Eks Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal, lewat akun IG pribadinya, menyampaikan kritik kepada pemerintah RI yang terkesan menyepelekan udangan Iran ke pemakaman Ayatollah Ali Khameini yang tewas dibunuh Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Pemerintah nggak memenuhi undangan dari Iran dengan mengutus delegasi resmi, dan yang hadir hanya Dubes RI di Teheran. Hal ini, oleh Teheran, dianggap sebagai sikap menyepelekan undangan.
Tanggal 1 Juli 2026 (besok) InsyaAllah adalah hari terakhir kami bersidang di MK.
Sebelum Indonesia bangkrut & profesi guru punah. Kita menangkan gugatan ini ya. Dan sebelum proyek korup (MBG) ini makin merusak Indonesia diberbagai aspek ✊
@tanyakanrl Anak kamu kelas berapa nder? Sudah coba minta tolong gurunya untuk kasih penjelasan? Sering nemu anak yg kalau dikasih tau guru malah lebih nerima, kyk dia perlu validasi orang dewasa selain dr ortu. Tapi kamu juga harus jelasin ke gurunya perihal ini sebelum minta tolong beliau
@marrmuudd Pelit amat Bund. Kalau di jalan motor macet, ban bocor harus ganti ban, atau suamimu sakit mau beli obat, apa gak kepikiran gitu? Masa' segitu jahatnya sih ya Allah
Ada etikanya untuk posting soal pasien di media sosial. Gak cuman asal gak dikasih nama terus cukup. Di postingan itu ada tanggal periksa, umur pasien, dan riwayat medis singkatnya. Impresi tinggi tapi kurang etis ya buat apa?
Tadi siang, di Mahkamah Konstitusi, Mas Iman @zanatul_91 bilang,
"Majelis Hakim Yang Mulia, upaya yang kami lakukan secara konstitusional ini adalah upaya yang paling mendasar, jika boleh menyebut, UPAYA TERAKHIR.
Karena akses untuk mengevaluasi agar anggaran kesejahteraan guru dalam anggaran pendidikan tidak diambil oleh MBG, tidak ada salurannya. Jujur saja. Kami mau melapor ke Polisi, Polisi punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke Tentara Nasional Indonesia, tentara punya dapur SPPG. Kami mau mau melapor ke DPR RI, anggota DPR banyak yang punya dapur SPPG.
Jadi memang ini jalan terakhir untuk kami mengadu. Kepada siapa lagi? Kepada konstitusilah kami berharap. (Itu pun) kalo (MK) ngga punya dapur ya."
Sebelum menutup paparannya, Mas Iman bilang,
"Sekali lagi, Majelis Hakim. Kami para guru di sini hadir untuk memberikan peringatan dan kesaksian. Bahwa kita sudah sampai pada masa kebodohan merajalela. Ketika MBG dibela, keracunan dianggap biasa, mempertontonkan keserakahan, dan membiarkan negeri ini dalam malapetaka.
Saya bersaksi, siapapun yang merampok anggaran pendidikan, di dunia DIPENJARA. Di akhirat dia masuk NERAKA."
Ini adalah bukan hanya keluhan, curhat, dan keresahan Mas Iman Zanatul Haeri, seorang Guru Sejarah di Jakarta. Tapi ini juga keresahan saya, Achmad Anwar Sanusi, seorang guru di Pandeglang, Banten. Juga keresahan guru-guru lain di Jawa, di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga Papua. Keresahan seluruh guru di pelosok Indonesia terkait MBG ini.
Terima kasih, Mas Iman. Salam hormat!
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
@keluhkesahkonoh Aku dengerin para dokter dan perawat ngrencanain bukber sebelum cuti hari raya (lahiran pas ramadhan). Terus tiba² ditanyain pas pemilu milih siapa 01, 02, atau 03. Padahal tenaga udah habis nahan sakit pas induksi. Random banget
@panggilajaayu Biaya renov rumah, bikin dapur. Kayak terlalu hah heh hoh. Biaya berobat si kecil non BPJS, dulu awal² suka kagetan, skrg udah paham. Dana darurat harus selalu di top up
Efek MBG di stop sementara:
1. Harga telur turun jd 24k
2. Harga ayam turun jd 30k
3. Susu uht plain tidak langka
4. Rupiah menguat sedikit
5. IHSG cetak +5%
6. Tidak ada siswa keracunan
7. Para Ka SPPG yg joget2 di bogor, pada gigit jari
8. Guru jadi ga sibuk buang sisa makanan dan ngitung ompreng
Ini baru stop semntara dalam beberapa hari, ekonomi langsung lebih baik.
Apalagi STOP TOTAL?
SETUJU MBG STOP TOTAL?