Father of a princess 👸🏽
Welcome to the family 🐼🧿
Also, I would like to explain why I wasnt able to be at yesterdays match. A very happy event happened in my life - my daughter was born 👸🏽
It was very important for me to be there for her birth and to support my wife during this special moment.
I sincerely hope for your understanding, and I would like to apologize to the fans for not being able to take part in the first match.
Now I am back with the team and fully focused on the game. We will work even harder so that we can come back stronger in the next match and show the level of performance you deserve.
Satu lagi aksi empatik dari Jude Bellingham.
Bellingham adl bintang yg juga merasakan debut di usia muda menunjukkan respek kpd Gilberto Mora, 17 thn, pemain termuda di Piala Dunia 2026.
Bellingham menyambut ajakan tukar jersey dr Mora dgn sangat antusias, memeluk dgn hangat, memberikan semangat, nggak pandang senioritas.
Mora sendiri adl salah satu properti muda paling hot di dunia saat ini. Kabarnya diminati Barcelona, Real Madrid, Arsenal, dan Man United.
after tsaritsa’s design was revealed i felt like something around her neck was missing, that maybe the fur should be bigger and fluffier… ONLY TO REMEMBER YELAN’S STOLE THE FUR COAT THAT WAS SUPPOSED TO BE HERS. THIS IS HILARIOUS AND PERFECT
Didn’t she like.. lose her son AND husband?
Isn’t the whole point of her character and the major narrative arc of Genshin that her tragedy made her forever rebel against the divine?
Isn’t that.. that whole point?
Maybe I’ve missed something.
She IS cold and she IS devoid of visual emotion because they took everything from her.
I have a feeling we’re going to see a LOT from her and show her unbridled anger
Transcendence Trailer - "Sudden Snow" | Genshin Impact
#GenshinImpact#GenshinSnezhnaya
Sleep well, sleep well, children of this world...
Fear neither the dark nor the deathly stillness,
For the divine has promised you unconditional love.
Awaken, awaken, O storm with neither root nor source!
If blessings are so generous, so selfless,
Then why has mercy never reached the winter?
COMPETITIVE KAELA ARC STARTS HERE?! waiting room is up, now i will pray🙏
#KaelAttention
🎮 Marvel Rivals Creator World Championship
⏰ 19.00 GMT+7
🔗 https://t.co/Z9O1HUjLBg
Bisnis Bareng Teman Tanpa Drama, Emang Bisa?
Jangan bisnis sama teman.
Itulah petuah paling sering aku dengar sejak pertama berbisnis belasan tahun lalu.
Lucunya, selama enam tahun terakhir, aku dengan sadar melanggarnya hampir setiap hari. Malahan bisnis ini yang paling sukses dibanding sebelumnya.
Hampir seluruh tim dan vendorku adalah temanku sendiri atau temannya temanku. Kami jarang buka rekrutmen formal seperti korporat pada umumnya.
Bahkan sesama Vtuber, Iben, pernah juga aku ajak di salah satu eventku. Karena, yang kami percaya cuma dua hal: track record dan portofolio.
Karena kasus yang ramai, aku jadi kepikiran, kenapa model ini bisa bertahan sementara banyak yang berakhir dengan drama dan kehilangan teman.
Setelah dipikir lagi, ternyata jawabannya sederhana. Industri kreatif dan event itu dari sananya memang berjalan dengan jaringan kepercayaan.
Hollywood dan industri film kita juga berjalan dengan cara yang sama. Hampir semua production house besar di dunia dimulai dari lingkaran pertemanan yang saling percaya.
Model rekrutmen formal yang pakai lowongan kerja dan interview panjang justru nggak umum di sini, karena lebih cocok untuk korporasi yang butuh standardisasi ketat.
Industri kita ini ritme kerjanya project based dan butuh orang yang bisa langsung nyambung dari pertama ketemu.
Tapi, kenapa sebagian besar orang yang mencoba bisnis bareng teman malah gagal?
Penyebab kegagalan mereka hampir selalu sama.
Mereka merekrut teman hanya karena faktor pertemanan. Ini perbedaan fundamental yang menentukan segalanya.
Filter pertama yang aku pakai selalu kompetensi. Bukan seberapa lama aku kenal mereka atau seberapa sering kami nongkrong bareng.
Kalau portofolionya tidak ada dan track record enggak jelas, ya sudah. Pertemanan kami tetap jalan tapi nggak untuk kerja bareng.
Banyak orang membalik logika ini. Mereka mulai dari status teman, lalu mencari alasan kenapa orang itu cocok untuk posisi yang dibutuhkan. Hal seperti itu yang biasanya bikin semuanya jadi runyam.
Sebagai Show Director dan EO yang sudah lama di industri ini, aku juga sadar kalau kerja yang sifatnya project based,secara natural punya batas yang jelas.
Begitu acara selesai, maka produksi juga selesai.
Kondisi bikin kita nggak bingung, kapan menentukan posisi sebagai teman, kapan berposisi sebagai rekan kerja. Karena, setiap proyek punya awal dan akhir yang jelas.
