@DSofdi (Just to explain what I mean) maksudku kenapa bawa soal pemuka agama di sini dan partainya karena kita pengajaran soal agama kita itu jadinya banyak masyarakat yang ikut aja apa kata mereka, which is what I've seen sekitar ku
What if gua bilang bukan umatnya sendiri yang bego tapi religion dipakai sebagai tool buat membegokan karena sebenernya yang terjadi di sini adalah piramida kapitalisme
@kaiashere Sumpah Islam dlu ga sebego skrng deh, apalagi jama Golden Age, bener bener mempelajari sains, ga takut belajar hal baru, banyak ilmuan Islam yg mengubah peradaban dgn sains. Skrng kaya orang dongo, kuno & di doktrin agama buat alergi sains & ilmu pengetahuan anjir
@DSofdi Okay! You did say kalau kita kasusnya beda, tapi kita sendiri masyarkatnya sering diajarkan kalau agama itu final dan banyak pemuka agama yang menjadi bagian dari partai, bahkan partai yang notably agamis. Berarti kalau gitu tetap gak sesuai di sini kah? (Genuinely asking btww)
@DSofdi Tbh tweet ku konteksnya keadaan kita as a whole dengan apa yang aku qrt menjadi bagian dari efek of what I said but I get that masalah ini specifically drawing that conclusion can be a reach. Cuma aku gak delete tweet ini, I still think my overall point is worth considering
If we have to categorized it in some way, fictions are like tools whilst non fictions are the materials. You further educate yourself with non fiction. Then fiction helps sharpen the way you process them. That's why everyone should read EVERYTHING IN ANY SUBJECT AND GENRE
Guys, please read fiction!! 🥹📚
Fiction can actually improve your critical thinking. Lewat cerita fiksi, kita diajak buat imagine berbagai kemungkinan, analyze setiap keputusan karakter, lalu compare situasinya dengan dunia nyata.
Kamu jadi kepikiran, "What if this happened in real life?" Kira-kira problem solving-nya bakal sama nggak? Apa orang-orang akan mengambil keputusan yang berbeda? Atau justru ada solusi yang lebih baik?
Jadi, baca fiction itu bukan cuma buat hiburan. It also trains you to think critically, see different perspectives, and understand people a little better.
@munvess Gua juga suka ngomong I love you, sayang, cinta, peluk peluk bahkan cium pipi ke temen tapi kalau pacar gua gak nyaman ya gua cari jalan tengahnya instead of gua ngambek. See what she’s okay with and what I'm okay with terus berkompromi dengan cara OBROLIN. TALK
@munvess Menurut gua persepsi apa yang platonic dan apa yang romantic hanya bisa didefinisikan oleh kalian sebagai pasangan yang bersangkutan. Pasangan lu jelas jelas gak oke dengan hal ini karena view them as romantic tapi lu malah mau balik marah instead of omongin your perception?