Gue baru tahu kalo sering "memendam emosi" ternyata berhubungan dengan "meninggal lebih cepat" setelah baca jurnal ini
๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐ถ๐ป๐ถ ๐ฎ๐ฟ๐๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐บ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต-๐บ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ถ ๐ฑ๐ฟ. ๐ง๐ถ๐ฟ๐๐ฎ?
Yuk kita bahas penelitiannya!
Jadi ada penelitian di Journal of Psychosomatic Research (2013) melacak 729 orang Amerika selama 12 tahun.
Pada awal studi tahun 1996, semua peserta diukur tingkat emotion suppression-nya.
Pengukurannya sederhana, misalnya
-Seberapa sering kita sengaja nahan ekspresi emosi?
-Saat marah, apakah tetap disimpan?
-Saat cemas, apakah kita pura-pura santai depan orang lain?
Terus 12 tahun kemudian, penelitinya cek siapa yang sudah meninggal dan dari penyakit apa.
Hasilnya ternyata menunjukkan bahwa ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ป๐ด "๐บ๐ฒ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐บ ๐ฒ๐บ๐ผ๐๐ถ" ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ต๐๐ฏ๐๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ธ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ ๐ธ๐ฎ๐ป๐ธ๐ฒ๐ฟ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐๐ฎ๐ฟ 70% ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ถ.
Mekanismenya adalah saat kita menekan emosi, sistem saraf otonom bekerja lebih keras, sehingga tekanan darah bisa jadi lebih tinggi. Selain itu ada disregulasi neuroendokrin, yang menghubungkan antara kondis psikologi ke penyakit fisik, salah satunya adalah kanker.
๐๐ฒ๐๐ถ๐บ๐ฝ๐๐น๐ฎ๐ป
"Memendam emosi" ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko kematian.
Kemampuan untuk mengidentifikasi, memproses, dan mengekspresikan emosi, termasuk amarah, ternyata juga dapat berhubungan dengan kondisi fisik jangka panjang, termasuk risiko kematian.
Semoga bermanfaat!