Guys, ada kasus yang menurut gua adalah salah satu yang paling kompleks dan paling mind blowing yang sedang berjalan di pengadilan Indonesia saat ini.
Pembunuhan satu keluarga di Indramayu. Lima korban. Dan proses persidangannya sekarang dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Mulai dari fakta yang sudah terkonfirmasi dulu.
Satu keluarga ditemukan tewas di rumah mereka di Paoman Indramayu.
Korban termasuk Haji Sahroni bukan Sahroni politisi beserta anggota keluarganya.
Awalnya korban yang ditemukan hanya satu orang di sore hari.
Tapi ketika keluarga besar korban memantau media sosial terus di malam hari jumlah korban bertambah menjadi lima orang.
Lima nyawa hilang dalam satu kejadian.
Dua orang sudah ditetapkan sebagai terdakwa Ririn dan Prio.
Keduanya sudah disidang dan proses persidangannya sudah berjalan dengan bukti-bukti yang dihadirkan jaksa.
Soal yang membuat kasus ini viral dan diperdebatkan luas di media sosial terdakwa Ririn membantah keras bahwa dia adalah pelaku utama pembunuhan.
Menurut versi yang disampaikan terdakwa di luar persidangan dan dikonfirmasi juga di dalam sidang pelaku pembunuhan yang sebenarnya adalah empat orang lain yang namanya disebutkan secara spesifik yaitu Joko Ahmad Yani Hardi dan Yoga.
Mereka yang disebutkan sebagai orang yang benar-benar mengeksekusi pembunuhan itu sementara Ririn dan Prio diklaim hanya ada di lokasi atau mengetahui kejadian tapi bukan pelaku utama.
Dan di sinilah logika yang diajukan Denny Sumargo menjadi sangat relevan dan sangat penting untuk dipahami.
Kalau memang benar pelaku sesungguhnya adalah Joko Ahmad Yani Hardi dan Yoga dan terdakwa sendiri yang menyebutkan nama-nama itu maka pertanyaannya sangat sederhana.
Terdakwa kenal mereka.
Tahu namanya.
Berarti tahu identitasnya.
Berarti bisa menunjukkan kepada polisi siapa mereka alamatnya di mana dan bagaimana cara menemukannya.
Kenapa sampai sekarang keempat orang yang disebut sebagai pelaku utama itu belum ditangkap?
Kalau memang mereka nyata dan bisa diidentifikasi itu seharusnya bukan pekerjaan yang sulit untuk kepolisian Indonesia di era CCTV dan digital forensic seperti sekarang.
Ada satu detail yang membuat kasus ini makin mengkhawatirkan dari sisi sistem hukum.
Sebelum Ririn dan Prio ditangkap ada orang lain yang hampir dijadikan tersangka namanya Evan.
Evan adalah mantan karyawan Budi Awaludin yang merupakan anak dari Haji Sahroni korban pembunuhan.
Evan hampir dijadikan kambing hitam oleh pelaku pembunuhan.
Bahkan selama seminggu Evan tidak bisa keluar dari kantor polisi dan asumsi publik saat itu sudah mengarah padanya sebagai pelaku.
Artinya pelaku pembunuhan ini sudah terbukti sangat pandai merekayasa situasi dan menciptakan alibi.
Berhasil mengarahkan kecurigaan ke orang yang tidak bersalah dengan sangat meyakinkan.
Evan hampir menjadi korban sistem yang dimanipulasi.
Soal bukti yang dihadirkan di persidangan yang menurut ibu korban sangat kuat.
Ada rekaman CCTV dari tetangga korban yang menangkap terdakwa bolak-balik di sekitar rumah korban di hari Jumat dan Sabtu membeli kopi dan rokok di warung Madura terdekat.
Ada bukti penggunaan KTP terdakwa untuk mengambil dana dari rekening bank milik korban setelah kejadian.
Dan yang paling mengindikasikan keterlibatan adalah data dari HP milik Budi Awaludin yang digunakan untuk mengirim pesan ke saksi-saksi terkait gadai mobil setelah korban meninggal.
Ibu dari keluarga korban yang hadir di persidangan menyatakan yakin sepenuhnya bahwa terdakwa adalah pelakunya berdasarkan fakta-fakta persidangan yang dia saksikan langsung.
Bukan berdasarkan gosip atau asumsi tapi berdasarkan bukti yang dihadirkan di depan hakim.
Soal narasi yang berkembang di media sosial yang perlu dicermati dengan sangat hati-hati.
Setelah persidangan berjalan muncul narasi yang sangat masif di media sosial bahwa terdakwa bukan pelaku sebenarnya bahwa terdakwa disiksa oleh penyidik dan bahwa ada pelaku yang lebih besar yang sengaja dilindungi dan tidak disentuh hukum.
Denny Sumargo mempertanyakan narasi ini dengan sangat teliti. Semua pernyataan itu disampaikan di luar persidangan bukan di dalam sidang.
Yang diuji secara hukum adalah apa yang disampaikan di dalam sidang di hadapan hakim jaksa dan pengacara.
Narasi di media sosial dan podcast bisa siapapun sampaikan dengan versi apapun tapi yang memiliki kekuatan hukum hanyalah yang terjadi di dalam ruang persidangan.