Faktor lain yang sering diremehkan adalah betapa kecilnya komunitas ini. Di lingkaran EO dan PH di Indonesia, banyak orang yang saling kenal. Ketika seseorang masuk ke dalam timku, dia mendapatkan tekanan sosial yang besar.
Mereka bukan cuma harus menjaga nama mereka di mataku, tapi juga di seluruh ekosistem. Sekali mengecewakan, maka sulit memperbaiki nama baik. Itulah realitas industri yang berbasis reputasi.
Namun ada satu hal paling susah yang sering jadi titik lemah dari hubungan kerja ini. Hal itu adalah kemampuan untuk tetap berbicara jujur dan keras waktu ada hal yang tidak beres.
Justru karena berteman, godaan untuk menghindari konfrontasi itu sangat besar. Orang cenderung pura-pura nggak lihat kalau ada sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi. Mereka lebih memilih menjaga hubungan personal daripada standar profesional.
Kebiasaan seperti itu yang pelan-pelan membunuh kerja sama tim. Yang berhasil adalah mereka yang bisa memisahkan dua dunia itu dengan sadar. Di luar pekerjaan kita adalah teman, tapi di dalam proyek kita profesional.
Kalau membuat kesalahan fatal, ya berhenti mempekerjakan orangnya, dan cari pengganti.
Memang, kedua belah pihak harus dewasa untuk mengerti perbedaan ini.
Jadi, kalau kamu sedang berpikir untuk mengajak teman masuk ke dalam proyek, pikirkan lagi. Apakah kamu merekrut dia karena kemampuannya atau karena sungkan untuk menolak?
Kalau jawabannya karena sungkan, mungkin petuah itu memang benar untuk kamu. Kalau jawabannya karena kemampuan, selamat datang di model kerja yang sudah berjalan lama jauh sebelum ada istilah startup culture.
Kemarin, tulisanku dituduh pakai AI.
Di saat yang hampir sama, ada gambar commis orang lain yang dituduh tracing secara sepihak di publik. Padahal dia cuma pakai referensi pose dan sama sekali nggak tracing.
Kita hidup di zaman saat mencurigai jauh lebih mudah daripada memverifikasi.
Mungkin, karena terlalu sering sakit hati, komunitas kita memakai logika keliru, bahwa lebih baik salah tuduh daripada kecolongan. Padahal itu logika yang berbahaya.
Aku nggak bilang kalau skeptis itu dilarang. Wajar saja kalau saat merasa ada yang janggal, lalu kita curiga.
Namun, sebelum menyebarkan tuduhan ke publik, ada yang namanya verifikasi kan?
Sayangnya, verifikasi itu nggak viral dan nggak menghasilkan engagement sebanyak tuduhan langsung. Kasus seperti ini membuat hatiku sesak karena aku bisa membayangkan rasanya.
Cobalah aktifkan empatimu, bayangkan dirimu sebagai pembuat tulisan atau gambarnya. Kamu sudah capek bikin karya, lalu tiba-tiba namamu disebar sebagai orang yang bersalah.
Akhirnya kamu harus membuktikan bahwa kamu bukan penjahat.
Itulah yang menyakitkan dari tuduhan publik yang terburu-buru. Posisinya langsung menyudutkamu. Kamu jadi harus membela diri, padahal tadinya cuma fokus berkarya.
Di dunia seni visual, menggunakan referensi pose itu standar dan sangat dianjurkan untuk belajar anatomi. Seniman profesional kelas dunia pun selalu memakainya.
Di dunia tulisan, skeptis terkait pemakaian AI memang sangat valid. Tapi jelas nggak membenarkan tindakan menuduh orang di publik, tanpa dasar yang kuat.
Tuduhan selalu menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.
Orang yang membaca dan engage dengan tuduhan biasanya nggak peduli pada post klarifikasi karena mereka udah lanjut scroll layar. Akibatnya, nama baik kreator yang dituduh akan tetap rusak di benak sebagian orang.
Itulah harga mahal yang harus dibayar oleh orang yang dituduh, bukan oleh sang penuduh.
Aku menulis ini karena komunitas kita nggak seharusnya membuat kreator takut berkarya. Kalau kita terus mempermudah tuduhan dan mempersulit klarifikasi, kita sedang memusuhi diri sendiri. Padahal kita berkumpul di sini karena cinta pada kreativitas.
Kalau respons kita hanya curiga dan langsung menyerang sebelum tahu kebenarannya, kita sedang merusak hal yang kita cintai. Ini adalah sebuah ironi yang sangat menyedihkan.
Jadi, sebelum kamu mengunggah tuduhan terbuka, tanyakan satu hal pada diri sendiri. Apakah kamu sudah cukup yakin untuk meminta orang lain ikut percaya? Kalau belum yakin, lebih baik verifikasi dahulu.
Kalau ternyata kamu salah, hanya waktumu yang terbuang. Tapi kalau terlanjur menuduh dan ternyata salah, kamu sudah menghancurkan reputasi dan perasaan orang lain, yang kemudian bisa berujung pada reputasimu sendiri juga.
Komunitas yang baik adalah komunitas yang cukup sabar dan nggak langsung main hakim sendiri. Semoga kita bisa menjadi komunitas yang seperti itu.