Ngak sengaja ngelihat pemulung lg milih² sepatu sama anaknya,
"kamu cari yg bagus ya nak"
tapi setiap anaknya milih, selalu ada petugas yg nepis tangan si anak sampe sepatunya jatuh,
aku langsung tegur petugasnya:
"apa dia ga layak punya sepatu baru pak"
"ini masjid mas" jawabnya
Dan masih banyak yg bebal kaya "Tapi pajak di luar negeri jg tinggi" ya tp sarana prasarana mereka bagus??? Di Indonesia jg apa2 serba dipajakin dan jalanan bolong??? Ga usah ngelak, negara lain nyatanya lebih affordable untuk hidup dibanding di negara ini.
tapi lo pernah ga sih merasa jd agak rendah diri ketemu orang yg well-raised dan kayaknya tumbuh di keluarga yg bahagia….? soalnya pas gue bercanda agak dark tentang hidup gue mereka malah concern……
Fun grammar tip I learned as a kid and never forgot: if you don’t know whether to use me or I, take away the other person/people in the sentence and see if it makes sense. For example, in this case, “my friend and me went to an art gallery” becomes “me went to an art gallery” which is grammatically incorrect
tiap ada opini bodoh rasanya gue pgn ngomong "kyk ga sekolah/lu sekolah ga sih" but on the deeper level i feel like it's not entirely their fault since pendidikan di sini emg ga merata so i just sit back and
Sebagai orang yang sangat menghindari kegagalan, aku mau menjawab.
Gagal itu HARUSNYA normal tapi buatku berasa gak normal.
Sebenarnya yang lebih menakutkan dari gagal itu konsekuensinya. Harga dari kegagalan itu sayangnya lebih besar, bisa secara literal bisa juga tidak.
Misalnya, aku takut gagal keterima di universitas yang kuinginkan. Konsekuensinya adalah:
1. Aku ikut ujian mandiri lagi
2. Keluarin biaya pendaftaran/ujian mandiri lagi
3. Keluarin ongkos lainnya lagi
Sementara, kalau aku langsung berhasil biaya yang kukeluarkan lebih sedikit.
Begitu juga dengan cari kerja. Aku takut gagal gak keterima kerja. Soalnya kalo gagal, konsekuensinya:
1. Aku nganggur lebih lama
2. Aku hidup dengan makan biaya tabunganku atau bahkan bantu dibiayai orangtua
Semakin banyak kegagalan, semakin besar biayanya dan semakin sulit aku menutupi/mengganti biaya tersebut nantinya.
Makanya aku berusaha sebisa mungkin one shot berhasil.
I know this isn't ideal, gak begitu sehat juga. But some of us just....trying to minimize the cost.
Misalnya, aku ingin jadi Psikolog Klinis. Lulus S1 aku tapi gak bisa terlalu ideal, maunya kerja yang di jalur klinis aja. Aku ya melipir dulu jadi HRD baru kemudian S2 + profesi. Pokoknya kerja dulu daripada nggak kerja.
Sementara temenku lulus S1 dia bisa lebih ideal. Nyari magang yang lebih related dengan jalur klinis. Gak dibayarpun gak apa-apa. Kemudian S2 + profesi.
Pas ngobrolin ini dia juga cerita kok, dia gak merasa takut gagal, takut gak keterima kerja. Meanwhile aku dari sebelum lulus aja udah takut gagal keterima kerja.
Ya gapapa, memang jalur kami berbeda. Aku begitu lulus butuh uang. Gak bisa nunggu lama2. Sementara dia memang punya privilege untuk menunggu dan memilih2.
Jadi, menurutku gak takut gagal is such a huge privilege. Kadang gak cuma soal mindset tapi kondisi objektif juga ngaruh.
Sebagai orang yang selalu berusaha one shot berhasil, aku juga sangat mau bisa menanggapi kegagalan dengan biasa aja.
Kalian gimana?
Pengen minta maap ama squidward im so sorry i didnt get you back then 😭 terus gw baru sadar ikan2 di bikini bottom jahat2 bgt anj, gw baru sadar society pada baik cuma ke larry karena dia ketemu "beauty standard" nya fak lah
as someone who loves makeup, this is so true. notice gasih kalo pekerja perempuan mulai dr office worker sampe waiter dll mostly diharuskan pake makeup to look "formal". i hate how women with bareface are considered "unprofessional looking"