Guys gw mau jujur soal sesuatu.
Prabowo bilang dia bangun jam 2 atau jam 3 pagi buat pantau YouTube dan update berita global.
Dan gw mau bilang sesuatu yang mungkin tidak enak didengar.
Gw juga bisa bangun jam 3 pagi dan buka YouTube.
Bukan hal yang istimewa. Siapapun bisa melakukan itu.
Yang istimewa adalah setelah lu baca semua berita itu apa yang lu lakukan?
Karena kalau jawabannya cuma 'saya pantau' — itu bukan kelebihan seorang presiden. Itu kebiasaan orang yang insomnia.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi harga bahan pokok masih mencekik rakyatnya sama saja dengan tidak bangun.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi aktivis yang disiram air keras oleh intelijen militernya sendiri belum ada yang diadili sama saja dengan tidak bangun.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi 700 triliun investasi mangkrak karena izin tidak selesai-selesai sama saja dengan tidak bangun.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi kelas menengah terus menyusut sama saja dengan tidak bangun.
Satu setengah tahun menjabat. Dan yang bisa diklaim dengan data konkret masih terlalu sedikit dibanding besarnya masalah yang ada.
Gw tidak bilang tidak ada yang dikerjakan. Ada jembatan yang dibangun. Ada pupuk yang disederhanakan regulasinya. Ada efisiensi Rp308 triliun yang diklaim.
Tapi rakyat tidak butuh presiden yang impressive di depan kamera forum diskusi.
Rakyat butuh presiden yang kebijakannya terasa sebelum gajian habis di tengah bulan.
Bangun jam 3 pagi itu mudah.
Yang susah adalah memastikan bahwa semua yang lu baca jam 3 pagi itu berujung pada keputusan yang mengubah sesuatu di kehidupan nyata orang-orang yang bangun jam 4 pagi bukan untuk pantau YouTube tapi karena harus kerja shift pagi dengan upah minimum yang tidak cukup untuk bayar kontrakan.
Kalau pantau doang gw juga bisa Pak.
Salah satu ciri orang yang mentalnya sehat adalah dia pasti pilih-pilih teman. Bukan karena merasa lebih tinggi, bukan juga karena sombong. Tapi karena dia paham, nggak semua orang cocok ada di lingkaran terdekat hidupnya.
Semakin dewasa, seseorang biasanya makin sadar kalau energi itu terbatas. Nggak semua obrolan perlu diikuti, nggak semua ajakan harus disanggupi, dan nggak semua orang harus diberi akses penuh ke hidup kita. Ada yang cukup jadi kenalan, ada yang cukup sebatas rekan kerja, dan ada yang memang layak jadi teman dekat.
INNALILLAHI..... Telah dibunuh dengan keji bapak H. Ermanto Usman SETELAH tampil di podcast Bongkar NAMA-NAMA BESAR KASUS KORUPSI JICT (Jakarta International Container Terminal)
https://t.co/NtfH0YPz7A
Dulu waktu kecil gua ngira kalo mau kaya itu harus kerja keras dan rajin menabung
Ternyata pas udah gede baru sadar kalo mau kaya itu harus jadi anak orang kaya
Gua sih seneng kalau orang-orang merasa nyaman buat bercanda sama gua. Tapi, gua harap 'rasa nyaman' itu gak dijadiin alasan buat bersikap seenak jidat, lupa sama batasan.
Kita bukan “introvert”, kita cuma “selektif dalam bersosialisasi”.
Kita bisa jadi orang paling rame dan berisik dengan teman yang tepat, tapi bisa juga jadi seperti patung lilin saat bersama orang yang vibenya nggak nyambung.
Silent struggle itu nyata.
Kalau ada teman tiba-tiba menjauh, jangan buru-buru dibilang sombong. Bisa jadi mereka lagi berjuang diam-diam. Cukup sesekali sapa atau kirim candaan kecil, biar mereka tahu mereka nggak sendirian.
coba deh lu perhatiin, entah di tempat kerja, di tongkrongan, di sekolah, atau dimanapun, orang yang baik sering kesepian, orang yang toxic punya banyak temen. percaya ga? klo gua sih percaya.
Menurut psikologi, anak yang tumbuh di lingkungan dengan orang tua yang mudah marah sering belajar hidup dalam mode “siaga”. Mereka terbiasa membaca situasi, menebak-nebak suasana hati, dan berusaha tidak membuat kesalahan sekecil apa pun. Bukan karena mereka perfeksionis sejak lahir, tapi karena dulu kesalahan kecil saja bisa berujung pada kemarahan besar.
Akibatnya, saat sudah dewasa pun pola itu sering masih terbawa. Mereka jadi orang yang sangat berhati-hati, mudah merasa bersalah, dan sering overthinking sebelum bertindak. Bahkan ketika tidak ada lagi yang memarahi, tubuh dan pikirannya masih menyimpan memori lama: takut mengecewakan, takut disalahkan, takut dianggap tidak cukup baik.