanis membuatnya rentan terhadap korosi akibat kelembapan tanah, air hujan, dan benturan fisik. Korosi atau kelonggaran pada titik ini akan menaikkan nilai resistansi pembumian. Jika resistansi pembumian tinggi (di atas 5 Ohm), arus petir tidak akan terserap maksimal ke dalam bumi, melainkan berbalik arah (back-flash) ke struktur candi.
Solusi Standar Konservasi yang Seharusnya Diterapkan
Untuk melindungi situs sekelas Candi Banyunibo, sistem proteksi petir seharusnya dirancang dengan pendekatan khusus:
Sistem Tiang Mandiri: Menempatkan tiang penangkal petir independen di sekitar luar area struktur candi, sehingga jika terjadi sambaran, energi petir sama sekali tidak melewati tubuh bangunan candi.
Klem Non-Invasif: Jika terpaksa menempel pada dinding candi, pemasangan klem tidak boleh mengebor batu. Klem harus memanfaatkan celah antar-batu (nat) dengan sistem jepit non-destruktif yang dilapisi isolator timbal atau karet khusus.
Sudut Kelengkungan Lebar: Setiap belokan kabel konduktor harus dibuat melengkung halus dengan radius kelengkungan yang lebar (minimal radius 20 cm) untuk menjamin kelancaran arus AC frekuensi tinggi menuju tanah tanpa risiko side-flashing.
cc: @JogjaUpdate@fadlizon
Jurnalis detik nyamperin dealer pusat motor EMMO yang dapat proyek 1,2 triliun dari BGN untuk proyek MBG, eh baru dan proses dibangun. Klaimnya sudah 50 jaringan, padahal pusatnya aja baru dibangun.
Kalau nggak kena @KPK_RI sih keterlaluan.
Mau share sedikit fact yg gak fun sama sekali.
Vietnam menguasai pasar patin kawasan ASEAN karena belajar dari Indonesia.
Indonesia dapet apa?
Ya dapet patin fillet import doang yg ada di banyak restoran dimana namanya jadi dori.
Bukti kebodohan pemerintah kita dimasa lalu.
Ini beneran terjadi di kantor gue 11 tahun yang lalu. Jadi, Payroll Officer di kantor gue kongkalikong dgn Head of Personalia. Mereka bikin 2 slip gaji pegawai di kantor gue, satu untuk laporan ke bag. keuangan dan satu ke pegawai yang bersangkutan. Tiap slip gaji beda 500rb - 2 juta. Ketauannya pas boss gue bikin acara outing, ada acara feedback dari karyawan ke jajaran pimpinan. Di situ ada karyawan bilang gajinya cuma 6 juta sementara tanggung jawab yang dia kerjakan itu Job desc 2 department. Kagetlah kepala bagian keuangan gue. Akhirnya pulang outing crosscheck semua karyawan harus menyerahkan slip gaji terakhir kemudian dicocokkan sama slip gaji yang dilaporkan Payroll officer di sistem payroll (komputer). Dari total 148 karyawan, ditemukan ada selisih nyaris 250 juta tiap bulannya. Gila kan ? Nih konspirasi 2 orang ya dzholim ke karyawan ya dzholim ke perusahaan 😡😡😡
Proyek TMII itu keinginan Ibu Tien Soeharto. Biayanya Rp10,5 miliar. Soeharto mewujudkannya padahal sebelumnya dia menganjurkan hidup prihatin.
“Jangan melakukan pemborosan-pemborosan, karena sebagian besar rakyat masih hidup miskin,” kata Soeharto.
Soeharto juga menekankan bahwa segala rencana pembangunan hendaknya berlandas pada skala prioritas.
“Marilah kita menggunakan dana dan kemampuan yang kita miliki sekarang hanya bagi usaha-usaha yang perlu dalam rangka mencapai kemajuan," katanya.
Oleh karena itu, TMII ditentang sangat keras oleh mahasiswa, seniman, dan intelektual. Soeharto melalui Kopkamtib melarang semua aktivitas gerakan anti-TMII, bahkan aparat menahan beberapa tokoh penentang seperti Arief Budiman dan Poncke Princen.
TMII tetap dibangun dan dikelola oleh yayasan milik keluarga Soeharto selama lebih dari 40 tahun, baru diambil alih oleh pemerintah pada April 2021.
🔗https://t.co/SsLM4nzz2G
Min tolong di samarkan
Kemarin sore sekitar pukul 16.00 mengisi bensin di salah satu Pom Masih di wilayah Sleman Yogyakarta dengan bensin Pertamax. Tidak sampai 100 meter untuk jalan motor tiba-tiba mati, disttater ulang knalpot ngebul dan tidak bisa jalan. Setelah dibawa ke bengkel dan tengki motor di kuras diinfokan kalau bensin yang ditangki tercampur dengan SOLAR.
Mohon dihimbau saja kesemuanya agar berhati-hati dalam mengisi bahan bakar.
Pekan ini kita melihat 2 narsum terbaik dlm dialog interaktif di TV/Podcast memrotes penyelenggara dialog. Prof. Hermawan Sulistyo (Mas Kiki) menyatakan tak akan datang lagi ke podcast ILC. Rocky Gerung meninggalkan forum "Rakyat Bersuara" ketika acara berlangsung. Alasannya, karena forum sdh tak kondusif, tak ada kesantunan utk dialog yg rasional dan berkeadaban.
Kita memang menyesalkan, belakangan ini dialog interaktif sudah sering brutal, saling potong pembicaraan sambil berteriak-teriak. Bahkan ada narsum-narsum yang saling mendekati secara fisik seperti akan berkelahi. Ini sdh tidak sehat, mempertontonkan kekerasan.
Isu mengenai gaji dan tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kembali menjadi sorotan. Anggota DPR di Indonesia menerima sekitar Rp 104 juta per bulan, yang setara dengan 27 kali lipat rata-rata UMR nasional sebesar Rp 3,7 juta.
Perbandingan ini terlihat cukup kontras bila dibandingkan dengan negara lain. Misalnya, di Amerika Serikat gaji anggota parlemen hanya 3,6 kali lipat dari UMR, di Jerman 2,4 kali, dan di Singapura 3,7 kali.
< #dpr #gajidpr #umr #indonesia ##infografik