Dan soal kaki yang diklaim dipatahkan oleh penyidik terdakwa yang melarikan diri dan ditembak untuk dihentikan larinya bukan hal yang tidak lazim dalam prosedur penangkapan.
Itu bukan bukti penganiayaan sistematis oleh penyidik.
Tapi ada satu pertanyaan yang menurut gua tetap harus dijawab oleh polisi secara transparan dan tidak bisa diabaikan begitu saja.
Kalau empat nama yang disebut terdakwa itu adalah fiktif maka seharusnya tidak sulit untuk polisi membuktikan bahwa mereka tidak ada dan menutup spekulasi publik.
Tapi kalau empat nama itu nyata dan bisa diverifikasi maka pertanyaan kenapa mereka belum dicari dan belum ditangkap adalah pertanyaan yang sangat sah dan harus dijawab secara konkret.
kasus ini sedang berjalan di pengadilan dan prinsip yang paling fundamental dalam sistem hukum adalah asas praduga tidak bersalah.
Terdakwa belum tentu bersalah sebelum ada putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. Itu harus dipegang.
Tapi di sisi lain keluarga lima orang yang kehilangan nyawa juga berhak mendapat keadilan yang tuntas dan transparan.
Dan keadilan yang tuntas berarti semua yang terlibat baik yang sudah ditangkap maupun yang disebut dalam persidangan sebagai pihak lain harus ditelusuri dengan sungguh-sungguh sampai kebenaran yang sesungguhnya terungkap di depan hakim.
Bukan di media sosial bukan di podcast bukan di kolom komentar YouTube.
Tapi di ruang sidang yang terbuka untuk publik dengan bukti yang bisa diuji dan hakim yang memutus secara independen.
BEM BONGKAR TERDUGA PELAKU CHAT MESUM FHUI PUNYA BACKING.
Ketua BEM Fakultas Hukum UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo bersama Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra menggelar jumpa pers, Selasa (14/4).
Fatimah menyebut sebuah ironi bahwa kasus chat mesum dilakukan oleh mahasiswa hukum yang seharusnya paling sadar hukum.
~sumber: liputan6~
Terkait kasus rame2 d grup wa.
Hikmah yang diambil, tolong Biasakan jangan bercandaan mesum, karena bercandaan tersebut akan menjadi kebiasaan yg dibawa terus menerus sampe dewasa.
Kalo ngacengan itu dikontrol.
Bukan ngacengan sak nggon2.
Otak kok isine kenta kentu
Selalu hampa.
Selalu menggema.
Aku lagi dan lagi mencerna di setiap detiknya, untuk memahami situasi.
Mencerna keadaan hingga aku dapat kabar kamu sudah sampai rumah dengan selamat di Bintulu.
Lalu, aku mencerna bahwa aku perlu kembali ke setelan awal, serba usaha mandiri.
Sekuat apapun aku berusaha, aku tetap menangis.
Aku hanya manusia yang berusaha.
Satu pintaku, ya Allah.
Jaga suamiku.
Pastikan setiap flight, perjalanan dan kegiatannya, beliau aman. Selamat sampai tujuan.
@airasia Hello, AirAsia team.
My husband’s flight on April 4 from Soekarno-Hatta to Kuching has been rescheduled from 07:35 to 10:05.
But, every time he checked in, the departure time still shows 07:35, even the reschedule has already been confirmed.
Could you please explain?
@airasia_indo Hallo, kaak.
Penerbangan suami saya untuk tgl 4 april dari soekarno hatta ke kuching direschedule dari jam 07.35 ke jam 10.05.
Setiap suami kami check in, jam penerbangan masih jam 07.35 padahal sudah konfirmasi.
Kenapa ya, kak?
Kau tau rasanya kurang tidur tapi harus kondisi sadar 1000% memperhatikan anak-anak?
Bahkan, harus lebih dari 'sadar'. Memastikan tidak ada kesalahan sekecil apapun yang terjadi dari kegiatan baru yang kau buat.
Karena apa?
It's all on you!
Takut.
Rasa takut selalu hadir di saat aku ragu dengan diriku.
Entah sejak kapan, aku mulai lemah.
Entah faktor umur.
Entah faktor luka yang semakin banyak.
Padahal, my life is so much gettin' better.
Pada akhirnya kita akan berdamai dengan apapun.
Satu-satunya yang menenangkan diri hanya menghapus segala ekspektasi dan segala pertimbangan eksternal untuk melakukan sesuatu.
Presiden tidak permah mau copot kapolri
Kapolri pun tidak pernah mau mundur setelah banyak nyawa melayang di masa kepemimpinan dia
Lalu mereka mengatakan hal yang sama "AKAN USUT TUNTAS" ?
Dulu di seberang sana angin yang salah, kini apakah aspal yang akan menjadi salah ?
DPR DAN PEMERINTAH STOP SEOLAH OLAH JADI PAHLAWAN !
SEMUA INI BERMULA KARENA KALIAN GAK PUNYA HATI NURANI DAN TERUS MENERUS SEPELEKAN RAKYAT. DEMO KEMARIN DAN SEBELUM SEBELUMNYA ITU DITUJUKAN KEPADA KALIAN.